5 Tahapan dalam Proses Regulasi Emosi

By IndoPositive - 8:00:00 AM



Kerap kali kita mengalami emosi yang beragam. Berbagai situasi yang kita hadapi menuntut kita untuk mampu memahami kondisi emosi yang ada. Semua itu akan menjadi tantangan bagi setiap orang untuk melakukan regulasi emosi. 

Regulasi Emosi menekankan pada bagaimana dan mengapa emosi itu sendiri mampu mengatur dan memfasilitasi proses-proses psikologis, seperti memusatkan perhatian, pemecahan masalah, dukungan sosial dan juga mengapa regulasi emosi memiliki pengaruh yang merugikan, seperti mengganggu proses pemusatan perhatian, interferensi pada proses pemecahan masalah serta mengganggu hubungan sosial antar individu.

Baca juga: 3 sumber daya psikologis yang mampu meningkatkan grit

Regulasi emosi diri ini lebih pada pencapaian keseimbangan emosional yang dilakukan oleh seseorang baik melalui sikap dan perilakunya.

Menurut Kenneth T. Strongman dalam bukunya yang berjudul The Psychology of Emotion, From Everyday Life to Theor menjelaskan bahwa, terdapat lima rangkaian proses regulasi emosi, yaitu: 

1. Pemilihan situasi

Pada proses ini, kita mampu mendekati atau menghindari orang, tempat atau objek. Tipe regulasi emosi ini melibatkan mengambil tindakan yang memperbesar atau memperkecil kemungkinan bahwa kita akan sampai pada sebuah situasi yang kita perkirakan akan memunculkan emosi yang diharapkan (atau tidak diharapkan). 

2. Perubahan situasi

Hal ini serupa dengan problem-focused coping. Situasi-situasi yang berpotensi membangkitkan emosi. Upaya untuk memodifikasi situasi secara langsung untuk mengubah dampak emosionalnya merupakan salah satu bentuk regulasi emosi yang kuat. 

Baca juga: Panduan singkat dalam memberi pujian atau apresiasi

3. Attentional Deployment. 

Termasuk di sini, contohnya, bingung atau gangguan, konsentrasi atau perenungan. Attentional deployment adalah salah satu proses regulasi emosi yang pertama muncul di dalam perkembangan dan tampaknya digunakan sejak masa bayi sampai masa dewasa, terutama ketika tidak mungkin mengubah atau memodifikasi situasi kita. Bukan hanya bayi dan anak-anak kecil yang secara spontan mengalihkan pandangannya dari kejadian aversif (dan mengarahkannya pada hal-hal yang menyenangkan), tetapi proses atensional mereka juga dapat dipandu oleh orang lain dengan maksud mengelolanya. Di dalam contoh yang diberikan sebelumnya, regulasi emosi melibatkan fasilitasi perubahan perhatian pada anak dengan membuat si anak memfokuskan perhatiannya pada apa yang diinginkannya sebagai hadiah ulang tahun. 

Attentional deployment dapat dianggap sebagai versi internal dari seleksi situasi. Dua strategi atensional yang utama adalah distraksi dan konsentrasi. Distraksi memfokuskan perhatian pada aspek-aspek yang berbeda dari situasi yang dihadapi, atau memindahkan perhatian dari situasi itu ke situasi lain, misalnya ketika seorang bayi mengalihkan pandangannya dari stimulus yang membangkitkan emosi untuk mengurangi stimulasi. Distraksi juga bisa melibatkan mengubah fokus internal, misalnya ketika individu membangkitkan pikiran atau ingatan yang tidak konsisten dengan keadaan emosional yang tidak diharapkan atau ketika seorang aktor sengaja mengingat tentang sebuah insiden emosional agar dapat menggambarkan sebuah emosi dengan meyakinkan. Jadi, attentional deployment bisa memiliki banyak bentuk, termasuk pengalihan perhatian secara fisik (misalnya menutup mata atau telinga), pengubahan arah perhatian secara internal (misalnya melalui distraksi atau konsentrasi), dan merespon pengalihan arah perhatian oleh orang lain. 

4. Perubahan kognitif
Perubahan penilaian yang dibuat dan termasuk di sini adalah pertahanan psikologis dan pembuatan pembandingan sosial dengan yang ada di bawahnya (keadaannya lebih buruk daripada saya). Pada umumnya, hal ini merupakan transformasi kognisi untuk mengubah pengaruh kuat emosi dari situasi. Perubahan kognitif mengacu pada mengubah cara kita menilai situasi di mana kita terlibat di dalamnya untuk mengubah signifikansi emosionalnya, dengan mengubah bagaimana kita memikirkan tentang situasinya atau tentang kapasitas kita untuk menangani tuntutan-tuntutannya. 

Baca juga: Bagaimana coping stres membantu kita lebih dekat dengan bahagia?

5. Perubahan respon

Ini terjadi pada bagian akhir, termasuk di sini penggunaan obat, alkohol, latihan, terapi, makan atau penekanan. Modulasi respon mengacu pada mempengaruhi respon fisiologis, pengalaman, atau perilaku selangsung mungkin. Upaya untuk meregulasi aspek-aspek fisiologis dan pengalaman emosi adalah hal yang lazim dilakukan. Obat mungkin digunakan untuk mentarget respon-respon fisiologis seperti ketegangan otot (anxiolytics) atau hiperaktivitas (sistem-syaraf) simpatik (beta blockers). Olahraga dan relaksasi juga dapat digunakan untuk mengurangi aspek-aspek fisiologis dan pengalaman emosi negatif, dan, alkohol, rokok, obat, dan bahkan makanan, juga dapat dipakai untuk memodifikasi pengalaman emosi.

Regulasi dapat mempengaruhi perilaku dan pengalaman seseorang. Hasil regulasi dapat berupa perilaku yang ditingkatkan, dikurangi, atau dihambat dalam ekspresinya. Menurut pandangan evolusioner, regulasi emosi sangat diperlukan karena beberapa bagian dari otak manusia menginginkan individu tersebut untuk melakukan sesuatu pada situasi tertentu, sedangkan bagian lainnya menilai bahwa rangsangan emosional ini tidak sesuai dengan situasi saat itu, sehingga membuat seseorang tersebut melakukan sesuatu yang lain atau tidak melakukan sesuatu pun. Memahami tahapan di atas, setidaknya dapat memberi sedikit pemahaman dan membantu kita dalam melakukan regulasi emosi. 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar