Mengapa Kita Kehilangan Empati? - IndoPositive

Breaking

Monday, December 24, 2018

Mengapa Kita Kehilangan Empati?



INDOPOSITIVE.org—Sebuah penjajakan yang diterbitkan oleh Dart Center for Journalism & Trauma menjelaskan bagaimana dekontekstualisasi kisah-kisah tragedi dan penderitaan di berbagai media dapat menyebabkan kelelahan publik sehingga membuat mereka menolak untuk menolong orang yang menderita.

Penelitian Jennifer Day & Anderson Ruth yang berjudul Compassion Fatigue: An Application of the Concept to Informal Caregivers of Family Members with Dementiamenunjukkan aspek yang melibatkan empati seperti welas asih mengalami penurunan seiring waktu pada sejumlah perawat yang mengasuh pengidap dimensia. Hal sama juga ditemukan oleh peneliti lain pada beberapa profesi sosial yang secara persisten melibatkan empati dalam pekerjaan. Profesi seperti pengacara, relawan bencana, terapis, dokter, psikolog, guru, bahkan aktivis.  

Berkurangnya welas asih pada satu profesi sosial, sesungguhnya terhubung dengan satu jenis empati yang menyebabkan tekanan mental, para peneliti sering menyebutnya ‘distress empati’. Kita mungkin berharap bahwa empati akan selalu diikuti oleh tindakan menolong. Tapi tekanan mental yang turut muncul sebagai bagian dari empati, tentu sama melelahkannya dengan tekanan mental yang disebabkan oleh perasaan lain.

Yoni K. Ashar, seorang peneliti salah satu Universitas di Colorado di tahun 2017 mencari tahu bagaimana otak manusia bereaksi saat mengalami empati. Penelitian ini dilaporkan dalam Emphatic Care & Distress: Predicitive Brain Marker & Dissociable Brain Systems.

Dalam penelitiannya, Ashar menemukan bahwa otak manusia akan bereaksi terhadap dua jenis empati. Jenis pertama terhubung dengan kepedulian, ini yang menggerakkan perilaku menolong.  Sementara jenis kedua inilah yang memberi tekanan pada mental, jenis empati yang membuat manusia menghindari perilaku menolong.

Ashar bersama sejumlah rekannya dalam penelitian, mengumpulkan data dengan menguji pola relatif partisipannya terhadap beberapa perasaan seperti kesedihan, ketakutan, jijik, kemarahan, kebahagiaan, kejutan, valensi positif, dan valensi negatif.

Selama pengujian, dilakukan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI), di saat yang sama para partisipan dua kali diminta mendengarkan biografi yang  menggambarkan berbagai penderitaan manusia. Konten biografi menggambarkan anak-anak yang lahir dengan penyakit bawaan, orang dewasa yang berjuang dengan kanker, pengalaman tunawisma, dan kesulitan lainnya.

Setiap partisipan kemudian diminta untuk menilai perasaannya. Apakah tergerak untuk menolong atau justru merasa tertekan. Berdasarkan pernyataan partisipan, para peneliti akan mengecek hasil pengujian kemudian mengembangkan pola aktivitas otak partisipan.

Hasilnya, ditemukan bahwa tekanan mental seringkali meningkat pada pertengahan biografi yang partisipan dengar, sementara kepedulian meningkat setiap biografi akan berakhir. Ini dapat jadi gambaran bahwa tekanan mental dan kepedulian yang disebabkan oleh empati mungkin tidak bekerja secara terpisah melainkan sebagai rangkaian.

Pada penelitian Ashar rasa lelah yang diakibatkan oleh tekanan empatik mungkin tidak menguras terlalu banyak energi, karena hanya dilakukan beberapa menit dan dengan intensi yang kecil. Namun bisa dibayangkan bagaimana jika itu dialami secara persisten oleh seseorang dalam durasi dan intensi yang besar seperti pada profesi sosial macam wartawan, pengacara, petugas kesehatan, relawan bencana, psikolog, atau aktivis.

Yang membedakan antara penelitian Ashar dengan Jennifer dan Anderson adalah situasi dasarnya. Penelitian Ashar dilakukan dalam situasi rekaan, sebuah ilustrasi kejadian. Sementara Jennifer & Anderson melibatkan partisipan yang merasakan kenyataan sebagai pemicu empati bertahun-tahun.

Namun kedua penelitian ini pada akhirnya terhubung. Ashar menjelaskan rangkaian reaksi empati yang dipicu oleh informasi tragis dalam satu lintasan waktu saja. Sementara Jennifer & Anderson menjelaskan apa yang akan terjadi jika seseorang terus berhadapan dengan empati secara repetitif dan terus-terusan memorsir energi untuk memenuhi desakan empatiknya.

Post a Comment
loading...