3 Teori Umum Tentang Mimpi dalam Psikologi

By IndoPositive - 8:00:00 AM


Mimpi sudah menjadi bagian penting dari kajian psikologi. Mimpi dapat mencakup gambar, pikiran, dan emosi yang dialami selama tidur. Mimpi bisa sangat jelas atau sangat kabur; penuh dengan emosi gembira atau gambaran menakutkan; fokus dan dapat dimengerti atau tidak jelas dan membingungkan. Beberapa peneliti menyebutkan bahwa mimpi tak memiliki tujuan khusus, akan tetapi beberapa peneliti lainnya merasa jika mimpi memiliki tujuan tersendiri. 

Ernest Hoffman, direktur Sleep Disorders Center di Rumah Sakit Newton-Wellesley di Boston, Mass., Menyarankan dalam Scientific American (2006) bahwa “... kemungkinan (walaupun tentu saja tidak terbukti) fungsi mimpi bertujuan untuk merangkai bahan baru ke dalam sistem memori dengan cara yang mengurangi gairah emosional dan adaptif dalam membantu kita mengatasi trauma lebih lanjut atau peristiwa yang membuat stres.”


Untuk mendalami hal tersebut, berikut 3 teori tentang mimpi yang kelak dapat dipelajari lebih lanjut:

1. Psychoanalytic Theory of Dreams

Teori mimpi Sigmund Freud menjelaskan bahwa mimpi merupakan bentuk perwakilan dari keinginan, pikiran, dan motivasi yang tak disadari. Menurut pandangan psikoanalitik Freud tentang kepribadian, seseorang didorong oleh naluri agresif dan seksual yang ditekan dari kesadaran. Sementara pikiran-pikiran ini tak terungkapkan secara sadar, Freud menyarankan agar mereka menemukan jalan tersebut ke dalam kesadaran kita melalui mimpi.

Dalam bukunya yang terkenal The Interpretation of Dreams, Freud menulis bahwa mimpi adalah “... pemenuhan keinginan yang terpendam.”

Dia juga menggambarkan dua komponen mimpi yang berbeda: konten manifes dan konten laten. Konten manifes terdiri dari gambar, pikiran, dan konten aktual yang terkandung dalam mimpi sementara konten laten mewakili makna psikologis tersembunyi dari mimpi tersebut. Teori Freud berkontribusi pada popularitas interpretasi mimpi, yang tetap populer saat ini. Namun, penelitian telah gagal menunjukkan bahwa konten manifes menyamarkan signifikansi psikologis nyata dari mimpi.

Lihat juga: 




2. Activation-Synthesis Model of Dreaming

Activation-Synthesis Model of Dreaming pertama kali diusulkan oleh J. Allan Hobson dan Robert McClarley pada tahun 1977. Menurut teori ini, sirkuit pada otak diaktifkan selama tidur REM, yang menyebabkan area sistem limbik terlibat dalam emosi, sensasi, dan kenangan, termasuk amigdala dan hippocampus, semuanya menjadi aktif. Otak mensintesis dan menafsirkan aktivitas internal ini dan berupaya menemukan makna dalam sinyal-sinyal ini, yang menghasilkan mimpi. Model ini menunjukkan bahwa mimpi adalah interpretasi subyektif dari sinyal yang dihasilkan oleh otak selama tidur.

Sementara teori ini menunjukkan bahwa mimpi adalah hasil dari sinyal yang dihasilkan secara internal, Hobson tidak percaya bahwa mimpi tidak ada artinya. Sebaliknya, ia menyarankan bahwa bermimpi adalah “... keadaan sadar kita yang paling kreatif, di mana kekacauan, rekombinasi elemen kognitif yang spontan menghasilkan konfigurasi baru informasi: ide-ide baru. Sementara banyak atau bahkan sebagian besar dari ide-ide ini mungkin tidak masuk akal, bahkan jika beberapa produk fantastisnya benar-benar bermanfaat, waktu impian kita tidak akan sia-sia.”

3. Information-Processing Theories

Salah satu teori utama untuk menjelaskan mengapa kita tidur adalah bahwa tidur memungkinkan kita untuk menghimpun dan memproses semua informasi yang telah kami kumpulkan pada hari sebelumnya. 

Beberapa ahli mimpi menyarankan bahwa bermimpi hanyalah produk sampingan atau bahkan bagian aktif dari pemrosesan informasi ini. Ketika kita berurusan dengan banyak informasi dan kenangan dari siang hari, pikiran kita yang tertidur menciptakan gambar, kesan, dan narasi untuk mengelola semua aktivitas yang terjadi di dalam kepala kita ketika kita tidur.


Masih ada beberapa teori yang berkembang tentang mimpi. Beragam misteri tentang mimpi dan tidur yang belum terpecahkan, sekiranya dapat menjadi bahan penelitian yang menjanjikan dan menyenangkan.  

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar