6 Karakteristik Berpikir Kritis (Critical Thinking)

berpikir kritis


Di masa yang penuh dengan berbagai informasi ini, terkadang kita sulit menentukan benar tidaknya sebuah berita. Sebab itulah kerap kali kita menemukan hoax bertebaran dan disebar begitu saja. Orang-orang sering membagikan sebuah informasi tanpa menyaring atau menganalisis konten atau kandungan yang ada di dalam informasi. Salah satu keterampilan yang dibutuhkan adalah keterampilan berpikir kritis. Berpikir menurut Plato adalah berbicara dalam hati. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berpikir artinya menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. Proses berpikir itu pada pokoknya ada tiga langkah, yaitu: pembentukan pengertian, pembentukan pendapat, dan penarikan kesimpulan.

Lebih dari sekadar berpikir, berpikir kritis (critical thinking) menjadi keterampilan yang penting untuk dipelajari. Mengingat berbagai alasan yang sebelumnya dijelaskan. Berpikir kritis (critical thinking) menjadi sebuah upaya untuk berfokus dan melakukan proses pertimbangan dalam menentukan apakah berita dapat dipercaya atau tidak. Berpikir kritis adalah berpikir dengan baik dan merenungkan atau mengkaji tentang proses berpikir orang lain.

Secara sederhana, berpikir kritis (critical thinking) adalah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi. Untuk memahami informasi secara mendalam dapat membentuk sebuah keyakinan kebenaran informasi yang didapat atau pendapat yang disampaikan.

Berpikir kritis bukanlah perkara mudah, sebab hal tersebut mencakup seluruh proses mendapatkan, membandingkan, menganalisa, mengevaluasi, internalisasi dan bertindak melampaui ilmu pengetahuan dan nilai-nilai. Berpikir kritis bukan sekedar berpikir logis sebab berpikir kritis harus memiliki keyakinan dalam nilai- nilai, dasar pemikiran dan percaya sebelum didapatkan alasan yang logis dari padanya.

Trudy Bayer, salah seorang peneliti yang berfokus pada proses berpikir kritis menjelaskan bahwa terdapat enam karakteristik berpikir kritis. Adapun 6 karakteristik berpikir kritis adalah sebagai berikut:

1) Watak (Dispositions) 

Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka, menghargai sebuah kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik. 

2) Kriteria (Criteria) 

Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi maka haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta, berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang.

3) Argumen (Argument) 

Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh data-data. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen. 

4) Pertimbangan atau pemikiran (Reasoning) 

Yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data. 

5) Sudut pandang (Point of view) 

Sudut pandang adalah cara memandang atau menafsirkan dunia ini, yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis akan memandang sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda. 

6) Prosedur penerapan kriteria (Procedures for applying criteria) 

Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan, menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengidentifikasi perkiraan-perkiraan.

Demikianlah enam karakteristik berpikir kritis. Sekiranya, mempelajari keterampilan selalu membutuhkan waktu dan latihan. Semoga saja di tengah banjir informasi, kita bisa bertahan dan terselamatkan dengan mencoba melatih berpikir kritis. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel