Teori Kepribadian dalam Psikologi - IndoPositive
Latest Update

Tuesday, September 10, 2019

Teori Kepribadian dalam Psikologi



Apakah yang dimaksud dengan teori kepribadian? Dalam lingkungan psikologi, kepribadian menjadi kajian utama guna memahami berbagai hal abnormal atau situasi yang terjadi pada manusia. Melalui teori kepribadian yang beragam, kita dapat mempelajari sekumpulan anggapan atau konsep yang berkaitan dengan tingkah laku manusia. 

Istilah “kepribadian” (personality) berasal dari kata latin “persona” yang bermakna topeng. Sesuatu yang kerap dianggap sebagai gambaran perilaku, watak atau pribadi seseorang. Bagi bangsa Yunani, “persona” berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain. Jadi konsep awal dari pengertian personality (pada masyarakat awam) merupakan tingkah laku yang ditempatkan pada lingkungan sosial. Pada bagian ini, bermunculanlah berbagai penjelasan tentang teori kepribadian. 


Dengan teori kepribadian yang ada, kita dapat menggambarkan perilaku atau kepribadian manusia secara rinci dan sistematis. Selain itu, berbagai teori yang ada dapat menjadi bahan untuk memberi predikasi hal-hal yang mungkin terjadi pada manusia.

Pembahasan terkait teori kepribadian dapat memberikan jawaban atas pertanyaan, apa, mengapa dan bagaimana perilaku manusia. Dalam sebuah teori kepribadian, kita dapat menemukan lima dimensi seperti 1) pembahasan tentang struktur (berkaitan dengan aspek kepribadian yang bersifat stabil atau menetap, serta menjadi unsur pembentuk sosok kepribadian), 2) pembahasan tentang proses (konsep-konsep tentang motivasi dalam memberikan penjelasan tingkah laku atau kepribadian), 3) pembahasan tentang pertumbuhan dan perkembangan (berbagai perubahan struktur sejak masa bayi hingga mencapai kematangan dewasa, perubahan pada tiap proses yang ada, dan berbagai hal yang menentukannya), 4) pembahasan tentang psikopatologi (hakikat gangguan kepribadian atau perilaku beserta asal-usul atau proses perkembangannya), 5) pembahasan tentang perubahan perilaku (konsepsi terkait bagaimana tingkah laku dapat dimodifikasiaatau dapat diubah. 

Sedangkan perkembangan teori kepribadian yang ada saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Terdapat faktor historis dan kontemporer. Faktor historis sendiri meliputi a) pengobatan klinis Eropa, b) psikometrik, c) behaviorisme, dan d) Psikologi gestalt

Pengobatan klinis di Eropa

Upaya pengobatan, sepanjang sejarah selalu dihubungkan dengan konsepsi tentang kepribadian. Demikian halnya dengan apa yang dilakukan di Eropa pada abad ke-18 dan ke-19, terutama di Perancis. Atas dasar konsepsi-konsepsi fisiologis dan aktivitas-aktivitas mental manusia, Philipe Pinel (1745-1926), seorang dokter dari Perancis, menggambarkan gangguan kepribadian psikosis sebagai akibat dari kerusakan fungsi otak.

Seorang dokter dari Jerman, Emil Kraeplin (1856-1926), membuat klasifikasi gangguan kepribadian berdasarkan konsepsi tentang psikosis yang fisikalistis. Ditinjau dari perkembangan teori kepribadian, apa yang dilakukan Kraeplin merupakan langkah besar karena gangguan kepribadian sudah dirumuskan dan diklasifikasikan secara ilmiah.
Pengaruh terbesar dari sejarah pengobatan klinis di Eropa terhadap perkembangan kepribadian adalah yang terjadi pada abad ke-20, yaitu ketika Sigmund Freud menuliskan konsepsi-konsepsinya yang dia susun berdasarkan temuannya dalam menyembuhkan penderita neurosis, khususnya histeria. Pengaruh Freud dengan Psikoanalisisnya terhadap teori kepribadian dapat dilihat dari fakta bahwa hampir seluruh teori kepribadian modern mengambil sebagian atau setidak-tidaknya mempersoalkan konsepsi-konsepsi Freud dalam penyusunan teori kepribadian.

