Apakah Midlife Crisis Benar-Benar Ada?

By IndoPositive - 3:36:00 PM



Bila teman-teman kerap kali mendengar perihal Quarter Life Crisis, kali kita akan membahas tingkatan lain dari hal tersebut. Setelah melewati Quarter Life Crisis, kita akan menghadapi tahapan selanjutnya, salah satunya Midlife Crisis.


Sebenarnya, tak semua orang mengalami masalah tersebut. Faktanya, Midlife Crisis bukan menjadi masalah bagi sebagian orang di beberapa negara. Beberapa peneliti bahkan mengira jika gagasan tersebut merupakan konstruksi sosial. Munculnya keyakinan bahwa seseorang akan mengalami semacam krisis di usia 40-an membuat beberapa orang kemudian percaya.

Namun, gejala yang dialami orang-orang saat mengalami masalah tersebut tak boleh dihiraukan begitu saja. Sebuah survei nasional Midlife di Amerika Serikat melakukan jejak pendapat untuk mengetahui berapa orang yang mengalami Midlife Crisis. Sekitar 26 persen dari peserta tersebut mengakui mengalami hal tersebut. Ditambah lagi, sebagian besar mengaku krisis tersebut sebelum usia 40 atau setelah 50 tahun. Ini membuat peneliti kemudian bertanya-tanya bahwa apakah krisis ini terkait dengan usia paruh baya, lantaran usia paruh baya biasanya ada pada rentang usia 45 tahun. 

Satu dari empat orang yang mengaku mengalami krisis tersebut, sebagian besar mengaku hal itu terjadi diakibatkan karena hadirnya sebuah peristiwa besar, bukan dipengaruhi oleh usia. Faktor-faktor yang memicu krisis tersebut terjadi akibat perubahan kehidupan seperti perceraian, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang dicintai, atau perpindahan tempat tinggal.

“Midlife crisis” bukanlah diagnosa resmi, sehingg konsep tersebut masih sulit untuk dipelajari dan dipahami. Sebagian besar penelitian tergantung pada jawaban individu atas pertanyaan tentang apakah mereka pernah mengalami Midlife Crisis. Tentu saja, apa yang seseorang definisikan sebagai krisis mungkin tidak konsisten dengan apa yang orang lain anggap sebagai Midlife Crisis.


Beberapa temuan membuktikan bahwa Midlife Crisis memunculkan ketakutan akan kematian atau keinginan untuk menjadi muda lagi, emosi yang dialami selama masa tersebut tidak jauh berbeda dari kondisi krisis pada tahap sebelumnya. 

American Psychological Association mengatakan krisis emosional terbukti dari “perubahan perilaku yang jelas dan tiba-tiba.” 

Contoh-contoh perubahan perilaku dapat mencakup:

Mengabaikan kebersihan diri
Perubahan dramatis dengan kebiasaan tidur
Penurunan atau kenaikan berat badan
Perubahan mood, seperti peningkatan amarah, lekas marah, sedih, atau cemas.
Menghindari rutinitas atau hubungan seperti biasanya.

Bagi banyak orang, usia paruh baya adalah masa ketika hubungan dan peran berubah. Beberapa orang mungkin perlu mulai merawat orangtua yang berusia lanjut selama usia paruh baya. Yang lain mungkin menjadi hidup sendiri — atau mereka mungkin merasa masa remaja mereka berlalu terlalu cepat. Bagi beberapa orang, usia paruh baya mungkin menjadi masa penyesalan. Beberapa orang mungkin menyesal tak memilih jalur karir yang berbeda atau tidak menciptakan kehidupan yang pernah mereka impikan. Proses penuaan juga menjadi lebih jelas dari sebelumnya. Beberapa orang mungkin mengidap suatu penyakit sementara yang lain mungkin mulai melihat penurunan kemampuan fisik mereka.


Bagi beberapa orang, usia paruh baya mungkin menjadi masa refleksi yang luar biasa. Melihat ke belakang dan belajar dari usia yang telah dilewati selama puluhan tahun. Kita mulai mempertanyakan seperti apa kehidupan kita jika mengambil jalan yang berbeda. Orang lain mungkin merenungkan hari-hari yang lebih bahagia dalam hidup mereka.

Bagi mereka yang berorientasi pada sebuah tujuan, mungkin hanya ada lebih sedikit refleksi dan lebih banyak tindakan. Daripada melihat ke belakang pada tahun-tahun yang telah berlalu, mereka mungkin mulai untuk kembali berusaha mencapai tujuan yang lebih besar di paruh kedua kehidupan mereka. Bagaimanapun, proses atau tahapan yang kita hadapi, wajib kita jalani dengan sebaik-sebaiknya dan semoga kita berhasil melaluinya. 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar