Apa yang Terjadi Bila Orangtua Otoriter Pada Anak?

keluarga otoriter


Sebuah keluarga menjadi langkah pertama bagi seorang anak untuk belajar dan mendapatkan pemahaman tentang dunianya. Sebagai makhluk sosial, anak akan belajar dan mendapat pengaruh paling besar dari lingkungan keluarga yang dimilikinya. Peran ini akan memberi efek jangka panjang bagi perkembangan seorang anak. Keluarga setidaknya mampu memberi pendidikan dasar dalam membentuk perilaku seorang anak. 

Semua hal tersebut nantinya akan memberikan dampak pada pola tingkah laku anak terhada orang lain dalam masyarakat. Selain keluarga sebagai tempat awal bagi proses sosialisasi anak, keluarga juga merupakan tempat sang anak mengharapkan dan mendapatkan pemenuhan kebutuhan. Kebutuhan akan kepuasan emosional telah dimiliki bayi yang baru lahir. Peranan dan tanggung jawab yang harus dimainkan orang tua dalam membina anak adalah besar. 

Namun, kenyataannya dalam melakukan peran tersebut, baik secara sadar maupun tidak sadar, orang tua dapat membangkitkan rasa ketidakpastian dan rasa bersalah pada anak. Sejak bayi masih dalam kandungan, interaksi yang harmonis antara ayah dan ibu menjadi faktor amat penting. Bila suami kurang memberikan dukungan dan kasih saying selama kehamilan, sadar atau tidak sadar sang ibu akan merasa bersalah atau membenci anaknya yang belum lahir. Anak yang tidak dicintai oleh orang tua biasanya cenderung menjadi orang dewasa yang membenci dirinya sendiri dan merasa tidak layak untuk dicintai, serta dihinggapi rasa cemas. Perhatian dan kesetiaan anak dapat terbagi karena tingkah laku orang tuanya. Timbul rasa takut yang mendalam pada anak-anak di bawah usia enam tahun jika perhatian dan kasih saying orang tuanya berkurang, anak merasa cemas terhadap segala hal yang bisa membahayakan hubungan kasih saying antara ia dan orang tuanya.

Dr. Halim G Ginott memperingatkan orang tua akan besarnya pengaruh ancaman yang dilontarkan kepada anak. Ia mengatakan “Yang paling ditakuti anak-anak ialah tidak dicintai atau ditinggalkan oleh orang tuanya. Jadi jangan sekali-kali mengancam akan meninggalkan anak, secara bergurau maupun dengan marah”.

Sikap otoriter sering dipertahankan oleh orangtua dengan dalih untuk menanamkan disiplin pada anak. Sebagai akibat dari sikap otoriter ini, anak menunjukkan sikap pasif (hanya menunggu saja), dan menyerahkan segalanya kepada orangtua. Di samping itu, menurut Watson, sikap otoriter, sering menimbulkan pula gejala-gejala kecemasan, mudah putus asa, tidak dapat merencanakan sesuatu, juga penolakan terhadap orang lain, lemah hati atau mudah berprasangka. Tingkah laku yang tidak dikehendaki pada diri anak dapat merupakan gambaran dari keadaan di dalam keluarga.

Hal yang paling penting adalah bahwa kehidupan seorang anak hendaknya tidak diatur oleh kebutuhan orangtua dan menjadikan anak sebagai obyek untuk kepentingan orangtua. Efisiensi menurut konsep orangtua ini akan mengeringkan potensi anak, menghambat perkembangan emosional anak, serta menelantarkan minat anak.

Astrid Lindgern, seorang penulis wanita dari Swedia yang banyak menulis buku tentang anak mengatakan: “Seorang anak yang diperlakukan dengan kasih sayang oleh orangtuanya dan mencintai orangtuanya, akan menghasilkan suatu hubungan yang penuh kasih sayang dalam lingkungannya. Si anak akan memupuk sikap ini selama hidupnya”

Beberapa orangtua membenarkan penggunaan kekuasan dengan beranggapan bahwa hal tersebut cukup efektif dan tidak berbahaya. Tetapi hal itu bukan berarti bahwa penggunaan kekuasaan dan otoritas itu tidak merugikan; penggunaan kekuasan dan otoritas itu akan lebih berbahaya apabila orangtua tidak konsisten. Apabila orangtua merasa bahwa mereka perlu menggunakan otoritas, maka konsistensi di dalam penerapannya akan memberikan kesempatan yang lebih banyak pada anak untuk mengenali tingkah laku mana yang baik atau tidak baik. 

Terlihat jelas bahwa orangtua yang memiliki masalah berat dalam hubungannya dengan anak-anak mereka adalah orang-orang yang memiliki konsep-konsep yang sangat kuat dan kaku mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Semakin yakin orangtua atas kebenaran nilai-nilai dan keyakinan mereka, semakin cenderung orangtua itu memaksakannya pada anak mereka. Orangtua semacam itu biasanya juga cenderung untuk tidak dapat menerima tingkah laku yang nampaknya menyimpang dari nilai-nilai dan keyakinan mereka.



Solihin, L. (2004). Tindakan kekerasan pada anak dalam keluarga. Jurnal Pendidikan Penabur, 3(3), 133.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel