IndoPositive
Latest Update

Sunday, September 15, 2019

Cara Mengetahui Depresi Secara Sederhana



Depresi adalah gangguan psikologis yang sebenarnya paling sering kita temui. Sebenarnya, depresi merupakan gejala yang wajar sebagai respon normal terhadap pengalaman hidup negatif, seperti kehilangan anggota keluarga, benda berharga atau status sosial. Dengan demikian, depresi dapat dipandang sebagai suatu kontinum yang bergerak dari depresi normal sampai depresi klinis.

Depresi menurut WHO (World Health Organization) merupakan suatu gangguan mental umum yang ditandai dengan mood tertekan, kehilangan kesenangan atau minat, perasaan bersalah atau harga diri rendah, gangguan makan atau tidur, kurang energi, dan konsentrasi yang rendah.Masalah ini dapat akut atau kronik dan menyebabkan gangguan kemampuan individu untuk beraktivitas sehari-hari. Pada kasus parah, depresi dapat menyebabkan bunuh diri. Saat ini telah diketahui beberapa faktor penyebab depresi, seperti faktor genetik, biokimia, lingkungan, dan psikologis. Pada beberapa kasus, depresi murni berasal dari faktor genetik, orang yang memiliki keluarga depresi lebih cenderung menderita depresi; riwayat keluarga gangguan bipolar, pengguna alkohol, skizofrenia, atau gangguan mental lainnya juga meningkatkan risiko terjadinya depresi. Kasus trauma, kematian orang yang dicintai, keadaan yang sulit, atau kondisi stres memicu terjadinya episode depresi, tetapi terdapat pula kondisi tidak jelas yang dapat memicu depresi.

Lihat juga: 4 hal utama pemicu munculnya stres

Pada dasarnya, untuk mendiagnosis depresi yang kita alami, sebaiknya dilakukan oleh psikolog atau pihak medis yang terkait. Namun, sebelum itu kita juga bisa mengetahui masalah tersebut. Ada cara untuk mengenali gejala depresi secara sederhana, cukup mengetahui beberapa tanda yang kerap muncul. Dengan begitu, kita bisa mengetahui atau mempelajari kondisi orang di sekitar kita.

Ada pula gejala depresi yang mirip dengan masalah lainnya, misalnya gejala penyalahgunaan obat terlarang, efek samping obat, atau gangguan psikologis lainnya. Kabar baiknya adalah depresi dapat disembuhkan. Bila mana tanda di bawah ini muncul  pada diri anda atau orang terdekat anda, sudah sepatutnya anda berkunjung ke psikolog. Langkah yang dilakukan psikolog dapat menggunakan beberapa  terapi atau pengobatan. 

Berikut beberapa gejala depresi yang dapat kita ketahui:

1. Sulit Berkonsentrasi

Berbagai jenis depresi pun berefek pada konsentrasi seseorang. Dan itu memberi pengaruh pada pengambilan keputusan kita. Seseorang yang depresi masih dapat menyadari gejala ini atau orang di sekitarnya dapat melihat atau mengamati kondisi yang sebenarnya. 

2. Minat atau Kesenangan Berkurang

Salah satu yang terjadi saat depresi adalah menurunnya minat atau kesenangan pada hal-hal yang sebelumnya kita nikmati. Beberapa orang bahkan meninggalkan hobi atau kesenangan yang selalu digeluti. Efek depresi ini membuat seseorang enggan untuk melakukan sesuatu.

3. Mood yang Berkurang

Saat mengalami depresi, seseorang dapat mengalaminya tekanan hampir setiap hari. Masalah ini pun berakibat pada suasana hati seseorang yang dapat merasa hampa atau sedih, sehingga sangat wajar bila suasana hati akan terganggu. Bahkan, memilih untuk tidak melakukan apa-apa, akan jadi pilihan yang akan dijalani.

4. Perubahan Berat Badan

Bila anda tanpa sengaja mengalami penurunan atau peningkatan berat badan sebesar 5% atau lebih, ini bisa jadi menandakan anda terkena depresi. Beberapa jenis depresi memperlihatkan pengaruh pada nafsu makan yang dapat berlebih atau sebaliknya.

5. Gangguan Tidur

Beberapa gangguan tidur seperti, sulit tidur atau merasa lelah meskipun telah tidur seharian dapat menjadi salah satu ciri dari beberapa jenis depresi.

6. Gelisah

Gejala-gejala ini dapat terbukti dalam gerakan tubuh, ucapan, dan waktu reaksi dan berbagai hal ini dapat diamati oleh orang lain.

Lihat juga: Cek tingkat depresi dengan cara mudah

7. Kelelahan

Hilangnya energi dan perasaan lelah kronis dapat merupakan gejala beberapa jenis gangguan depresi Merasa lelah dalam waktu yang cukup panjang dapat menghambat aktivitas seseorang secara normal.

8. Merasa Tidak Berharga dan Bersalah

Rasa bersalah yang berlebihan, merasa tidak pantas, dan perasaan tidak berharga adalah gejala umum dari gangguan depresi mayor. Perasaan bersalah yang terlalu besar dapat mengakibatkan terjadinya delusi.

9. Bunuh Diri

Seseorang dengan depresi berat mungkin berpikir tentang bunuh diri, melakukan upaya bunuh diri, atau membuat rencana khusus untuk bunuh diri.

Lihat juga: Pertanyaan mudah untuk mengetahui apakah kita depresi atau tidak

Demikianlah 9 gejala yang dapat menjadi cara kita untuk mengetahui  depresi secara sederhana. Semoga bermanfaat. 
Read More

Friday, September 13, 2019

Seni Belajar Bersyukur



Bersyukur adalah seni berpikir, atau dalam istilahnya, thanking is thinking. Tentu saja, karena bagaimana mungkin seseorang bersyukur tanpa mengetahui atas yang disyukurinya? Sejatinya, dalam bersyukur kita melibatkan diri kita dalam sebuah proses berpikir. Menyadari bahwa sesuatu terjadi dan mengakui bahwa kejadian tersebut hadir karena sebuah sebab.

Setiap pagi kita bangun dari tempat tidur, lalu mungkin menyiapkan sarapan atau mandi dan beraktivitas. Namun, sebagaimana biasanya rutinitas bekerja, ia mengalir dan membuat kita terbiasa secara perilaku, lalu merasa biasa secara emosional, dan menerima segalanya sebagaimana adanya (taken for granted). Kita bangun di pagi hari tanpa menyadari bahwa kita “hadir” di dunia ini. Sarapan yang kita santap, air yang mengalir, pakaian yang kita kenakan, dan berderet hal lainnya, bukankah itu semua tidak mungkin hadir begitu saja. Si petani dan tukang kebun yang menanam dan merawat padi  dan sayur-mayur agar bisa dikonsumsi, pegawai PDAM yang memastikan air mengalir, si buruh pabrik yang menjahit pakaian kita, hingga mungkin kesempatan hidup yang Tuhan berikan, adalah sederat hal yang patut disadari agar kita mampu bersyukur. Itu baru di awal, bagaimana saat kita telah keluar dan berinteraksi secara interpersonal dengan orang lain?

Memang, ada banyak tantangan dan kesulitan dalam keseharian, namun kebaikan sebenarnya bertebaran bahkan jauh lebih banyak. Hanya saja mungkin kita tidak menyadarinya, karena kita sedikit tidak memikirkannya saja. Perhatikan saja, ketika kita bersyukur, kita akan lebih mudah mengapresiasi berbagai hal dalam hidup, juga akan lebih mudah menolong orang lain. Hal tersebut juga telah dikaji dalam penelitian [1], bahwa syukur membuat seseorang termotivasi dalam melakukan perilaku prososial. Boleh dikata bahwa bersyukur itu dapat membuat sebuah rantai kebaikan dalam lingkungan sosial.   

Bahkan bersyukur dapat menjadikan kita lebih lebih produktif dan kreatif. Saat kita bersyukur, maka akan hadir rasa ketenangan dan kedamaian, otak akan menghasilkan serotonin, endofin dan dopamin, yang akan mengaktifkan pikiran-pikiran kreatif. Kreatif disini bukan sekedar menjadi lebih kreatif dalam menghasilkan produk atau menemukan metode belajar menyenangkan. Bahkan kita akan lebih kreatif dalam menolong sesama. Dengan memperhatikan beberapa hal ini, wajar saja jika Diener berkata bahwa kebahagiaan adalah sebuah proses dan bukanlah destinasi tujuan.

Ada cara menyenangkan yang bisa kamu coba aplikasikan langsung mengenai latihan syukur, yakni Jurnal Syukur. Setiap malam, menjelang beristirahat tuliskanlah hal-hal yang kamu syukuri di hari itu. Kamu bisa membuat dengan metode daftar singkat seperti poin-poin yang lebih sederhana, atau membuat narasi atas kejadian atau pengalaman tersebut. Hal ini bisa saja terlihat sederhana, namun sebenarnya berdampak cukup besar. Dalam sebuah studi yang diterbitkan di jurnal American Psychological Association[2], menuliskan hal-hal yang disyukuri setiap harinya dapat memberikan seseorang pandangan yang lebih positif dalam hidupnya. Lebih optimis melihat hari-hari yang akan mereka jalani kedepan, memiliki intensitas perilaku menolong yang lebih tinggi, dan menjalani hidup yang lebih sehat (dalam hal ini meningkatnya latihan olahraga harian). Selamat mencoba!


Penelitian Terkait

[2] Emmons, R.A., & McCullough , M.E. (2003). Counting blessing versus burdens: An experimental investogation of gratitude and subjective well-being in daily live. Journal of Personality and Social Psychology, American Psychology Association, 84, 2, 377-389.  

[1] Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (Eds.). (2004). The psychology of gratitude. New York: Oxford University Press.

Read More

Thursday, September 12, 2019

Bullying: Pengertian, Peran, Faktor dan Jenis-Jenisnya



Perundungan atau lebih dikenal dengan kata bullying sudah menjadi fenomena yang kerap kita jumpai. Pada kesempatan ini, mari kita membahas lebih lanjut, apa itu bullying? Dan apa yang menjadi faktor munculnya serta jenis-jenis bullying?

Pengertian Bullying

Bullying adalah tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya. Selain itu, bullying merupakan salah satu bentuk dari perilaku agresi dengan kekuatan dominan pada perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang dengan tujuan mengganggu anak lain atau korban yang lebih lemah darinya.  Kata bullying sendiri berasal dari Bahasa Inggris, yaitu dari kata bull yang berarti banteng yang senang merunduk kesana kemari.

Victorian Departement of Education and Early Chilhood Development mendefinisikan bullying terjadi jika seseorang atau sekelompok orang mengganggu atau mengancam keselamatan dan kesehatan seseorang baik secara fisik maupun psokologis, mengancam properti, reputasi atau penerimaan sosial seseorang serta dilakukan secara berulang dan terus menerus.

Lihat juga: Mengenal psikologi forensik


Peran dalam Bullying

Ada empat peran yang muncul saat terjadi bullying, yaitu:

a. Bullies (pelaku bullying) yaitu seseorang yang secara fisik dan/atau emosional melukai orang lain secara berulang-ulang. Pelaku bullying juga cenderung memperlihatkan simptom depresi yang lebih tinggi daripada orang yang tidak terlibat dalam perilaku bullying dan simptom depresi yang lebih rendah daripada victim atau korban. Pelaku bullying cenderung mendominasi orang lain dan memiliki kemampuan sosial dan pemahaman akan emosi orang lain yang sama. 

b. Victim (korban bullying) yaitu seseorang yang sering menjadi target dari perilaku agresif, tindakan yang menyakitkan dan hanya memperlihatkan sedikit pertahanan melawan penyerangnya. Korban bullying cenderung menarik diri, depresi, cemas dan takut akan situasi baru.

c. Bully-victim yaitu pihak yang terlibat dalam perilaku agresif, tetapi juga menjadi korban perilaku agresif Bully victim menunjukkan level agresivitas verbal dan fisik yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak lain.

d. Netral yaitu pihak yang tidak terlibat dalam perilaku agresif atau bullying.


Faktor Perilaku Bullying

Berdasarkan beberapa temuan, terdapat beberapa faktor yang menjadi alasan mengapa perilaku bullying itu terjadi:

Lihat juga: 4 manfaat optimis dalam kehidupan kita sehari-hari

1. Keluarga. 

Pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah : orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh stress, agresi, dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orang tua mereka, dan kemudian menirunya terhadap teman-temannya. Jika tidak ada konsekuensi yang tegas dari lingkungan terhadap perilaku cobacobanya itu, ia akan belajar bahwa “mereka yang memiliki kekuatan diperbolehkan untuk berperilaku agresif, dan perilaku agresif itu dapat meningkatkan status dan kekuasaan seseorang”. Dari sini anak mengembangkan perilaku bullying.

2. Sekolah 

Pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini. Akibatnya, anakanak sebagai pelaku bullying akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi terhadap anak lain. Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah sering memberikan masukan negatif pada siswanya, misalnya berupa hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah;

3. Kelompok Sebaya

Anak-anak ketika berinteraksi dalam sekolah dan dengan teman di sekitar rumah, kadang kala terdorong untuk melakukan bullying. Beberapa anak melakukan bullying dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut.

4. Kondisi Lingkungan Sosial

Kondisi lingkungan sosial dapat pula menjadi penyebab timbulnya perilaku bullying. Salah satu faktor lingkungan social yang menyebabkan tindakan bullying adalah kemiskinan. Mereka yang hidup dalam kemiskinan akan berbuat apa saja demi memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak heran jika di lingkungan sekolah sering terjadi pemalakan antar siswanya.

5. Tayangan televisi dan media cetak 

Televisi dan media cetak membentuk pola perilaku bullying dari segi tayangan yang mereka tampilkan. Survey yang dilakukan Kompas memperlihatkan bahwa 56,9% anak meniru adegan-adegan film yang ditontonnya, umumnya mereka meniru geraknya (64%) dan kata-katanya (43%).

Jenis-Jenis Bullying

a. Bullying Fisik 

Penindasan fisik merupakan jenis bullying yang paling tampak dan paling dapat diidentifikasi di antara bentuk-bentuk penindasan lainnya, namun kejadian penindasan fisik terhitung kurang dari sepertiga insiden penindasan yang dilaporkan. Jenis penindasan secara fisik di antaranya adalah memukul, mencekik, menyikut, meninju, menendang, menggigit, memiting, mencakar, serta meludahi anak yang ditindas hingga ke posisi yang menyakitkan, serta merusak dan menghancurkan pakaian serta barangbarang milik anak yang tertindas. Semakin kuat dan semakin dewasa sang penindas, semakin berbahaya jenis serangan ini, bahkan walaupun tidak dimaksudkan untuk mencederai secara serius.

b. Bullying Verbal

Kekerasan verbal adalah bentuk penindasan yang paling umum digunakan, baik oleh anak perempuan maupun anak laki-laki. Kekerasan verbal mudah dilakukan dan dapat dibisikkan dihadapan orang dewasa serta teman sebaya, tanpa terdeteksi. Penindasan verbal dapat diteriakkan di taman bermain bercampur dengan hingar binger yang terdengar oleh pengawas, diabaikan karena hanya dianggap sebagai dialog yang bodoh dan tidak simpatik di antara teman sebaya. Penindasan verbal dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan, dan pernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual. Selain itu, penindasan verbal dapat berupa perampasan uang jajan atau barang-barang, telepon yang kasar, e-mail yang mengintimidasi, surat-surat kaleng yang berisi ancaman kekerasan, tuduhantuduhan yang tidak benar, kasak-kusuk yang keji, serta gosip.

