4 Jenis Parenting Style (Pola Asuh) dan Efeknya Pada Anak

By IndoPositive - 4:00:00 PM


Psikologi perkembangan telah menghasilkan beragam penelitian terkait pentingnya pola asuh. Saat penelitian topik tersebut semakin rutin dikaji, sudah sepantasnya kita mencoba untuk mempelajari sedikit demi sedikit. Pola asuh menjadi satu hal yang dapat kita pelajari bersama, sesuatu yang mungkin pernah kita alami atau juga akan kita jalankan. 

Pernahkah teman-teman penasaran dengan gaya pola asuh dan kepribadian seseorang yang terbentuk? Jika diamati secara jeli, kita dapat berasumsi bahwa pengaruh pola asuh itu memberi peran yang sangat besar. Gaya pola asuh kita dapat memengaruhi segalanya, mulai dari berapa berat anak hingga bagaimana perasaannya tentang diri kita sendiri. Sangat penting untuk memastikan gaya pola asuh untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang sehat. Bila sedari tadi kita lebih banyak berasumsi, mari kita belajar dari salah satu penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2018 kemarin. 

Melalui penelitian yang berjudul Parenting Styles and Parent-Adolescent Relationships: The Mediating Roles of Behavioral Autonomy and Parental Authority dijelaskan bahwa terdapat empat jenis gaya pola asuh:
  • Authoritarian
  • Authoritative
  • Permissive
  • Uninvolved

Setiap gaya mengambil pendekatan berbeda dalam membesarkan anak-anak, dan dapat diidentifikasi dengan sejumlah karakteristik yang berbeda pula.

1. Authoritarian Parenting

Anda percaya bila anak-anak mesti diawasi dan tak perlu didengarkan.
Aturan yang anda buat adalah satu-satunya yang harus diterima.
Anda tidak mempertimbangkan perasaan anak.

Jika salah satu dari ketiga pernyataan itu sesuai dengan diri anda, kemungkinan anda menggunakan pendekatan Authoritarian. Orangtua yang menggunakan pendekatan ini kerap kali mengatakan, "Saya sudah bilang harus seperti itu!" Ketika seorang anak mempertanyakan sebuah aturan, orangtua seperti ini selalu menolak dan tak ingin ada negosiasi. Mereka hanya mencari kepatuhan. 

Mereka juga tidak memberi izin pada anak-anak untuk terlibat dalam tantangan atau hambatan dari sebuah pemecahan masalah yang terjadi. Sebaliknya, mereka membuat aturan dan menegakkan konsekuensinya dengan sedikit atau sama sekali tidak memperhatikan pendapat anak. 

Orang tua dengan gaya ini kerap menggunakan hukuman. Jadi, alih-alih mengajari seorang anak cara membuat pilihan yang lebih baik, mereka malah berharap anak-anak merasa bersalah dan meminta maaf atas kesalahannya.  

Hasilnya

Anak-anak yang menerima gaya ini akan cenderung mengikuti peraturan setiap saat. Tapi, kepatuhan mereka harus dibayar dan bukan hal yang datang dari dalam dirinya. Mereka akan mudah merasa terganggu terkait dengan harga diri, terlebih jika pendapat mereka tidak dihargai. Mereka dapat menjadi agresif dan mudah bermusuhan dengan orang lain. Dibanding memikirkan hal-hal baik di masa depan, mereka sering fokus pada kemarahan yang dirasakan pada orang tua mereka. Karena orangtua gaya ini ketat, anak-anak mereka dapat tumbuh menjadi pembohong yang baik guna menghindari berbagai hukuman yang ada. 



2. Authoritative Parenting

Anda berusaha keras untuk menciptakan dan mempertahankan hubungan positif dengan anak Anda.
Anda menjelaskan alasan di balik aturan Anda.
Anda menegakkan aturan dan memberikan konsekuensi, tetapi mempertimbangkan perasaan anak Anda.

Jika pernyataan itu terasa seperti yang anda lakukan, anda mungkin orangtua dengan gaya yang seperti ini. Orangtua yang berwenang memiliki aturan dan menggunakan konsekuensi, tapi juga mempertimbangkan pendapat anak-anak mereka. Mereka berusaha memahami perasaan anak, tapi pada akhirnya menjelaskan bila orang dewasalah yang bertanggung jawab.

Orangtua berusaha menjaga waktu dan energi demi mencegah masalah perilaku buruk sebelum mereka terjadi. Mereka menggunakan strategi yang ketat untuk memperkuat perilaku yang baik, seperti pujian dan memberi hadiah.


Hasilnya 

Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan gaya ini, kemungkinan besar akan menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab yang merasa nyaman mengekspresikan pendapat mereka. Anak-anak pun cenderung bahagia dan sukses. Mereka juga lebih cenderung pandai membuat keputusan dan mengevaluasi risiko keselamatan sendiri.

3. Permissive

Anda menetapkan aturan tetapi jarang menegakkannya.
Anda tidak sering memberi konsekuensi.
Anda pikir anak Anda akan belajar lebih baik dengan sedikit gangguan dari Anda.

Bila pernyataan ini sering anda lakukan atau rasakan, kemungkinan anda menggunakan pendekatan gaya Permissive. Orangtua yang permisif bersikap lunak. Mereka hanya melangkah ketika ada masalah serius. Mereka cukup pemaaf dan percaya bila "anak-anak tetaplah anak-anak" 

Orangtua yang permisif biasanya mengambil lebih banyak peran sebagai teman daripada peran orangtua. Mereka sering mendorong anak-anak mereka untuk berbicara dengan mereka terkait masalah mereka, tetapi mereka biasanya tidak berupaya keras untuk mengecilkan pilihan yang buruk atau perilaku buruk.

Hasilnya

Anak-anak yang tumbuh dengan orang tua permisif lebih cenderung berjuang secara akademis. Mereka sering mengalami masalah lantaran tidak terbiasa dengan aturan. Mereka mengabaikan masalah harga diri dan dengan mudah menemukan banyak kesedihan.

Mereka juga berisiko lebih tinggi untuk masalah kesehatan, seperti obesitas, karena orangtua yang permisif biasanya berusaha keras melarang anaknya menikmati makanan cepat saja. Bahkan anak-anak mereka cenderung memiliki gigi berlubang lantaran orang tua tak bisa tegas dalam memastikan anaknya untuk sikat  gigi.



4. Uninvolved Parenting

Anda tidak bertanya kepada anak Anda tentang sekolah atau pekerjaan rumah.
Anda jarang tahu di mana anak Anda atau dengan siapa dia.
Anda tidak menghabiskan banyak waktu dengan anak Anda.


Bila pernyataan di atas sesuai dengan anda, mungkin anda menggunakan gaya Uninvolved Parenting. Orangtua dengan gaya seperti ini cenderung memiliki sedikit informasi tentang apa yang dilakukan anak-anak mereka. Anak-anak mungkin tidak menerima banyak bimbingan, pengasuhan, dan perhatian orang tua. Orang tua dengan gaya ini, mengharapkan anak-anaknya untuk membesarkan diri mereka sendiri. Mereka tidak mencurahkan banyak waktu atau energi untuk memenuhi kebutuhan dasar anak-anak. 

Mereka mungkin lalai tetapi tidak selalu disengaja. Terlebih lagi orangtua dengan masalah kesehatan mental atau masalah penyalahgunaan zat, misalnya, mungkin tak dapat merawat kebutuhan fisik atau emosional anak secara konsisten. Di lain waktu, orangtua seperti ini kekurangan informasi terkait  perkembangan anak. Dan kadang-kadang, mereka hanya kewalahan dengan masalah lain, seperti bekerja, membayar tagihan, dan mengelola urusan rumah tangga.


Hasilnya

Anak-anak dengan gaya pola asuh seperti ini cenderung bermasalah dengan masalah harga diri. Mereka cenderung berkinerja buruk di sekolah. Mereka juga sering menjadi pemicu masalah dan kurang bahagia.


Nah, kira-kira pola asuh seperti apa yang pernah kamu alami dan apa yang akan kamu terapkan bila kelak teman-teman menjadi ayah atau ibu. 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar