Memahami Malu dalam Perspektif Psikologi

Malu dalam Perspektif Psikologi


Bagaimana malu dalam perspektif psikologi? Kerap kali kita mengalami emosi tersebut namun sulit membahasakan atau memahami apa yang sebenarnya terjadi. Terdapat beberapa konsep atau istilah untuk membahas atau menjawab pertanyaan di atas. 

Sekiranya, konsep teori seperti shame, shyness, dan embarrassment dapat digunakan secara bergantian untuk menjelaskan malu di dalam kajian psikologi. Hal ini merujuk pada penggunaan istilah yang beragam dalam menggambarkan emosi malu menggunakan bahasa Inggris. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan emosi malu di dalam bahasa Inggris dibedakan menjadi shame, shy atau shyness serta embarrassment. 

Shame jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti perasaan malu. Sementara itu, shy atau shyness jika diterjemahkan berarti rasa malu atau malu yang bercampur segan dan embarrassment jika diterjemahkan berarti keadaan memalukan. Upaya dalam mendefenisikan shame di dalam kajian psikologi hingga saat sekarang ini masih belum menemukan titik terang. Kebanyakan peneliti mendefenisikan shame secara konseptual berdasarkan perspektif maupun pendekatan disiplin ilmu yang digunakan. 

Hal inilah yang kemudian memunculkan keragaman defenisi yang dikemukakan oleh peneliti shame. Permasalahan mengenai beragamnya defenisi shame yang ada merupakan salah satu masalah krusial yang menyebabkan kelemahan metodologi dalam melakukan pengukuran shame.

Pengertian Shame, Shyness, Embarrassment

Shame adalah emosi menyakitkan yang biasanya disertai perasaan menjadi ‘kecil’, tidak berharga, serta ketidakberdayaan. Shame juga merupakan perasaan menyakitkan yang berdampak negatif pada perilaku interpersonal. Selain itu, shame berdampak dengan emosi dasar yang muncul sebagai kecamanan terhadap diri didalam lingkungan sosial. Secara sederhana, dapat disimpulkan bahwa shame adalah perasaan menyakitkan yang membuat seseorang merasakan dirinya menjadi hina, tidak berdaya serta tidak berharga yang mana dapat berdampak negatif pada perilaku interpersonal.

Sedang konsep shyness, hal ini merupakan sebuah konsep yang sulit untuk didefenisikan. Pada awal tahun 1980-an, barulah mulai banyak peneliti yang melakukan verifikasi empiris mengenai konsep shyness. Menurut Mark L. leary (1985) sebagian besar konseptualisasi penelitian shyness yang ada didalam kajian psikologi dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori besar:

a) Kategori pertama, konseptualisasi shyness yang didefenisikan sebagai pengalaman subjektif yang ditandai dengan ketakutan dan kegelisahan dalam interaksi interpersonal. 

b) Kategori kedua, konseptualisasi shyness yang didefenisikan sebagai penghambatan, keengganan, atau penghindaran sosial. 

c) Kategori ketiga, konseptualiasi shyness yang didefenisikan sebagai sindrom psikologis yang mencakup kecemasan sosial subjektif sekaligus menghambat perilaku sosial. 

Berdasarkan dari ketiga kategori konseptualisasi shyness di atas, Mark L. Leary membuat sebuah kesimpulan dengan mendefisikan shyness sebagai sindrom perilaku afektif yang ditandai oleh kecemasan sosial dan hambatan interpersonal yang dihasilkan dari prospek atau adanya evaluasi interpersonal. Konseptualiasi yang dilakukan oleh Mark L. Leary ini merupakan sebuah konseptualisasi yang mengakomodir shyness sebagai sebuah konsep yang melingkupi seluruh konseptualisasi kajian shyness di dalam disiplin ilmu psikologi.

Konsep teori malu yang terakhir adalah embarrassment. Embarrassment pada awalnya berkembang di dalam disiplin ilmu sosiologi. Oleh sebab itu, sebagian besar konsep teoritis embarrassment di dalam ilmu psikologi diambil dari studi-studi embarrassment terdahulu yang dilakukan oleh peneliti ilmu sosiologi. Namun pada akhirnya, psikologi pun mengembangkan konsepnya sendiri terkait dengan masalah tersebut. 

Embarrassment berfokus pada citra publik seseorang terhadap reaksi nyata maupun tidak nyata dari orang lain terhadap perilaku tidak pantas yang ditampilkan oleh orang tersebut. Selain itu, embarrassment juga dapat dipahami sebagai suatu kondisi yang tidak menyenangkan dari perasaan hina dan kecewa yang mengikuti ancaman publik terhadap identitas sosial positif seseorang. Dapat disimpulkan bahwa embarrassment adalah perasaan hina dan kecewa yang mengikuti ancaman publik terhadap identitas sosial seseorang yang berasal dari kondisi yang tidak diinginkan.

Sekiranya, malu dalam perspektif psikologi masih terus berkembang dan dipelajari. Pada masanya nanti, para peneliti akan merumuskan langkah atauc ara baru untuk mengetahui dan memperkenalkannya kepada kita semua. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel