Usaha Saya Memaknai Rasa Iri

By Muhammad Ahyar Hamka - 9:30:00 AM



INDOPOSITIVE.orgDi kamar 710 di salah satu penginapan yang cukup mewah. Perabotnya dilengkapi pendingin ruangan Daikin, juga televisi Philips yang menampilkan gambar jernih, meja dan kursi, di setiap sudut ruangan dilengkapi sumber listrik sebagai hal yang paling dicari setiap saat, dua ranjang empuk untuk tidur nyenyak, di antara dua ranjang disiapkan telepon rumah dan menu makanan. Sewaktu-waktu saat lapar atau haus tak perlu banyak bergerak untuk mengeluarkan banyak energi  untuk meraih semua alat dan bahan dapur, tapi cukup dengan menggapai telepon dan menekan angka untuk menghubungi resepsionis. Hanya menunggu selama beberapa waktu, seorang pelayan akan mengetuk pintu di balik kamar mengantarkan pesanan.

Apakah yang saya akan lakukan di ruangan ini? Ada konflik dalam diri untuk merasakan nikmatnya bermalas-malasan atau melawan itu dan melakukan sesuatu yang berbeda. Saya meraih tas dan melihat satu buku terjemahan kumpulan esai George Orwell, buku yang saya bawa tiap saat untuk menemani waktu luang. Buku itu hanya berjumlah 116 halaman, saya baca dalam beberapa minggu. Setelah membacanya saya pun terlelap.

Lalu, saya terbangun dalam mimpi yang tak jelas dan kabur pada pukul 05.33, melihat buku itu masih tergeletak. Beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, saya membasuh muka dengan air hangat sebelum melanjutkan bacaan. Hanya butuh waktu kurang dari satu jam untuk menyelesaikannya.

Ternyata sedikit lebih cepat menyelesaikan ratusan halaman dibanding menghisap empat batang rokok dan menghabiskan satu gelas kopi. Tidak ada lagi buku untuk dibaca. Mengingat kembali esai seorang Orwell yang menceritakan dirinya seorang perokok dan pembaca buku sekaligus sebagai penulis yang membandingkan harga setiap batang rokok yang telah dihabiskan dengan membeli sebuah buku untuk diselami. Di dalam salah satu esainya yang menuangkan tulisan tentang bom atom yang hanya sekejap dapat melenyapkan kehidupan. Menceritakan Ghandi, Hitler dan masih banyak gagasan pikiran yang dituangkannya.

Iri kepada Orwell yang dapat memikirkan hal yang sangat rumit seperti itu untuk dipirkan oleh saya. Apakah saya akan memukul, melempari dan menembak seorang Orwell lantaran karena saya iri padanya? Saya jelas merasa iri.

Kadang kala perasaan iri akan muncul dalam diri ketika melihat seseorang memiliki hal yang lebih dari kita. Namun apakah karena iri kita harus melakukan kekerasan atau perilaku yang agresif. Perasaan Iri hati (envy) dijelaskan oleh Geoffrey Chaucer dalam karyanya The Canterbury Tales, dia adalah seorang sastrawan, sekaligus filsuf dan diplomat birokrat inggris, sering juga disebut sebagai bapak Sastra Inggris. Chaucer menjelaskan bahwa ada dua cara berbeda di mana kata iri hati digunakan.  

Pertama adalah iri hati bersifat destruktif atau yang merusak dan dipakai untuk menyerang individu atau kelebihan, kebaikan dan kebajikan yang  kita kagumi.

Kedua adalah iri hati yang konstruktif  tidak memiliki sifat merusak, terdiri dari kesedihan yang datang begitu saja saat mengagumi sesuatu yang dimiliki orang lain sehinga kita akan menyadari akan kekurangan dalam diri.

Saya tidak akan membunuh Orwell atau membumi hanguskan karya-karyanya yang luar biasa. Namun saya terinspirasi untuk menghormati karyanya dengan membaca dan menyimpan bukunya dengan rapi di rak buku. Saya mencoba memahami diri ketika iri hati menyerang. Saya memilih iri hati yang membangun sesuai kemampuan yang saya miliki seperti yang telah diajarkan Ghandi. Karena itu akan membangun peradaban tanpa menghancurkan atau membunuh manusia.

