Sherlock Holmes dan Usaha Kita Meningkatkan Empati



INDOPOSITIVE.org — Emanuele Castano, seorang psikolog sosial, bersama rekannya David Kidd melakukan penelitian dengan membagi sejumlah partisipan dan memberi mereka tugas bacaan yang berbeda: bacaan populer, sastra, non-fiksi dan tidak ada bacaan sama sekali. Setelah mereka menyelesaikan bacaan itu, para partisipan melakukan tes untuk mengukur kemampuan mereka dalam memahami pemikiran dan perasaan orang lain. Tim peneliti menemukan, hasil yang mengejutkan, terdapat perbedaan signifikan antara pembaca sastra dan yang bukan sastra.


Sastra yang baik dianggap mampu memberikan gambaran yang berfokus pada karakter secara psikologis. “Seringkali pikiran para tokoh digambarkan samar-samar, tanpa banyak penjelasan dan pembaca diajak untuk mengisi sejumlah kekosongan dan memahami serta hal-hal yang ada pada tokoh tersebut,” jelas Kidd. Kondisi inilah yang memberikan ruang pembaca untuk membawa kesadaran psikologis tokoh ke dalam dunia nyata, melawan kehidupan yang rumit dan batin yang sulit dipahami. Secara tidak langsung, hal tersebut mendukung seseorang untuk memahami perasan orang lain.

Dari hasil penelitian Castano dan Kidd, mereka menyarankan kita untuk belajar dari sastra guna mengembangkan proses sosialisasi dan meningkatkan empati. Bahkan mereka pun memberi saran untuk menciptakan program di penjara dan membantu narapidana untuk meningkatkan fungsi sosial dan empati yang dimiliki.

Tapi tentu anda akan bertanya-tanya, apakah bacaan sastra memang seperti itu? Penelitian dari P. Matthijs Bal bersama rekannya Martjin Veltkamp di Belanda mungkin akan menjelaskan pertanyaan ini. Penelitiannya yang berjudul “How Does Fiction Reading Influence Empathy?An Experimental Investigation on the Role of Emotional Transportation” Pada tahun 2013 mereka menemukan bahwa siswa yang membaca Cerita Detektif Sherlock Holmes (The Adventure of the Six Napoleons) karya Arthur Conan Doyle mengalami peningkatan empati setelah membaca cerita itu selama seminggu. Dan dibandingkan dengan kelompok yang tidak membaca bacaan biasa, mengalami hal yang sebaliknya. Namun, yang menjadi titik poin dalam bacaan tersebut adalah minat dan kehendak peserta untuk menikmati dan memahami cerita. Beberapa peserta yang tidak menerima atau kurang menikmati menunjukkan hasil yang biasa-biasa saja.

Penelitian kedua ini sebenarnya mendasari penelitian pertama yang tadi dijelaskan. Sebagai bentuk replikasi dan menemukan hal yang tak jauh berbeda. Tapi ada yang menarik, bahwa empati tidak akan muncul ketika individu hanya diberikan beberapa bagian saja. Dalam penelitian Castano dan Kidd yang berjudul “Does reading a single passage of literaryfiction really improve theory of mind?” menemukan hasil bahwa membaca perbagian tersebut gagal meningkatkan empati peserta. Setidaknya, saat ini para peneliti sepakat bahwa semakin kau banyak membaca, semakin besar kesempatan empatimu akan berkembang dan semakin kau akan mencintai buku-buku serta bacaan yang menarik. Bagaimana dengan empati anda? Para peneliti sudah memberikan salah satu cara, barangkali saja anda berminat dan mencoba membuktikan temuan sebelumnya. Selamat membaca!



Lahir di Pinrang, 4 Maret 1992. Senang membaca, menulis, meneliti. Penulis dapat dikunjungi di www.wawankurn.com

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :

Post a Comment