Psikometrik

Psikometrik atau pengukuran psikologi memberikan pengaruh yang sangat signifikan dalam perkembangan teori kepribadian. Sebelum munculnya psikometrik, ada anggapan bahwa fungsi-fungsi psikologis manusia seperti kecerdasan, bakat, minat, motif, dst., sangat sulit bahkan tidak mungkin untuk bisa diukur.

Berbicara tentang psikometrik dari sisi historis, tidak terlepas dari pembahasan mengenai apa yang dilakukan oleh Gustav Theodor Fecher (1801-1887). Fechner, yang beranggapan bahwa jiwa itu identik dengan raga, banyak melakukan penelitian, khususnya tentang pengideraan dengan metode eksperimen. Apa yang telah dilakukan oleh Fecher menjadi pendorong bagi para ahli yang muncul kemudian untuk mengembangkan dan menggunakan pendekatan psikometrik untuk kaitan antara aspek fisik dengan aspek mental. Dengan berkembangnya psikometrik memungkinkan dilakukannya penelitian di bidang kepribadian.

Behaviorisme

Behaviorisme merupakan aliran psikologi yang lahir di Amerika Serikat dipelopori oleh John B. Watson (1878-1958). Pengaruh behaviorisme terhadap perkembangan teori kepribadian terletak pada upaya-upaya dan anjurannya untuk memandang dan meneliti tingkah laku manusia secara objektif. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para behavioris dengan metode eksperimen mampu memberikan sumbangan besar bagi terciptanya konsep-konsep tentang kepribadian yang ketepatannya bisa diuji secara empiris.

Psikologi Gestalt

Psikologi Gestalt merupakan aliran psikologi yang lahir di Jerman dan yang dipelopori oleh Max Wertheimer (1880-1943), Wolfgang Kohler (1887- 1967), dan Kurt Koffka (18886-1941). Prinsip pertama dan utama dari psikologi Gesltalt adalah bahwa suatu fenomena hanya dan harus dimengerti sebagai suatu totalitas atau keseluruhan. Demikian halnya dengan manusia, berikut kesadaran dan tingkah lakunya hanya dapat dipahami jika hal itu dilihat sebagai suatu totalitas. Beberapa teoris kepribadian terkemuka yaitu Adler, Goldstein, Allport, Maslow, dan Rogers mengembangkan teori kepribadian berdasarkan prinsip holistik atau totalitas dari psikologi Gestalt.

Prinsip kedua psikologi Gestalt, yang juga ikut mempengaruhi para teoris keprbadian adalah prinsip bahwa fenomena merupakan data mendasar bagi psikologi. Untuk itu dalam memahami perilaku manusia maka peneliti atau pengamat harus berusaha merasakan dan menghayati apa yang dialami oleh subjek yang diamati.

Lalu, pada faktor kontemporer yang mempengaruhi perkembanga teori kepribadian mencakup faktor dari dalam dan dari luar psikologi. Faktor-faktor yang bersumber dari dalam bidang psikologi yaitu: a. munculnya perluasan bidang psikologi, seperti psikologi lintas budaya (cross-cultural psychology), dan b. Studi tentang proses-proses kognitif dan motivasi.

Faktor-faktor kontemporer dari luar bidang psikologi yang mempengaruhi perkembangan teori kepribadian antara lain berkembangnya aliran filsafat eksistensialisme, perubahan sosial budaya yang pesat, dan berkembangnya teknologi komputer. Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang menekankan kebebasan, penentuan diri, dan keberubahan manusia, mempengaruhi para teoris kepribadian eksistensial dan humanistik. Perubahan sosial budaya telah memberikan arah baru kepada penelitian dan penyusunan teori kepribadian. Sedangkan berkembangnya teknologi komputer membuka peluang yang luas bagi penelitian secara besar-besaran dan cermat.


Beberapa Teori Kepribadian dalam Psikologi

1. Psikoanalisis Sigmund Freud

Teori psikoanalisis adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini mengasumsikan bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek psikologis tersebut, yang pada umumnya terjadi pada anak-anak usia dini.

Pemahanan Freud tentang kepribadian manusia didasarkan pada pengalaman-pengalaman dengan pasiennya, analisis tentang mimpinya, dan bacaannya yang luas tentang beragam literature ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Pengalaman-pengalaman ini menyediakan data yang mendasar bagi evolusi teorinya. Baginya, teori mengikuti observasi, dan konsepnya tentang kepribadian terus mengalami revisi selama 50 tahun terakhir hidupnya.
Meskipun teorinya berevolusi, Freud menegaskan bahwa psikoanalisis tidak boleh jatuh ke dalam elektisisme, dan murid-muridnya yang menyimpang dari ide-ide dasar ini segera akan dikucilkan secara pribadi dan professional oleh Freud.

Freud menganggap dirinya sebagai Ilmuan. Namun, definisinya tentang ilmu agak berbeda dari yang dianut kebanyakan psikolog saat ini. Freud lebih mengandalkan penalaran deduktif ketimbang metode riset yang ketat, dan ia melakukan observasi secara subjektif dengan jumlah sampel yang relatif kecil. Dia menggunakan pendekatan studi kasus hampir secara ekslusif, merumuskan secara khas hipotesis terhadap fakta-fakta kasus yang diketahuinya.

2. Teori Kepribadian Alfred Adler

Ciri pertama teori kepribadian Adler bahwa manusia pada mulanya dimotivasikan oleh dorongan-dorongan sosial dan bukan dorongan seksual seperti yang dikatakan Freud. Dorongan sosial adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir, meskipun tipe-tipe khusus hubungan dengan orang dan pranata-pranata sosial yang berkembang ditentukan oleh corak masyarakat tempat orang itu dilahirkan. Dalam satu segi, pandangan Adler sama-sama bersifat biologis seperti Freud dan Jung. Ketiganya berpendapat bahwa seseorang mempunyai kodrat inheren yang membentuk kepribadiannya. Freud menekankan seks, Jung menekankan pola-pola pemikiran primordial, serta Adler menekankan minat sosial.

Ciri kedua dari Adler bagi teori kepribadian adalah konsepnya mengenai diri yang kreatif. Tidak seperti ego Freud, yang terdiri dari kumpulan proses psikologis yang melayani tujuan insting-insting. Diri yang kreatif merupakan sistem subjektif yang sangat dipersonalisasikan, yang menginterpretasikan danmembuat pengalaman-pengalaman organisme penuh arti. Diri kreatif mencari pengalaman-pengalaman yang membantu pemenuhan gaya hidup sang pribadi yang unik, apabila pengalaman-pengalaman ini tidak ditemukan di dunia, maka diri akan berusaha menciptakannya.

Ciri ketiga psikologi Adler yang membedakannya dari psikoanalisis klasik, bahwa setiap orang merupakan konfigurasi unik dari motif-motif, sifat-sifat, minat-minat dan nilai-nilai; setiap perbuatan yang dilakukan orang membawa corak khas gaya hidupnya sendiri. Manusia berusaha berjuang mengembangkan gaya hidup unik, dan dorongan seksual me­mainkan peranan yang kecil. Sebenarnya, cara orang memuaskan kebutuhan-kebutuhan seksualnya ditentukan oleh gaya hidupnya, bukan sebaliknya.

Menurut Adler mahluk hidup adalah suatu kesatuan sosial yang tidak dapat dipiahkan. Mereka menghubungkan dirinya dengan orang-orang lain disekitar mereka dalam usaha kerja sama sosial, menempatkan kesekjahteraan umum diatas keinginan diri sendiri, dan mendapatkan gaya hidup yang bersifat lebih kuasa dalam organisasi social. Adler memeiliki sumbangan pemikiran yang besar yaitu pertama, penekanan determinan sosial dari tingkah laku, kedua, konsep tentang mengkreatifkan diri, dan ketiga, penekanan pada cirri khas dari masing-masing kepribadian.

Adler mengembangkan pokok-pokok pikirannya sehingga menjadi ciri khusus dari pemikiran Adlerian yaitu:
1. Fictional finalism (Tujuan Hidup)
2. Dorongan keakuan
3. Perasaan rendah diri
4. Dorongan kemasyarakatan
5. Gaya hidup
6. Daya kreatif

3. Teori Kepribadian Carl Gustav Jung

Jung mulai mengembangkan teori tentang Type - yang kemudian dikenal dengan Tipologi Jung, dari pengamatan terhadap hubungan Sigmund Freud dengan para pengikutnya, termasuk di antaranya Alfred Adler. Adler dan Freud tidak sependapat tentang asal-muasal Neurosis. Bagi Freud, asal atau sebab Neurosis adalah konflik seksual, bagi Adler adalah konflik sosial khususnya keinginan terhadap kekuasaan. Perbedaan ini, sebagaimana diamati oleh Jung, adalah merupakan perbedaan cara pandang dalam mengalami dunia luar. Sebagian orang akan memiliki kecenderungan “ke dalam” (inwardly-oriented), sebagian lagi “outwardly”. 

Melalui penjelajahan literatur sejarah, Jung menemukan hal yang sama misalnya perbedaan ideologis antara Carl Spittler dan Johann Wolfgang Goethe, antara Apollo dan Dionysius. Jung melihat Freud sebagai seorang yang Extraversi sedangkan Adler sebagai Introversi. Perbedaan-perbedaan inilah sangat mungkin yang merupakan faktor penyebab perpisahan di antara Freud dan Jung (yang juga seorang Introvert).

Introvert menaruh perhatian terhadap faktor-faktor subjektif (subjective factors) dan tanggapan internal (inner response). Orang dengan tipe ini akan menikmati kesendiriannya dan akan mencurahkan perhatiannya terhadap hal-hal yang sifatnya subyektif. Dan oleh karenanya ia akan tampak lebih bisa mandiri dalam melakukan penilaian (judgement). Seorang introvert secara relatif akan memiliki teman yang lebih sedikit namun ia akan sangat setia, loyal terhadap mereka. Ia akan tampak sebagai pemalu dalam situasi sosial, dan mungkin juga sangat hati-hati, pesimistis dan kritis.

Sebaliknya, seorang Extrovert akan menaruh perhatian lebih pada dunia di luar dirinya orang, kejadian dan benda atau barang lain, dan akan dapat dengan mudah menjalin hubungan dengan mereka. Orang tipe ini akan memiliki kecenderungan untuk superficial, siap untuk menerima dan mengadopsi conventional standard, tergantung dalam usaha untuk memberikan kesan yang baik.

Tipe kepribadian ini akan berpengaruh terhadap perasaan, pikiran dan perilaku seseorang, dan ia akan berada di bawah kendali Ego. Tipe yang tidak dominan dimana ia tidak berada di bawah kendali Ego, akan tetap berada di alam Bawah Sadar. Misalnya seorang introvert yang mencoba untuk mengungkapkan minat atau kesenangannya, sangat mungkin akan bercerita tentang sesuatu yang sangat unik dan spesifik yang tidak dikenal atau diketahui oleh orang kebanyakan (misalnya tentang bunga anggrek spesies tertentu yang hanya ada di Himalaya, atau tentang motif batik yang begitu rumit). 

Sekalipun Jung memakai istilah Tipologi atau Type, dia tidak bermaksud untuk mengkotak-kotakkan orang sebagaimana banyak kritik menyebutkan tentang teori kepribadian Jung ini. Jung menempatkan tipologi ini sebagai Dimensi (dimension) : setiap orang memilikinya, bagi sebagian orang ia lebih banyak berada diKesadarannya, sementara bagi sebagian orang lain lebih banyak berada di Bawah Sadarnya. Tendensi psikologis ini merupakan alat Bantu untuk memahami dan menghargai orang lain atau cara-cara mereka berhadapan dan menghadapi dunia (di luar diri) nya.

Banyak orang yang tidak begitu akrab dengan teori psikologi mengenal Jung melalui Tipologi, misalnya melalui Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) yang biasanya banyak digunakan sebagai alat Bantu (psikologis) dalam perkawinan atau industri (seleksi). Melalui MBTI orang akan bisa mengatakan bahwa saya adalah tipe INFP, ESTJ atau satu di antara 14 kombinasi tipe-tipe ini. Alat ukur lain yang terkenal adalah Gray-Wheelwrights Jungian Type Survey (GWJTS), Singer-Loomis Inventory of Personality (SLIP) dan Keirsey Temperament Sorter (KTS). Alat-alat ukur tersebut semuanya mendasarkan diri pada teori Jung.

Menurut teori psikoanalisa dari Jung ada dua aspek penting dalam kepribadian yaitu sikap dan fungsi. Sikap terdiri dari introversion dan ekstroversion, sedangkan fungsi terdiri dari thinking, feeling, sensing dan intuiting.


Selain ketiga tokoh di atas, masih ada banyak teori-teori kepribadian yang menarik untuk dikaji. Mempelajari teori kepribadian juga akan membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang diri kita sebenarnya. 


EmoticonEmoticon