Saya ingin mengajak anda jalan-jalan ke kota saya dilahirkan. Di perbatasan salah satu kota, ketika kita melangkahkan kaki untuk berjalan di sana, setiap saat akan  merasakan suasana yang hangat. Sepanjang jalan protokol penyambung kota lainnya kita akan melihat sawah yang hijau saat musim tanam tiba dan pemandangan yang hijau saat musim panen dipestakan.

Ketika kita memperhatikan atau melihat kehidupan di setiap sudut kota, sangatlah memprihatinkan, tidak diisi oleh kedamaian seperti padi mengisi sawah-sawah yang humus. Perasaan yang mencekam akan dirasakan karena dihuni oleh masyarakat yang dipenuhi iri hati. Sangat berasalan saya mengatakan itu, karena jarang kita temukan suatu kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat disebabkan oleh iri hati. Taruhlah saya menceritakan peristiwa penikaman yang dilakukan oleh antar petani seperti adegan perang Spartacus dengan musuhnya. Kejadian ini disebabkan hanya karena posisi sawah salah seorang petani letaknya dekat dengan irigasi pengairan, sedangkan salah satunya letaknya di belakang sawah tersebut. Timbul rasa iri hati destrukif sebab dari keberuntungan orang lain, pemilik sawah yang letaknya di belakang menyerang keberuntungan tetangganya.

Kasus di atas adalah contoh iri hati destruktif, dengan melawan keberuntungan orang lain. Bukan hanya keberuntungan tapi kebaikan pun akan dilawan oleh iri hati. Seperti saat memenuhi panggilan Tuhan untuk berangkat ke tanah suci bagi orang yang beragama islam adalah salah satu kehormatan yang harus diperjuangkan untuk mewujudkannya. Namun kebaikan itu sia-sia saja kita lakukan setelah kembali menunaikan ibadah haji, karena akan mendapatkan protes atau komentar negatif dari masyarakat. Biasanya, orang yang telah menyandang gelar haji akan diselidiki seluk-beluknya, kenapa bisa naik haji, uang yang dia pakai dari mana, bahkan perliakunya pun akan dihubungkan dengan gelar hajinya. Iri hati seperti ini akan membawa murka bagi kehidupan kita yang akan menghasilkan dosa.

Hidup dengan membawa jenis iri hati yang destruktif akan sangat berat, menimbulkan rasa jengkel, seperti halnya Iago, tokoh jahat yang terkenal dalam karya sastra, dalam Othello dari karya Shakespear. Iago tidak ingin melihat Othello bahagia dengan Desdemona istrinya karena tidak adanya toleransi dalam dirinya, belas kasih tidak ada padanya. Dengan iri hati itu Iago merencenakan untuk menjerumuskan Othello ke dalam kecemburuan abadi terhadap istrinya Desdemona, kecemburuan itu berhasil dibuat dan akhirnya Othello mencekik istrinya. Toleransi harus dihadirkan dalam diri saat iri hati muncul untuk mengatur perasaan iri hati. Memilih untuk melawan objek iri hati, atau menjadikan objek iri hati sebagai inspirasi untuk membangun potensi yang dimiliki.

Menjadikan orang lain atau objek iri hati yang juga akan menghubungkan kita ke arah yang lebih baik. Dengan kemampuan menerima sejauh mana memandang potensi yang kita punya, tapi jangan pula menjadi orang patuh untuk menerima keadaan begitu saja, karena orang yang selalu menerima keadaan tidak akan pernah maju selangkah pun. Namun iri hati perlu kita syukuri selagi iri hati itu dapat kita toleransi demi membawa kita untuk berusaha mewujudkan apa yang kita inginkan. Dengan menghargai kelebihan dan kebaikan orang lain kita juga akan turut menikmati kelebihan dan kebaikan tersebut. Tapi sekali lagi, saya mencoba memaknai semua itu. Masih mencoba dan jelas akan berulang.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar