Bahagia Titik-Titik - IndoPositive

Breaking

BANNER 728X90

Sunday, December 1, 2013

Bahagia Titik-Titik


BAHAGIA – Apa itu arti serta maksudnya ? Rasa-rasanya itu adalah kata yang banyak dicari, diminati, diimpikan, dan dijadikan tujuan sukses dalam setiap kehidupan manusia serta makhluk lainnya. Mereka (red: manusia) lebih menyukai 99% kebahagiaan daripada adiknya yaitu SEDIH. Tidak banyak yang suka serta menginginkan hidupnya dihuni atau bahkan barang sedetik dilewati yang namanya SEDIH ini. Apa yang mendasari itu ? Sekali lagi, apa arti serta maksudnya ? Padahal dua kata itu adalah pemberian dari Tuhan, artinya BAHAGIA dan SEDIH. Taukah kalian (red: saudara), dulu diri ini seperti penjabaran diatas. Namun, dengan berjalannya waktu, sentuhan erat tangan siang, sorotan teduh malam dan tuntunan alam. Aku menemukan yang namanya ladang kedamaian. Apakah itu ? Itulah ladang antara “Bahagia dan Sedih” diantara keduanya saling mengisi satu sama lain. Alhamdulillah aku menemukan ladang itu.
 Kaki yang digunakan untuk berjalan sekarang serasa semakin sunyi. Karena kaki itu telah dilupakan, diduakan dengan kuda modern. Semakin haripun kaki hanya digunakan untuk menopang raga, tanpa lagi memperdulikan fungsi yang memang sudah difitrahkan sejak lahir. Itulah hakikat sebenarnya hidup. Yang kini mulai terdegradasi dari rambu-rambu yang telah ditentukan. Padahal satu sama lain saling menguatkan, mengisi serta menyeimbangkan.
Satu kejadian yang menjadikan diriku pernah merasakan yang namanya SEDIH yang kemudian BAHAGIA, yaitu : Dulu masih awal masuk kuliah tahun 2010, aku termasuk anak yang kurang bersosialisasi, kurang memiliki prestasi, tidak pernah ikut organisasi dan tipe anak yang biasa-biasa saja. Sehingga saat itu aku berpikir, “Wah, saya harus aktif nih ikut organisasi dan harus memiliki prestasi serta kemampuan. Karena hari ini saya memiliki kesempatan untuk kuliah, maka saya harus bisa memanfaatkan kesempatan ini, dengan sebaik-baiknya. Bismillah.” Maka pada saat itu saya bertekad untuk aktif. Sehingga pada semester 1 saya masuk di tiga organisasi dan belajar dengan berbagai hal. Semuanya saya terima dan saya anggap sebagai pembelajaran. Diperintah, dimarahi, diejek dan diremehkan pernah saya dapatkan. Saya waktu itu masih belum memahami apakah organisasi yang saya ikut bagus atau tidak. Pokoknya saya ikuti dan saya niati untuk belajar, titik ! Alhamdulillah sekarang, tahun 2013, saya masih aktif di organisasi kampus hanya 1 saja, yaitu organisasi kepenulisan. Sedangkan lainnya, saya mencoba aktif dan berkontribusi di organisasi ekstra kampus dari mulai organisasi penalaran sampai ke yang sosial. Hal yang membuatku senang dan sampai sekarang masih aku ingat dan hafal waktu, tempat serta kejadiannya. Yaitu, “Nak, Ibu seneng.”
            Itu terjadi ketika sekitar tanggal 27 Maret 2013 di warung makan lalapan. “Ibu jenengan cek ten Koran Surya kolom Citizen Reporter enten kulo. Lo, ono opo Le ? Mboten enten nopo-nopo Bu. Tulisan kulo mlebet ten mriku. Temenan a ? Nggeh Bu. Oouw, iyo Le, Ibu tak tumbas Koran Surya ndek embong. Nggeh Bu atos-atos.”[1] Beberapa menit kemudian, HP kembali berdering, kulihat telpon dari Ibu. “Alhamdulillah iyo Le, onok fotomu barang. Koyok ngeneki Ibu wes seneng Le. Tak dungakno mugo-mugo awakmu dadi wong sukses lan manfaat kanggo agama karo liyane. Aamiin, matur nuwun Bu.”[2]
            Kejadian itu, merupakan satu bagian kecil dan sederhana yang membuat hidup semakin berarti. Ketika ibu, bilang seperti itu dengan saya “Seperti ini saja Ibu sudah senang nak.” Rasanya seluruh penat yang mengkarat dipikiran dan seluruh tekanan yang selalu mencumbu setiap hari dengan diri. Langsung menghilang seketika itu juga. Tanpa perintah, tanpa diminta langsung pikiran segar, aliran positif mengalir deras keseluruh tubuh. Hem subhanallah. Haa, entah itu apa namanya. Namun yang jelas dan pasti, “Semua anak akan sangat bahagia ketika orang tuanya ikut bahagia. Ketika apa yang dilakukan ternyata berarti dan memiliki makna bagi orang tua. Ternyata apa yang dilakukan dan diperjuangkan selama ini tidak sia-sia dan diapresiasi positif oleh orang yang paling spesial, yaitu orang tua.” Sungguh hal yang tak mampu dibeli.
            Inilah salah satu hal yang menjadikan saya terus melangkah kedepan. Hari ini, dan seterusnya saya akan tetap berjuang dan melangkah. Tanpa perlu menghiraukan dan terpesona dengan namanya “Sedih dan bangsanya”. Terus dan terus melangkah. Ternyata memang, dari berbagai hari yang telah aku lewati aku semakin paham. “Pertama untuk menuju kebahagiaan, pasti harus melewati yang namanya duri dan kerikil-kerikil (red: sedih). Kedua kita ada karena adanya orang-orang terkasih, maka ketika kita sudah di bumi. Kewajiban kita untuk berbakti pada mereka yang mengasihi dengan tulus dan ikhlas.” Hem, Alhamdulillah. Ternyata indah memang, namanya bahagia dan sedih. Dengan merasakan keduanya, kita akan semakin paham serta bersyukur, akan hikmah titik kebahagiaan dan kesedihan. Seberapa mahal dan berharganya hal itu. Karena tidak semua orang bisa mendapatkan kebahagiaan dengan mudah, walau mereka bisa membeli dunia. Namun tidak pula, orang yang hanya bisa membeli makan sehari tidak bisa merasakan kebahagiaan. Maka mari kita selalu bersyukur dan selalu berbagi Bahagia kepada sesama. Tetap semangat dan positif thinking. Salam senyum dan tawa dari kawan di kota Batu.





[1] Ibu tolong lihat di Koran Surya kolom Citizen Reporter ada saya. Ha, ada apa nak ? Tidak ada apa-apa Bu. Tulisan saya masuk disana. Beneran a ? Ia Ibu. O, iya nak, Ibu akan beli dulu Koran Surya di Jalan raya. Ia Bu hati-hati.
[2] Alhamdulillah ya nak, ada foto kamu juga. Seperti ini saja, Ibu sudah senang nak. Saya doakan semoga kamu menjadi orang sukses dan bermanfaat bagi agama serta lainnya. Aamiin, terima kasih Bu.

*Sandi Iswahyudi, Penulis adalah Mahasiswa S1 di Universitas Muhammadiyah Malang.

No comments:

Post a Comment