Apakah Kamu Menyimpan Cinta Platonis?

cinta platonis


Istilah cinta Platonis tertera dalam karya Plato yang berjudul ‘Symposium’, di mana Plato mengaitkan cinta kepada teorinya tentang Idea. Idea menurut Plato adalah, segala konsep Ideal itu hanya ada pada angan-angan, atau hanya berada dalam alam pikiran kita. Sama seperti cinta, Plato berpikir bahwa cinta yang sempurna hanyalah ada di dalam diri manusia. Di mana relasi yang penuh afeksi dan kasih sayang itu ada, namun rasa ketertarikan secara seksual tidaklah eksis, menuntut untuk mencintai jiwa lebih daripada raga. Definisi dari cinta Platonis ini disederhanakan oleh beberapa orang menjadi, Sebuah cinta yang penuh kasih sayang dan afeksi, namun tidak memiliki hasrat seksual’. 

Di mana cinta yang sempurna tidaklah harus ditunjukkan melalui sentuhan ataupun kata-kata, di mana cinta sejati bisa diungkapkan meski dalam diam. Ada istilah bernama Armor Platonicus, yang dipakai oleh Marsillo Ficino pada awal abad ke-15, yang merujuk kepada afeksi Sokrates pada murid-muridnya. Rasa sayang Sokrates kepada murid-muridnya termasuk Plato, bisa menjadi dasar dari terciptanya teori Cinta Platonis.

Plato adalah seorang filsuf tersohor yang berasal dari Yunani. Banyak teori yang sudah dikemukakan oleh Plato, baik mengenai pandangannya akan idea, atau tentang keindahan. Semua teori yang Plato kemukakan memiliki pengaruh besar dari Sokrates, guru dari Plato. Dan dari semua pembahasan yang Plato kemukakan, Plato membahas soal ‘Cinta’. Teori Plato mengenai Cinta sendiri didapatkan setelah ia bertanya kepada guru besarnya Sokrates, di mana Plato akhirnya mendapatkan jawaban dari guru yang ia cintai. Plato dan juga Sokrates adalah contoh nyata dari sebuah cinta platonis, di mana Plato begitu menyayangi dan menghormati sang guru, dan begitu terpukul ketika Sokrates harus menjalani hukuman mati. 

Cinta tidak hanya terpaku pada hubungan kekasih atau suami istri saja, seperti yang sering digambarkan di dalam drama dan juga novel romansa. Kembali kepada Plato dan Sokrates, dapat dilihat hubungan Platonis yang erat diantara keduanya. Setiap karya Plato mengandung unsur Sokratik yang mengarah kepada pengaruh gurunya Sokrates, karena kekaguman atau rasa hormat Plato yang begitu besar pada sang guru. Plato bertanya akan cinta dan pernikahan kepada Sokrates, dan Plato akhirnya menyimpulkan akan pendapatnya mengenai cinta. Plato bersedih ketika Sokrates harus dihukum mati, karena rasa sayangnya terhadap sang guru memang murni adanya. Meski keduanya hanyalah seorang guru dan murid, yang tidak memiliki ikatan cinta secara seksual ataupun ikatan keluarga, mereka saling memperhatikan satu sama lain. Itu, adalah contoh dari hubungan Platonis.

Tidak hanya hubungan Sokrates dan Plato, dalam kehidupan sehari-hari, mungkin akan ditemukan pula banyak orang yang menjalani hubungan Platonis ini, disadari ataupun tidak disadari. Hubungan platonis dapat dilihat dari sebuah film yang dibintangi Denzel Washington yang berjudul “John Q”, di mana seorang ayah rela mengorbankan harga dirinya, menjadi kriminal yang menyandera satu rumah sakit agar anaknya tidak mati, dengan mengancam bahwa jika anaknya tidak diberi perawatan, maka ia akan melakukan sesuatu yang buruk kepada setiap orang yang ia sandera. Cinta seorang ayah yang begitu besar ditunjukkan dari tokoh John yang rela dilabeli sebagai kriminal hanya demi anaknya yang sakit.

Film tersebut adalah contoh kecil dari sebuah hubungan Platonis. Bagaimana dengan di kehidupan sehari-hari? Sebenarnya, ada banyak contoh yang dapat dilihat dalam kehidupan manusia. Bila melihat seorang Ibu yang kelelahan namun tetap rela bangun pagi demi memberikan anaknya bekal makan siang untuk di sekolah, itu adalah cinta Platonis. Bila melihat seseorang yang memberikan jaketnya untuk temannya yang sedang sakit, itu adalah cinta Platonis. Cinta tanpa syarat, cinta yang murni psikologis, di mana tak harus ada ikatan ataupun sentuhan penuh hasrat diantara berjalannya sebuah hubungan.

Cinta Platonis sendiri adalah sebuah hubungan yang dapat dijalani secara sepihak atau dua pihak. Terkadang seorang anak lupa akan cintanya kepada Ibu ketika ia sudah memiliki kekasih atau pasangan hidup. Namun Sang Ibu tidak pernah lupa akan cintanya kepada sang anak, yang menjadikan cinta Platonis menjadi sepihak. Namun ada juga dua sahabat yang memang saling menyayangi satu sama lain semenjak lama, dan terus memiliki hubungan pertemanan yang erat sampai mereka lanjut usia. Itu adalah contoh dari hubungan Platonis yang dijalani oleh dua pihak. Lalu, apakah kamu menyimpan cinta platonis? 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel