Belajar Bersama dengan Kawan-kawan Pertuni

By Karmila Kahar - 11:00:00 AM

“Melalui Pertuni kesyukuran menjadi sebuah keharusan untuk kita”

PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia) merupakan organisasi kemasyarakatan tunanetra Indonesia, didirikan pada tanggal 26 Januari 1966 oleh sekelompok tunanetra di kota Solo. Pertuni bertujuan mewujudkan keadaan yang kondusif bagi orang tunanetra untuk menjalankan kehidupannya sebagai manusia dan warga negara Indonesia yang cerdas, mandiri dan produktif tanpa diskriminasi dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan.



Pre Employment Soft Skill Training For Students With Visual Impairment merupakan salah satu kegiatan yang diadakan oleh Pertuni. Aria Indrawati selaku ketua Pertuni didampingi Alabanyo Brebahama selaku trainer pada kegiatan pelatihan ini. Kegiatan yang dilakukan pada tanggal 22-25 April 2019 berlokasi di Hotel Citadines Makassar. Pelatihan seperti ini sudah dilakukan di Jawa dan sekitarnya oleh Pertuni.

Tujuan utama dari kegiatan adalah mengembangkan pemberdayaan serta peningkatan soft skill dan hard skill para penyandang tunanetra. Penyajian materi pada pelatihan pada kegiatan ini juga lebih menitiberatkan pada games, metode yang melibatkan  motorik kasar dan komunikasi verbal serta nonverbal. Serta adanya praktek langsung yang dilakukan seperti tes wawancara dan psikotes. Harapannya, seluruh peserta setelah mengikuti pelatihan ini dapat lebih mandiri, percaya diri, serta mampu menentukan goal setting dalam kehidupannya.


Untuk menjadi peserta pada pelatihan ada beberapa tahap yang dilalui seperti seleksi berkas dan wawancara langsung oleh ketua Pertuni yaitu Aria Indrawati. Adapun peserta pada pelatihan kali ini berjumlah 19 orang terdiri dari 16 mahasiswa dan siswa yang baru lulus SMA berasal dari Makassar dan 3 orang mahasiswa dari Kalimantan. 

Melalui kegiatan pelatihan ini saya sendiri sebagai volunteer banyak mendapat pengalaman berharga. Dengan adanya kegiatan ini saya belajar banyak tentang bagaimana proses orientasi yang dilakukan oleh tunanetra ketika berada di lingkungan baru, bagaimana cara menuntun tunanetra dengan baik dan benar, bagaimana menjelaskan makanan yang kita sajikan dengan menjelaskannya sesuai arah jarum jam. Adanya kisah yang mengharu biru dibalik kebutaan yang mereka alami, ada yang buta sejak lahir, buta karena benturan, buta karena tumor otak, dan buta karena saraf mata yang terputus.

Salah satu peserta yang membuat saya terkesan adalah Herman asal Makassar ia buta tahun 2014 lalu pada usia 22 tahun, saat ini ia mengalami buta total setelah periksa ke dokter hasilnya saraf matanya terlepas atau terputus diakibatkan dari pekerjaan berat yang sebelumnya ia lakukan yaitu kerja bangunan dan angkat-angkat barang berat. Ia bercerita betapa frustasi dan putus asanya saat ia mengetahui bahwa alat indra yang selama 22 tahun ia gunakan tiba-tiba tak dapat digunakan, akan tetapi dengan dukungan keluarga dan orang sekitar ia mampu bangkit dari keterpurukan bahkan saat ini ia sedang menjalani pendidikan di salah satu Universitas Negeri terbaik di Makassar.


Saya merasa beruntung terlibat dalam kegiatan ini, ada pengalaman dan rasa syukur tak terhingga yang sudah diberikan. Saya juga belajar dari Alabanyo Brebahama, salah satu lulusan Psikologi Universitas Indonesia yang saat ini menjadi dosen dan seorang psikolog.  Beliau, saat ini tengah dalam masa persiapan untuk melanjutkan pendidikan doktoralnya di Australia, dibalik keterbatasannya beliau memiliki nazar yang mulia untuk selalu membagikan ilmu yang ia miliki kepada sesama penyandang tunanetra agar dapat bersaing di dunia pendidikan dan dunia kerja kelak. Ada juga sosok, Aria Indrawati selaku ketua Pertuni, beliau dengan keterbatasan penglihatan yang dimilikinya mampu menjadi sosok yang inspiratif bagi sesamanya. Begitu banyak cerita dan pengalaman yang telah dibagi kepada kami selaku relawan pada kegiatan yang sangat luar biasa ini. 

Terakhir, terima kasih untuk para peserta yang sangat luar biasa, bahwa dibalik keterbatasan penglihatan yang dimiliki begitu banyak prestasi yang sudah diraih dari tingkat daerah hingga tingkat nasional. Semoga tetap berjuang hingga akhir. 


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar