Apakah Passion Ditemukan atau Ditumbuhkan? - IndoPositive
Latest Update

Thursday, August 29, 2019

Apakah Passion Ditemukan atau Ditumbuhkan?



Apakah kamu salah seorang yang seringkali dijejali kalimat motivasi “temukan passionmu!”, “bekerjalah sesuai passion maka kamu akan sukses dalam pekerjaan” atau semacamnya? 

Passion merupakan istilah yang menunjukkan minat atau gairah. Nah, apa saja yang bisa mempengaruhi passion? Apakah sebenarnya passion itu telah ada dan tersembunyi dalam diri ataukah ia sesuatu yang ditumbuh-kembangkan dari waktu ke waktu? Yang mana sebaiknya kita yakini, passion itu ditemukan dan menetap atau ditumbuhkan dan bisa saja berubah? Pertanyaan serupa diajukan Paul A. O’Keefe, Carol S. Dweck, dan Gregory M. Walton yang dijawab melalui sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science di tahun 2018. 

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, O’Keefe dan kawan-kawan meminjam analogi cinta dari Knee dan Petty, apakah hubungan yang berhasil itu merupakan takdir atau suatu hal yang diupayakan? Analogi ini nantinya akan menjawab apakah passion ditemukan atau dikembangkan. 

Riset ini terdiri dari lima studi yang melibatkan 470 mahasiswa. Peneliti memilih mahasiswa dengan landasan bahwa mereka berada dalam proses “pencarian jati diri”. 


Studi Pertama yang terdiri dari 126 peserta (73 perempuan, 53 laki-laki) bertujuan untuk mengungkap hubungan antara pola pikir seseorang dengan keterbukaannya terhadap minat baru. Dua pola pikir yang dimaksud dalam penelitian ini adalah yang meyakini bahwa passion itu tetap dan yang meyakini bahwa passion itu berkembang dan bisa berubah.

Pertama, peserta disaring secara online dengan diberikan skala kepribadian untuk mengidentifikasi diri mereka sebagai “techy” ataukah “fuzzy”. Kedua istilah tersebut merupakan istilah setempat untuk menyebut mahasiswa yang berorientasi teknik, sains, matematika, komputer, dan sejenisnya sebagai techy dan yang berorientasi seni dan humaniora sebagai fuzzy. Kemudian masing-masing peserta diminta membaca dua artikel.

Topik artikel pertama adalah yang tidak sesuai dengan identitas techy atau fuzzy mereka. Artikel kedua yang sesuai dengan identitas mereka. Peserta yang diidentifikasi techy diberikan artikel fuzzy di awal kemudian artikel yang berkaitan dengan techy, begitupun terhadap peserta fuzzy. Artikel techy diterbitkan dalam Science karya Hornby dan Kurtoglu  berjudul Toward A Smarter Web yang membahas masa depan internet dan potensi situs web dengan menggunakan algoritma evolusioner adaptif. Artikel fuzzy diterbitkan dalam Proceedings of the Modern Language Association karya Klein berjudul The Future of Literary Criticism yang membahas masa depan kritik sastra dan pengaruh Jacques Derrida. Kedua artikel diedit dengan panjang yang hampir sama dan disajikan dengan format yang sama persis. Lalu diukur seberapa tertarik mereka terhadap artikel pertama dan kedua. 

Studi pertama menunjukkan bahwa peserta yang meyakini bahwa minat itu tetap, kurang minat pada topik di luar minat mereka yang sudah ada sebelumnya. Sementara peserta yang memiliki pemikiran terbuka dan meyakini bahwa minat itu ditumbuhkan cenderung tertarik pada topik baru di luar bidang minat mereka sebelumnya. 

Studi kedua, urutannya dibalik. Peserta diminta membaca artikel dulu dan memilih yang mana artikel disukai, baru diberi skala minat yang mengidentifikasi diri mereka techy atau fuzzy. Pada studi ini tidak secara gamblang menggunakan istilah techy dan fuzzy. Sebagai ganti, peserta dimintai persetujuan terhadap dua pernyataan seperti "Saya adalah orang yang berorientasi pada Sains/Teknologi" dan "Saya seorang yang berorientasi pada Seni/Humaniora”.



Peserta penelitian ini terdiri dari  141 mahasiswa teknik (88 perempuan, 53 laki-laki). Urutan tugas yang diberikan adalah membaca dua artikel yang sama pada studi 1, kemudian menyelesaikan tes personality inventory, skala theories of interest, skala implicit theories of intelligence, kemudian identitas demografi umum. 

Identitas minat dinilai dengan cara yang sama seperti dalam Studi 1. Penelitian ini menguji apakah teori minat implisit dapat memprediksi ketertarikan peserta pada artikel di luar bidang minat mereka. Peneliti juga menilai teori kecerdasan implisit untuk digunakan sebagai kovariat. Penilaian mencakup empat aitem berikut: 

  1. “Anda memiliki sejumlah kecerdasan, dan Anda tidak dapat berbuat banyak untuk mengubahnya.”
  2. “Kecerdasan Anda adalah sesuatu tentang Anda yang tidak banyak Anda bisa ubah.”
  3. “Sejujurnya, Anda tidak dapat benar-benar mengubah seberapa cerdas Anda.” 
  4. “Anda dapat mempelajari hal-hal baru, tetapi Anda tidak dapat benar-benar mengubah kecerdasan dasar Anda.” 



Sekali lagi, peserta melaporkan lebih berminat terhadap artikel techy daripada artikel fuzzy. Studi 1 dan 2 menunjukkan bahwa peserta dengan pola pikir “passion itu tetap” kurang minat pada topik artikel di luar bidang minat mereka dan tetap tertarik pada artikel di bidang yang mereka minati.  Sementara faktor lain seperti kecerdasan yang juga diteliti dalam penelitian ini tidak memberikan kontribusi signifikan.

Studi ketiga, bertujuan untuk menguji apakah pola hasil dari studi 1 dan 2 hasilnya sama jika diselidiki secara eksperimen. Pada studi ini, secara acak peserta diberikan artikel dari laman Psychology Today. Masing-masing peserta membaca satu dari dua artikel yang disediakan peneliti. Artikel pertama yang diberikan pada separuh peserta memaparkan bahwa passion itu stabil dan merupakan kecenderungan bawaan, ia terungkap pada titik tertentu dalam kehidupan seseorang dan kemudian relatif tidak berubah (kondisi teori tetap). Untuk separuh lainnya diberikan artikel yang memaparkan bahwa minat dapat ditempa dan berkembang dari waktu ke waktu, serta dipupuk melalui interaksi (kondisi teori pertumbuhan). Kedua artikel menyoroti orang-orang terkenal. Setelah itu diberi artikel tentang fuzzy dan techy. Beberapa minggu sebelum penelitian utama dilakukan, peserta diberi alat ukur untuk mengetahui kecenderungannya fuzzy atau techy. Peserta penelitian ini terdiri dari 89 mahaisiswa (52 perempuan, 37 laki-laki). Dan hasilnya sama dengan studi 1 dan 2.

Studi keempat, menyelidiki hubungan antara minat dengan motivasi ekpektasi. Penelitian ini terdiri dari 44 peserta (24 perempuan, 20 laki-laki). Penelitian berlangsung sepanjang satu semester. Di awal semester, peserta diberi skala minat secara online. Para peserta diberi tahu bahwa tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki ide-ide tentang hal yang paling mereka minati. Hal ini dilakukan sepenuhnya secara online. Peserta diberi kebebasan menawarkan tanggapan mereka sendiri. Contoh pertanyaan terbuka yang diajukan adalah: 

“Begitu seseorang menemukan hasrat, apa yang terjadi pada motivasi mereka ketika mereka mengejar hasrat itu? Akankah mereka memiliki motivasi tanpa batas? Apakah mereka akan berhenti menunda-nunda? Tolong jelaskan!”

“Setelah seseorang menemukan hasrat, bagaimana rasanya bagi mereka untuk mengejar hasrat itu? Tolong jelaskan!”

Pertanyaan-pertanyaan ini mewakili minat dari perspektif teori tetap. Ketertarikan utama penelitian ini adalah apakah peserta yang mendukung lebih banyak teori tetap juga akan mendukung implikasi motivasi yang dihipotesiskan dari teori tersebut. Meskipun demikian, para peserta bebas untuk merespon dengan cara apa pun yang mereka inginkan.  

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak peserta mendukung teori bahwa passion itu tetap, semakin besar kemungkinan mereka berpikir bahwa hasrat akan memberikan motivasi tanpa akhir. Sebaliknya, semakin banyak peserta mendukung teori bahwa passion itu tumbuh dan berkembang, semakin besar kemungkinan mereka mengantisipasi bahwa mengejar gairah kadang-kadang akan sulit. 

Studi kelima, bertujuan untuk menyelidiki seberapa stabil minat seseorang sejak awal hingga menemui kesulitan. Studi ini terdiri dari 70 peserta (42 perempuan, 28 laki-laki). Penelitian ini juga dilakukan secara online. Pertama, masing-masing peserta diminta membaca artikel, kemudian diberikan penugasan manipulation check dari membaca artikel tersebut. Kemudian diminta pendapat mereka terkait ketertarikan terhadap artikel. Kemudian peserta diperlihatkan video singkat durasi 20 menit 40 detik tentang teori Stephen Hawking yang membahas lubang hitam dan keterkaitannya dengan asal-usul semesta. Video tersebut merupakan seri film edukasi yang dibuat oleh The Guardian. Kemudian peserta melaporkan minat mereka terhadap topik dalam video dengan skala 1-6. Selanjutnya, peserta membaca halaman pertama dari artikel jurnal yang diambil dari Science tentang lubang hitam, tulisan Begelman berjudul Evidence for Black Holes. Setelah membaca artikel tersebut, peserta memberikan penilaian mengenai minat mereka.

Setelah menonton video sains populer tentang lubang hitam, sebagian besar peserta terpesona. Kemudian mereka membaca artikel ilmiah yang menantang tentang topik yang sama, yang menyebabkan minat peserta untuk turun. Penurunan minat ini terlihat lebih besar terjadi pada peserta dalam kondisi “teori tetap” daripada kondisi “teori bertumbuh”. Selain itu, di antara peserta yang menemukan artikel sulit untuk dipahami, mereka yang berada dalam kondisi “teori tetap” menyatakan kurang tertarik pada topik daripada mereka yang berada dalam kondisi “teori bertumbuh”. 

Dari studi empat ditemukan bahwa peserta yang meyakini minat atau passion itu menetap lebih cenderung mengantisipasi kesulitan dalam mengejar gairah. Studi 5 menemukan bahwa peserta yang meyakini bahwa passion itu tetap membuat peserta mengabaikan minat yang baru ditemukan setelah paparan konten yang menantang. Mungkin kesulitan yang dirasa mengisyaratkan bahwa itu bukan minat mereka. Sedangkan peserta yang mendukung teori pertumbuhan memiliki keyakinan yang lebih realistis tentang mengejar minat, yang dapat membantu mereka mempertahankan keterlibatan saat materi menjadi lebih kompleks dan menantang.


Hal ini mengingatkan saya pada seorang teman yang sempat mengeluhkan sedang salah jurusan. Jurusan itu bukan passion-nya meski semula ia sangat tertarik. Seiring waktu belajar, ia merasa semakin kesulitan lalu menyimpulkan ia kesasar. Padahal, kata O’Keefe, tunggu dulu, mungkin kamu gak kesasar, hanya saja ada kekeliruan dalam memahami passion. Jangan mengira melakoni passion seperti mengunyah popcorn. Passion pun butuh perjuangan, butuh dukungan aspek lain seperti kegigihan, daya tahan, keteguhan, dan banyak ketangguhan. Seperti cinta dalam sebuah hubungan, setelah menjatuhkan pilihan pada seseorang karena jatuh cinta—misalnya, bukan berarti kamu akan berhasrat padanya sepanjang masa, mempertahankan “dia” pun perlu perjuangan, maka saat menemui kerumitan jangan langsung nyerah. Berupayalah! Heheiii…  

2 Comments

betul kak, tulisan kak Amirah memang top.


EmoticonEmoticon