c. Bullying Relasional 

Jenis ini paling sulit dideteksi dari luar. Penindasan relasionaladalah pelemahan harga diri si korban penindasan secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, pengecualian, atau penghindaran. Penghindaran, suatu tindakan penyingkiran, adalah alat penindasan yang terkuat. Anak yang digunjingkan mungkin akan tidak mendengar gosip itu, namun tetap akan mengalami efeknya. Penindasan relasional dapat digunakan untuk mengasingkan atau menolak seorang teman atau secara sengaja ditujukan untuk merusak persahabatan. Perilaku ini dapat mencakup sikap-sikap tersembunyi seperti pandangan yang agresif, lirikan mata, helaan napas, bahu yang bergidik, cibiran, tawa mengejek, dan bahasa tubuh yang kasar.

d. Cyber bullying 

Ini adalah bentuk bullying yang terbaru karena semakin berkembangnya teknologi, internet dan media sosial. Pada intinya adalah korban terus menerus mendapatkan pesan negative dari pelaku bullying baik dari sms, pesan di internet dan media sosial lainnya.

Lihat juga: Psikologi musik, 5 manfaat musik untuk psikologis kita

e. Seksual bullying

Adalah tindakan yang berbahaya dan memalukan seseorang secara seksual. Intimidasi seksual ini termasuk pemanggilan nama seksual atau cat-calling, gerakan vulgar, menyentuh, dan materi pornografi. 
Read More

Wednesday, September 11, 2019

Mengenal Psikologi Forensik Secara Singkat


Psikologi forensik adalah bidang yang menggabungkan praktik psikologi dan hukum. Mereka yang bekerja di bidang ini memanfaatkan keahlian psikologis yang berlaku untuk sistem peradilan.

Dewan Psikologi Forensik Amerika menggambarkan bidang ini sebagai penerapan psikologi untuk masalah-masalah yang melibatkan hukum dan sistem hukum. Minat dalam psikologi forensik telah tumbuh secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Semakin banyak program pascasarjana menawarkan gelar ganda dalam psikologi dan hukum sementara yang lain memberikan spesialisasi dalam psikologi forensik.

Beberapa psikolog memiliki gelar spesialis dalam psikologi forensik, tetapi sebagian besar adalah psikolog berlisensi yang memiliki gelar PhD atau PsyD. Para profesional ini dapat bekerja di bidang hukum pidana dan perdata.

Kata 'forensik' berasal dari kata Latin 'forensik,' yang berarti "forum," atau sistem pengadilan Roma Kuno.

Lihat juga: Teori kepribadian dalam psikologi

Sejarah

Meski psikologi forensik dianggap sebagai bidang spesialisasi yang agak baru dalam psikologi, bidang ini muncul pada bagian awal dalam sejarah psikologi. Para filsuf dan ilmuwan telah lama berusaha memahami apa yang membuat orang melakukan kejahatan, berperilaku agresif, atau terlibat dalam perilaku antisosial.

Psikologi forensik adalah bidang spesialisasi yang relatif baru. Faktanya, psikologi forensik baru saja diakui secara resmi sebagai area khusus oleh American Psychological Association pada tahun 2001. Meskipun demikian, bidang psikologi forensik berakar sejak tanggal di laboratorium psikologi pertama Wilhelm Wundt di Leipzig, Jerman. 

Saat ini, psikolog forensik tidak hanya tertarik untuk memahami mengapa perilaku seperti itu terjadi, tetapi juga dalam membantu meminimalkan dan mencegah tindakan tersebut.

Bidang ini telah mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir karena semakin banyak siswa tertarik pada cabang psikologi terapan ini. Film-film populer, program-program televisi, dan buku-buku telah membantu mempopulerkan bidang itu, semua sering kali menggambarkan pahlawan-pahlawan brilian yang menyelesaikan kejahatan berat atau melacak para pembunuh menggunakan tenaga ahli psikologi.

Sementara penggambaran psikologi forensik di media populer sudah pasti dramatis dan menarik perhatian, penggambaran ini belum tentu akurat. Yang menjelaskan, psikolog forensik memang memainkan peran penting dalam sistem peradilan pidana. Ini bisa menjadi karir yang menyenangkan bagi siswa yang tertarik untuk menerapkan prinsip-prinsip psikologis pada sistem hukum.

Apa yang Dilakukan Psikolog Forensik?

Jika Anda menikmati belajar tentang ilmu perilaku manusia dan hukum, maka psikologi forensik mungkin akan menarik minat Anda. Bidang ini telah menyaksikan pertumbuhan drastis dalam beberapa tahun terakhir, karena semakin banyak siswa tertarik pada cabang psikologi terapan ini. Namun, psikologi forensik lebih dari sekadar pandangan glamor yang ditampilkan dalam acara televisi, film, dan buku.

Lihat juga: 4 manfaat optimisme dalam kehidupan sehari-hari

Peran Pekerjaan Umum

Beberapa fungsi yang biasanya dilakukan dalam psikologi forensik meliputi:

Evaluasi kompetensi
Rekomendasi hukuman
Evaluasi risiko pengulangan
Kesaksian sebagai saksi ahli
Evaluasi hak asuh anak
Penelitian akademis tentang kriminalitas
Konsultasikan dengan penegak hukum
Perawatan pelanggar pidana
Memberikan layanan psikologis kepada narapidana dan pelanggar
Konsultan percobaan yang membantu pemilihan juri, persiapan saksi, atau strategi hukum
Desain program pemasyarakatan

Dalam banyak kasus, orang yang bekerja di psikologi forensik tidak harus lulusan "psikolog forensik." Individu-individu ini mungkin psikolog klinis, psikolog sekolah, ahli saraf, atau konselor yang meminjamkan keahlian psikologis mereka untuk memberikan kesaksian, analisis, atau rekomendasi dalam kasus-kasus hukum atau pidana.

Misalnya, seorang psikolog klinis mungkin menyediakan layanan kesehatan mental seperti penilaian, diagnosis, dan perawatan bagi individu yang telah melakukan kontak dengan sistem peradilan pidana. Dokter mungkin akan diminta untuk menentukan apakah seorang tersangka penjahat menderita penyakit mental, atau mungkin diminta untuk memberikan perawatan kepada individu yang menderita penyalahgunaan zat dan masalah kecanduan.

Contoh lain adalah seorang psikolog sekolah. Sementara orang-orang dalam profesi ini biasanya bekerja dengan anak-anak di lingkungan sekolah, seorang psikolog sekolah yang bekerja dalam psikologi forensik dapat mengevaluasi anak-anak dalam kasus-kasus yang diduga pelecehan, membantu mempersiapkan anak-anak untuk memberikan kesaksian di pengadilan, atau menawarkan kesaksian dalam sengketa hak asuh anak.

Apa yang Berbeda dari Psikologi Forensik?

Jadi apa sebenarnya yang membuat psikologi forensik berbeda dari bidang spesialisasi lain seperti psikologi klinis? Biasanya, tugas seorang psikolog forensik cukup terbatas dalam hal ruang lingkup dan lamanya. Seorang psikolog forensik diminta untuk melakukan tugas yang sangat spesifik dalam setiap kasus individu, seperti menentukan apakah seorang tersangka kompeten secara mental untuk menghadapi tuntutan.
Berbeda dengan pengaturan klinis khas di mana klien secara sukarela mencari bantuan atau evaluasi, seorang psikolog forensik biasanya berurusan dengan klien yang tidak ada di sana atas kehendak bebas mereka sendiri. Ini dapat membuat penilaian, diagnosis, dan perawatan jauh lebih sulit karena beberapa klien dengan sengaja menolak upaya bantuan.
Read More