Header Ads

Mengapa Kita Lebih Bijak Pada Masalah Orang Lain Dibanding Masalah Pribadi?

INDOPOSITIVE.org  Apakah kita cukup bijaksana atau tidak? Sulit menjawab pertanyaan itu. Namun, ada kemungkinan anda akan merasa jauh lebih bijaksana dibandingkan orang lain. Mengapa demikian? Sebelum kita menguraikan pertanyaan tadi, pernahkah anda mendengar kisah tentang Raja Sulaiman, pemimpin ketiga kerajaan Yahudi? Ia terkenal sebagai sosok suri teladan, arif dan bijak dalam mengambil keputusan. Selama ia menjabat sebagai raja, ada banyak orang yang berasal dari tempat yang jauh, datang mengunjunginya untuk mendengarkan nasihat dari sang raja. Namun hal yang jarang diketahui oleh orang banyak adalah kehidupan pribadinya. Bahwa kehidupan pribadinya dipenuhi dengan banyak masalah.

  
Ia memiliki ratusan istri dan selir, menyukai dan membanggakan kekayaannya. Anak-anaknya tidak diperhatikan hingga tumbuh menjadi orang-orang yang kejam. Hingga semua hal tersebut membawanya pada kematian yang sengsara. Mari kita sejenak beranjak dari Raja Sulaiman. Sebab sebenarnya, apa yang dialami oleh Raja Sulaiman pun sering atau akan kita alami. Jika kita mampu jujur pada diri kita masing-masing, kita seringkali merasa pandai mengatasi masalah orang lain dibandingkan dengan mengurusi atau menyelesaikan masalah kita sendiri. Perilaku itu umum terjadi, dan disebut dengan istilah “The Solomon Paradox” 

Mengapa kita lebih pandai mengatasi masalah orang lain dibandingkan dengan masalah pribadi kita? Pertanyaan ini menjadi titik tolak seorang Igor Grossman dalam memulai penelitiannya tentang kebijaksanaan. Igor melakukan penelitian eksperimen dengan menguji para peserta penelitian yang dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama diminta untuk mengatasi masalahnya pribadi dan kelompok kedua mengatasi masalah orang lain. Pada penelitiannya, Igor telah merancang sebuah kasus atau konflik yang menuntut kebijaksanaan seseorang. 


Pada penelitian sebelumnya, Igor telah mendefinisikan kelompok tersebut sebagai kelompok distance dan kelompok immersed. Sebelumnya, kita patut memahami apa yang disebut dengan
 self-distance dan self-immersed. Secara sederhana, self-distance adalah posisi atau situasi di mana individu mampu melihat kondisinya dengan sudut pandang orang lain atau berjarak dengan dirinya sendiri. Sedang self-immersed adalah posisi di mana ia benar-benar mengalami situasi tersebut.   

Dalam salah satu penelitiannya yang berjudul,
 Exploring Solomon’s Paradox: Self-Distancing Eliminates the Self-Other Asymmetry in Wise Reasoning About Close Relationships in Younger and Older Adults, Igor kembali menegaskan terkait dengan temuannya tentang kebijaksanaan dengan menggunakan self-distance. Setelah melakukan percobaan pada 693 partisipan pada penelitian itu, Igor menjelaskan bahwa The Solomon Paradox benar-benar bekerja di sekitar kita. Selain itu, pada penelitian ini terdapat kelompok remaja dan dewasa yang hendak dibandingkan kebijaksanaannya. Ternyata, menurut temuan Igor, tidak ada perbedaan kebijaksaan antara remaja dan dewasa dalam masalah pribadi. Dan hasil dari sejumlah penelitian Igor memberikan kita kesempatan untuk belajar lebih bijaksana. 

Berdasarkan penelitian-penelitian Igor, self-distance akan membantu kita dalam melihat sebuah masalah dengan lebih jernih. Salah satu hal yang seringkali mengganggu proses berpikir kita dalam memecahkan masalah adalah emosi dalam diri kita sendiri. Sehingga dengan mengambil jarak dan mencoba mengambil sudut pandang di luar diri kita sendiri, kita dapat lebih bijaksana dalam memutuskan sesuatu. 


Maka, ketika anda mengalami masalah, cobalah bertanya dalam hati, “Mengapa saya merasakan ini?” atau “Mengapa saya mengalami peristiwa ini?” pertanyaan ini akan membawa anda pada kondisi yang disebut self-immersed. Pertanyaan ini cenderung tidak akan cukup bijaksana, namun coba anda bandingkan ketika anda mengalami masalah dan melontarkan pertanyaan ini, “Mengapa dia merasakan itu?” atau “Mengapa dia mengalami peristiwa itu?” pertanyaan kali ini akan membawa anda pada kondisi self-distance yang menurut temuan peneliti asal Kanada itu akan membuat anda lebih bijaksana. Semoga! 

No comments

Powered by Blogger.