Internet yang Mengubah Cara Makan Kita - IndoPositive | Pusat Informasi Psikologi Positif

Breaking

Monday, December 17, 2018

Internet yang Mengubah Cara Makan Kita



INDOPOSITIVE.org—Pada satu titik, internet punya sisi yang luhur; mendemokratisasi pengetahuan, membuatnya jadi akses untuk semua kalangan. Pada titik yang lain, internet merubah lebih banyak tatanan; struktur pasar, cara interaksi manusia, mobilitas, dan banyak hal lain. Ketika Nielsen Consumer Media View merilis sejumlah data di tahun 2017, kita mendapati ilustrasi tentang sebuah disrupsi besar dalam industri media; media konvensional cetak tumbang satu persatu di saat konsumsi informasi lewat media daring semakin menjadi.

Temuan Nielsen, di tahun 2017, tingkat pembelian koran secara personal mengalami penurunan 20%, yang di 2013 masih mencapai 28%.  Jumlah media cetak juga berkurang 23%, dari 268 media cetak pada 2013, tersisa 192 pada 2017.

Dalam berita yang tayang tahun lalu di katadata, Direktur Eksekutif Nielsen Media Indonesia Hellen Katherina, menyebut anggapan bahwa media harus gratis membawa penetrasi media digital ke angka 6 juta orang pembaca hingga 2017. Lebih banyak dari pembaca media cetak sebanyak 4,5 juta orang. Padahal, jumlah pembaca media cetak pada 2013 bisa mencapai 9,5 juta orang. Sementara, yang membaca media cetak dan digital secara bersamaan hanya 1,1 juta orang.
Indonesia, sendiri punya 47.000 media terdaftar, dari cetak, radio, televisi dan media online. Itu berdasarkan keterangan Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo saat puncak peringatan Hari Pers Nasional 2018 pada tanggal 9 Februari, bahwa dari 47.000 itu, 2.000 adalah media cetak, 674 radio, 523 televisi termasuk lokal, dan selebihnya 43.803 adalah media daring.

Dengan 43.803 media daring terdaftar tanpa menghitung sumber lain yang bisa diakses lewat tapak maya, bisa dibayangkan betapa lalu lintas informasi menjadi sangat padat di masa jaya internet.  Era ini benar-benar membuka ruang bagi siapapun untuk menjadi sumber informasi. Tentu saja dengan biaya yang lebih murah.

Ini bukan lagi era ketika mesin cetak sangat dibutuhkan untuk menyebar berita atau beriklan. Tidak ada lagi yang terlalu butuh radio atau televisi untuk mengudara. Semua orang bisa, dimanapun, kapanpun, asal ada koneksi internet. Dan yang paling mengesankan adalah lalu lintas informasi itu, meskipun padat, tapi bergerak sangat cepat. Jauh lebih cepat dari gerak kemacetan ibukota.

Dalam hal mendemokratisasi pengetahuan atau membuat informasi menjadi akses, internet telah mencapai tujuan luhurnya. Tapi itu bukan sesuatu yang terus maju tanpa konsekuensi. Internet meski menyediakan setiap informasi yang dibutuhkan, disaat bersamaan adalah parade dengan tayangan informasi di luar kebutuhan, iklan.
Iklan seringkali muncul bersamaan dengan informasi yang dicari. Itu menghadirkan banyak pilihan, menstimulasi banyak keinginan, dan akhirnya mendesak siapapun untuk menambahkannya dalam daftar kebutuhan. Salah satu temuan yang diterbitkan pada tahun 2009 oleh Journal of Medical Internet Research menjelaskan hubungan antara intensi penggunaan internet dan obesitas.

Temuan itu adalah hasil pengujian terhadap 2650 orang dewasa di Adelaide, Australia yang menyelesaikan kuesioner tentang item tinggi dan berat badan mereka, ingatan tujuh hari terakhir mengenai aktivitas fisik waktu senggang, penggunaan Internet dan komputer, dan perilaku santai lainnya. Waktu luang Internet dan penggunaan komputer dikategorikan tidak ada gunanya, penggunaan rendah (kurang dari tiga jam per minggu), atau penggunaan tinggi (tiga jam atau lebih per minggu).

Orang dewasa dengan penggunaan komputer dan internet waktu senggang yang tinggi lebih mungkin mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, bahkan jika mereka sangat aktif dalam waktu luang mereka dibanding partisipan yang tidak menggunakan internet atau komputer. Hal yang sama juga dikonfirmasi terjadi pada pengguna televisi.

Dennis Rosen pada tahun 2009 menulis di Psychology Today tentang penelitian terbaru yang terbit dalam The American Journal of Clinical Nutrition. Temuan itu menjelaskan bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi, semakin besar kemungkinan anak-anak menjadi lebih gemuk dan kurang aktif secara fisik. 89 anak-anak dari Skotlandia antara usia 2-6 tahun direkrut untuk studi, di mana pengeluaran energi total dan aktivitas fisik diukur. Orang tua diminta mengisi kuesioner yang merinci kebiasaan menonton televisi. Para peneliti menemukan hubungan yang signifikan antara jumlah jam menonton TV perhari dan massa lemak tubuh, dengan setiap waktu luang setiap hari dihabiskan menonton televisi terkait dengan peningkatan 2,2 pound dalam lemak tubuh. 

Kedua penelitian tampaknya menekankan kegemukan sebagai akibat dari berkurangnya aktivitas fisik. Dan pada studi tentang televisi disimpulkan faktor tambahan seperti perubahan pola makan yang terkait dengan aktivitas menonton. Sayangnya, kedua penelitian luput menyebutkan, bahwa baik aktivitas berselancar di internet maupun menonton adalah sebuah kondisi motivasi.

Untuk memahami cara kerjanya, Maslow dalam Motivation & Personality menyebut kondisi motivasi sebaga siklus konstan, tidak pernah berakhir, berfluktuasi, dan rumit. Itu adalah karakteristik yang hampir universal dalam hampir semua keadaan organisme, dan akan terus bekerja selagi ada informasi yang diterima dan diolah menjadi desakan baru. Ketika satu keinginan dipenuhi, yang lain muncul untuk menggantikannya. Itu bekerja seperti kutukan Sisifus.

Motivasi manusia tidak hanya bekerja secara naluriah, ia dipelajari. Kondisi kekenyangan tentu tidak menghentikan seseorang, tertarik pada gambar dan iklan makanan menggiurkan yang tayang lalu lalang di seluruh media sosial daring. Meskipun tahu dia sama sekali tidak membutuhkannya. Motivasi bukan hanya tentang kebutuhan, tapi tentang desakan untuk mencapai keseimbangan.  

Nielsen Cross Platform Report 2017,  sebuah studi konsumen digital yang berfokus pada pengguna internet dan perilaku pemakaian multi media khususnya dalam mengakses konten digital untuk area Asia Pasifik. Menemukan lebih 60 persen konsumen dalam studinya, di kelompok usia 21-49 tahun seringkali melakukan pencarian lebih lanjut setelah melihat Iklan video online.

Separuh konsumen juga mengaku, biasanya mereka akan melakukan kunjungan ke toko secara langsung setelah melihat Iklan video online dan peluang terjadinya pembelian pun cukup besar pada saat konsumen melakukan kunjungan ke toko (mencapai hingga 28% di kelompok usia 30-39 tahun).

Lantas apa yang bisa dikatakan? Internet merubah cara makan manusia masa kini. Dengan segala pilihan menarik yang ditawarkan, selalu ada alasan untuk makan, dan akibat seperti kegemukan. Beberapa agama menawarkan cara mengatasi kegemukan dengan berpuasa, itu benar. Tapi di era internet, itu tidak cukup. Di luar puasa konvensional, masyarakat internet perlu puasa alternatif sebagai pendukung; puasa informasi.

No comments:

Post a Comment

loading...