Panduan Singkat Perihal Siapa yang Berhak Kita Percaya - IndoPositive | Pusat Informasi Psikologi Positif

Breaking

Tuesday, January 29, 2019

Panduan Singkat Perihal Siapa yang Berhak Kita Percaya


INDOPOSITIVE.orgApa yang membuat kita percaya pada seseorang? Siapa saja yang dapat kita percaya? Berbagai pertanyaan tentang percaya, telah mendorong para peneliti psikologi sosial untuk mencoba mencari tahu jawabannya. Belakangan, penelitian tentang kepercayaan menjadi sesuatu yang mulai dikembangkan serta diperbincangkan di berbagai bidang.

Tapi sebelumnya, kita perlu memahami apa makna dari percaya itu sendiri. Beberapa budaya memiliki pengertian yang berbeda-beda tentang percaya. Marianna Pogosyan, salah seorang peneliti psikologi lintas budaya pernah menjelaskan percaya dari sudut pandang budaya. Dimulai dari kata “trust” yang berawal dari akar kata droust dalam bahasa Indo-Eropa, yang bermakna “kukuh” dan “langgeng”. Dalam bahasa Inggris Kuno kata itu merujuk pada kata “keyakinan” dan “ketergantungan.” Percaya juga menjadi satu modal utama dalam membangun sebuah hubungan yang kuat.

Paul Thagard, dalam bukunya Treatise on Mind and Society, juga memberikan penjelasan tentang arti dari percaya. Bahwa percaya merupakan proses kerja otak yang mengikat representasi diri, orang lain, situasi, dan emosi ke dalam pola khusus dari penembakan saraf yang disebut semantic pointer. Emosi seperti kepercayaan dan cinta adalah pola saraf yang menggabungkan representasi situasi tentang emosi, penilaian relevansi situasi dengan tujuan, persepsi perubahan fisiologis, dan (kadang-kadang) representasi diri yang memiliki emosi.

Dalam sebuah penelitian, percaya kemudian dibedakan dalam dua bentuk. Daniel J. McAllister mempublikasikan penelitiannya yang berjudul Affect- and Cognition-Based Trust as Foundations for Interpersonal Cooperation in Organizations. Dua bentuk percaya tersebut yaitu, afektif dan kognitif.

Kepercayaan kognitif didasarkan pada pengetahuan dan bukti kita tentang orang-orang yang kita pilih untuk percaya. Sebaliknya, kepercayaan afektif lahir dari ikatan emosional kita dengan orang lain, termasuk keamanan dan kepercayaan yang kita tempatkan pada orang lain berdasarkan perasaan yang dihasilkan oleh interaksi kita. Kadang-kadang, bentuk perbedaan kepercayaan kognitif dan afektif telah tergambarkan sebagai kepercayaan dengan menggunakan kepala Anda (kognitif) dan kepercayaan dengan hati Anda (afektif). Seringkali ketidakmampuan kita memilih atau melihat bentuk percaya tersebut, membawa kita pada keputusan yang keliru. Hal ini berlaku dalam berbagai situasi, entah dalam pemerintahan, organisasi, atau pertemanan.

Secara mendasar, hubungan selalu diawali dengan percaya. Sayangnya, kita seringkali tak mampu melihat orang-orang yang dapat dipercaya atau kita terlanjur keliru dengan kekacauan afektif dan kognitif yang tak seimbang. Beruntung, sejumlah peneliti telah mengkaji beberapa karakter khusus yang memiliki peluang untuk dipercaya. Sebelumnya, patut dipahami bila terdapat perbedaan antara percaya dan menjadi orang terpercaya.

Percaya pada seseorang sama halnya membiarkan diri sendiri untuk rentan terhadap kemungkinan orang lain untuk mengetahui berbagai hal dalam diri kita, sedangkan menjadi orang terpercaya, mengacu pada kemungkinan orang lain untuk menaruh harapan dan bertanggung jawab atas apa yang mereka harapkan pada kita. Orang yang dipercaya untuk bercerita lepas misalnya sahabat atau psikolog, yang secara tidak langsung kita menaruh harapan atas kepercayaan pada mereka.

Nah, menurut penelitian, pada siapa kita mesti percaya? Ternyata, terdapat kepribadian tertentu yang dapat kita percaya. Salah satunya, mereka yang memiliki kemampuan untuk mudah merasa bersalah. Para peneliti menemukan bahwa mereka yang memiliki rasa bersalah dengan tingkat lebih tinggi, memiliki rasa tanggung jawab yang kuat. Hal tersebut menjadi modal utama untuk menjadi orang yang dapat dipercayai. Hanya saja, orang-orang yang seperti itu tak senang untuk melakukan prososial, atau menolong setiap saat. Tapi dia akan bertindak prososial di saat orang-orang benar-benar membutuhkannya. Mengapa? Hal tersebut diakibatkan atas kepekaan yang mereka miliki. Secara khusus mereka tak membiarkan dirinya terlibat bila pada akhirnya harapan orang lain pupus di tangan mereka.

Penelitian Terbaru   

Penelitian terbaru tentang kepercayaan memperlihat efek rasa bersalah tersebut. Emma Levine dari Universitas Chicago bersama rekannya mencoba membuktikan pengaruh rasa bersalah pada kepercayaan kita, Penelitian yang berjudul Who is trustworthy? Predicting trustworthy intentions and behavior, dipublikasikan pada bulan Agustus 2018 di Journal of Personality and Social Psychology.  Penelitian ini menggunakan game trust beserta survei, Emma Levini menguji partisipan penelitian dalam beberapa studi.

Apa itu game trust? Jadi selama permainan, partisipan diberikan sejumlah uang yang dapat disimpan atau dititipkan para orang lain (seseorang yang dapat dipercayai). Jika dia memilih untuk memberi uang pada orang yang dipercayai, uang itu akan dilipatgandakan; di sisi lain, orang yang dipercayai ini memiliki kemungkinan untuk tidak memberikan uangnya kembali pada orang yang telah mempercayai dirinya. Skenario game tersebut sesederhana itu, peneliti akan melihat seberapa percaya dia pada orang tersebut. Orang pertama akan berperan sebagai orang yang percaya, dan orang kedua akan berperan sebagai orang yang dapat dipercayai. Sederhananya, orang pertama bisa memberi uang $ 1 pada orang kedua, sehingga sesuai aturan, uang itu akan berlipat ganda sehingga menjadi $ 2, orang kedua ini punya peluang untuk mengembalikan atau memilih menyimpannya, inilah peran sebagai orang yang dipercayai. Skenario tersebut secara berulang disesuaikan berdasarkan kebutuhan tiap studi.

Selain dengan game tersebut, penelitian ini menggunakan beberapa alat ukur untuk menilai kepribadian, rasa bersalah, tanggung jawab, kepercayaan, dan sejumlah variabel terkait lainnya.

Secara ringkas, pada studi pertama yang melibatkan 401 orang dewasa, mereka diminta mengisi sejumlah pertanyaan dan mengikuti game trust. Hasil studi pertama, memperlihatkan bahwa terdapat lebih banyak partisipan yang cenderung merasa bersalah memiliki kecenderungan yang lebih dapat dipercaya dan lebih bertindak dengan cara yang dapat dipercaya selama game. 

Dalam dua penelitian berikutnya (studi 2 dan 3), masing-masing pada 139 dan 399 orang dewasa, rasa bersalah partisipan (dibandingkan dengan karakteristik kepribadian lainnya) dalam memprediksi perilaku yang dapat dipercaya yang berbasis kebaikan dan berbasis integritas dalam dua permainan kepercayaan.

Studi keempat (pada 292 orang dewasa) membantu mengesampingkan mekanisme lain yang berpotensi menjelaskan hubungan antara kepercayaan dan kecenderungan rasa bersalah — mekanisme seperti antisipasi kebahagiaan/kebanggaan, atau mengantisipasi rasa bersalah (ketika bertindak dengan cara yang tidak dapat dipercaya). Hanya rasa tanggung jawab seseorang yang dapat menjelaskan hubungan antara kepercayaan dan rasa bersalah.

Studi 5 (pada 402 orang dewasa) menyimpulkan bahwa pengaruh rasa bersalah pada kepercayaan dapat dimoderasi oleh tingkat kerentanan orang yang dipercayai. Dengan kata lain, dalam game trust, peserta yang cenderung merasa bersalah tidak selalu berbaik hati sepanjang waktu, tetapi hanya ketika mereka diharapkan secara sosial (mis. Ketika orang yang menaruh kepercayaan telah memberikan banyak uang kepada mereka dan dengan demikian membuat diri mereka lebih rentan merasa bersalah).

Dalam penyelidikan terakhir (pada 552 orang dewasa), Levine bersama rekannya, mengamati bahwa kode perilaku yang membuat tanggung jawab meningkat dan rendah menjadi pengaruh tanggung jawab antar pribadi (dan kepercayaan) pada peserta yang cenderung merasa bersalah.

Dalam beberapa penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa beberapa kepribadian seperti kejujuran, rendah hati, menolong siapa saja, dermawan, dan sebagainya menjadi hal pendukung atas kepercayaan. Begitu pun dengan kepribadian agreeableness, mudah untuk bersepakat (mereka yang ramah, simpatik, dan koperatif) juga dikaitakn dengan orang-orang yang dapat dipercaya.

Namun dalam penelitian Emma Levine, dapat dilihat bahwa dibanding dengan kepribadian lainnya, rasa bersalah menjadi prediktor yang lebih baik untuk melihat orang yang dapat dipercaya. Mereka menyelamatkan diri sendiri dengan menyelamatkan orang lain terlebih dahulu. Sesuatu hal mendasar yang tak dimiliki karakter lainnya. Semoga dengan panduan singkat ini, teman-teman dapat mengamati orang-orang di sekitar kita, siapa yang dapat dipercaya atau tidak?

No comments:

Post a Comment

loading...