Mengenali Emosi Dasar Pada Bayi: Sebuah Alternatif Terapi - IndoPositive
Latest Update

Thursday, August 29, 2019

Mengenali Emosi Dasar Pada Bayi: Sebuah Alternatif Terapi



Pendekatan psikoterapi sejauh ini masih didominasi oleh pendekatan terapi kongitif dan terapi perilaku kognitif atau cognitive-behavioral theraphy (CBT). Namun ternyata, emosi-emosi yang dimiliki bayi sejak kelahiran dapat menawarkan alternatif terapi jenis lain. Tentu saja, berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa terdapat banyak sekali alasan yang menjadikan CBT dianggap lazim sebagai salah satu pendekatan terapi yang baik. Karena secara umum, pendekatan terapi jenis ini dapat dilakukan untuk menghadapi banyak persoalan. Terutama pada depresi yang terbukti membantu banyak orang mengubah keyakinan dan asumsi-asumsi mereka dalam kondisi depresi.

Di sisi lain, satu potensi masalah dengan pendekatan terapi jenis ini adalah adanya tendensi mengesampingkan emosi, menjadikan emosi berstatus sekunder. Seorang psikolog, Albert Ellis, misalnya, melihat emosi yang kuat sebagai hasil interaksi antara kejadian di lingkungan sekitar dan keyakinan yang kita miliki.


Emosi Bayi sebagai Panduan

Sepertinya kita semua telah menyaksikan bayi memiliki emosi-emosi yang sangat kuat. Apakah emosi mereka berasal dari kepercayaan yang mereka miliki? Sebuah teori, yakni teori afek, mencoba menjelaskan mengenai emosi bayi ini. Kita memahami bahwa bayi setidaknya memiliki emosi yang belum sempurna. Cukup sulit memikirkan bahwa mereka telah memiliki konsep atau kepercayaan. Teori afek sangat berbeda dengan pendekatan kognitif karena mempercayai bahwa manusia terlahir dengan sembilan emosi awal yang disebut dengan afek. Dan semua emosi-emosi selanjutnya berasal dari afek ini.

Afek Positif, Netral, dan Negatif

Silvan Tomkins, seorang psikolog, meyakini bahwa kesembilan afek ini merupakan bawaan dan sumber dari semua emosi manusia. Afek-afek ini memiliki rentangan dari positif hingga negatif. Kegembiraan/ketertarikan adalah bagian dari emosi positif, terkejut/heran adalah bagian netral, sedangkan emosi negatif terdiri dari, ketakutan/teror, marah/gusar, kesulitan/menderita, malu/terhina, jijik, perasaan tertolak/tidak diinginkan.

Silvan Tomkins mengembangkan teori afek lebih dulu, sebelum teori-teori kognitif menjadi populer. Menjadi salah satu dari beberapa teori evolusiner yang mendalilkan bahwa terdapat beberapa afek bawaan manusia. Banyak dari tulisan-tulisan awalnya yang cukup sulit untuk dipelajari, sehingga ide-idenya menjadi lebih populer ketika dijelaskan oleh mereka yang mengikuti aliran pemikirannya.


Dr. Donald Nathanson menjadi salah seorang diantara mereka, yang menjadi ketua dan juga pendiri Silvan S. Tomkins Institute. Natahnson menekuni bidang ini dan kajiannya pada topik teori afek dan rasa malu telah menjadi revolusi kecil diantara para psikoterapis. Emosi menjadi semakin jelas dan telah muncul pula titik terang baru dalam teknik terapi, misalnya eye movement desensitization and reprocessing (EMDR) yang ditemukan oleh Francine Shapiro di tahun 1989. 

Teori Naskah dan Tren Psikoterapi jenis Baru

Setelah teori afek, menyusul lagi kemudian teori naskah (script theory) dari Tompkins, (yang bahkan menurut Nathanson sangat sulit untuk dimengerti). Seiring pertambahan usia, kita mengorganisir pengalaman-pengalaman yang kita miliki ke dalam kalimat-kalimat, kemudian dalam naskah atau aksara yang melibatkan emosi, pengalaman masa lalu dan pedoman perilaku manusia.

Pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan Institut Tomkins merupakan salah satu tempat terbaik untuk mempelajari teori afek dan teori naskah. Nathansons bersama mereka yang secara aktif melakukan penelitian dan kerja-kerja klinis dalam teori ini memandu kegiatan. Kolokium ini menampilkan beberapa presentasi menggunakan teknik EMDR sebagai teknik untuk membebaskan orang-orang dari naskah destruktif dalam kehidupan mereka, dan Nathanson mendorong seluruh terapis yang hadir untuk mempelajari teknik ini.


Apakah teori afek akan menjadi tren baru dalam psikoterapi? Mungkin saja, namun sepertinya belum cukup menjangkau massa kritis yang dibutuhkan untuk melucuti terapi kognitif. Bagaimanapun, potensi yang besar tentu saja ada. Di lain waktu ketika kamu bertemu dengan anak bayi, cobalah bertanya pada dirimu, apakah ia memiliki emosi. Lalu tanyalah kenapa.


EmoticonEmoticon