Seorang Pecandu dan Seekor Kucing

By Shany Kasysyaf - 10:00:00 AM


James Bowen dulunya seorang tunawisma dan pecandu yang tinggal di Inggris. Usianya sekarang 40 tahun. Saat masih anak-anak, orang tua Bowen bercerai. Dia mengikuti ibu dan ayah tirinya (Mark Ludenman) ke Australia saat berusia lima tahun. Itu adalah keputusan yang kelak menghancurkan Bowen dan ibunya.

Bowen pulang ke Inggris di tahun 1997, setelah ayah tirinya tertangkap basah meniduri pacar Bowen, Kirsty Shirley. Orang yang menangkap basah mereka adalah ibu Bowen, Hartford-Davis. Ayah tiri Bowen juga dilaporkan sebagai pelaku serangan seksual terhadap tiga anak perempuan berusia delapan tahun di Sydney. 

Kisah gelap keluarga Bowen ini ditulis oleh wartawan dailymail Inggris, Abe Hawken dalam laporan berjudul Revealed: The dark family story of betrayal and paedophilia behind A Street Cat Named Bob.

*

Kondisi Bowen sangat rapuh saat kembali ke Inggris. Dia menggelandang, tidur di jalanan Kota London dan berpindah-pindah tempat penampungan. Di masa itu, Bowen berkenalan dengan heroin dan resmi jadi pecandu. Selanjutnya dia didiagnosis mengidap tiga gangguan mental sekaligus; bipolar, ADHD, dan Skizofrenia.

Nyaris 10 tahun menjadi pecandu dan mengidap gangguan mental, Bowen mendaftar ke program Metadon di tahun 2007. Itu adalah program pemulihan adiksi tanpa karantina lewat substitusi zat bernama metadon. 

Masa awal pemulihan adalah neraka bagi Bowen. Gejala putus zat merupakan siksaan berat bagi tiap pecandu. Sementara di titik yang lain, status pecandu membuat siapapun kesulitan dalam masyarakat. 

Bowen sempat jadi sales yang menawarkan berbagai produk ke pejalan kaki. Dia beberapa kali dirisak teman kerja, dan memutuskan berhenti dan beralih jadi pengamen. 

Suatu malam, sepulang mengamen, dia mendapati seekor kucing liar di lorong apartemennya. Bowen tidak peduli, namun kucing itu masih disana ketika pagi tiba. Bowen mulai khawatir, setelah menyadari kucing itu tak punya tanda pengenal dan sedang  terluka. Dia kemudian membawanya ke klinik hewan terdekat.

Bagi Bowen, kucing ini seperti dirinya di masa lalu; menggelandang dan penyakitan. Karena tak kunjung dapat informasi soal pemiliknya, Bowen membiarkan si kucing tinggal bersamanya. Dia menamai kucing itu Bob, dari nama Killer Bob, karakter drama televisi lama Twin Peaks.

Kehadiran Bob memaksa Bowen bangun lebih pagi setiap hari. Hanya untuk memastikan teman serumahnya itu masih ada dan baik-baik saja. Karena Bob selalu mengikutinya hingga ke Bus saat ingin berangkat mengamen, Bowen memutuskan untuk membawanya. Dia membeli kalung dan tali pengaman untuk Bob agar tak terpisah darinya. 

Dalam satu kesempatan, ketika Bowen sedang mengamen di pusat kota London. Bob mengendap-endap naik ke pundaknya. Sejumlah pejalan kaki tertarik dengan kombinasi ini; seekor kucing kampung di pundak seorang pengamen. Mereka singgah merekam video dan mengunggahnya ke Youtube.

Video itu ditonton jutaan orang. Banyak yang tertarik pada Bob dan meminta Bowen menulis  kisah mereka berdua. Sekarang kisah itu terbit dalam tiga buku dan satu film yang semuanya laku keras di pasar. 

Tanpa pernah Bowen duga, aktivitas menulis dan memelihara Bob, membantunya teralih dari obat-obatan, memulihkannya dari ketergantungan. Program metadonnya berhasil. Bagi Bowen, kehadiran Bob adalah sebuah hadiah. Dari kucing kecil itu, dia menerima hal yang tak pernah didapatkan dari orang, jalinan pertemanan. 

*
Bowen bukan satu-satunya yang terbantu secara mental oleh hewan piaraan. Stanley Coren, profesor psikologi dari Amerika yang banyak menulis tentang hubungan manusia dan hewan peliharaan (terutama anjing), pada tahun 2009 mengutip sejumlah temuan tentang manfaat psikologis memiliki hewan piaraan dan menerbitkannya di laman psychology today .

Studi pada 5.741 orang di Melbourne, Australia menemukan bahwa pemilik hewan piaraan memiliki tingkat tekanan darah dan kolesterol lebih rendah dibanding mereka yang tidak memilikinya. 

Bahkan ketika kedua kelompok memiliki gaya hidup buruk yang sama dalam urusan rokok dan makanan berlemak.

Studi lain dari American Heart Association Scientific Conference,meneliti sekelompok pialang saham pria dan wanita, yang merasakan dampak dari gaya hidup penuh tekanan sekaligus kandidat untuk pengobatan untuk menurunkan tekanan darah. 

Para peneliti pertama mengevaluasi tekanan darah pialang di bawah kondisi stres. Ini dilakukan lewat simulasi situasi stres untuk menciptakan jenis stres yang biasanya dihadapi para pialang saham. 

Mereka selanjutnya diberi tugas-tugas numerik yang dipercepat dan diminta untuk bermain peran di mana mereka harus mencari jalan keluar dari posisi canggung. Karena tugas yang penuh tekanan ini, tekanan darah rata-rata mereka melonjak hingga 184/129 mm merkuri (tekanan darah 140/90 mm merkuri dianggap tinggi).

Setiap pialang saham lalu diberi resep obat yang sama, dan setengah dari mereka setuju untuk mendapatkan anjing atau kucing untuk hewan peliharaan. Enam bulan kemudian, para peneliti memanggil mereka kembali dan memberi mereka tes stres tambahan. 

Para pialang saham yang sekarang memiliki hewan peliharaan diizinkan membawa hewan peliharaan mereka ketika mereka menjalani tes stress. Hasilnya, para pialang dengan terapi kombinasi (hewan piaraan dan obat-obatan) menunjukkan peningkatan tekanan darah terkait stress hanya setengah, dibanding mereka yang hanya dirawat dengan obat.

Dalam penelitian lain dari American Journal of Cardiology, para peneliti mengikuti sekira 400 pasien yang meninggalkan rumah sakit setelah mengalami serangan jantung. Satu tahun kemudian ditemukan kalau pemilik hewan piaraan tingkat kelangsungan hidupnya secara signifikan lebih tinggi dibanding mereka yang tidak punya. 

Para peneliti menduga kalau ikatan kasih sayang dan dukungan sosial yang diberikan oleh hewan piaraan mengurangi stres mereka dan merupakan kontributor utama masalah kardiovaskular.

*

Sejak Erich Fromm menerbitkan Escape From Freedom, kapitalisme mulai dikaji secara psikologis sebagai penyebab sejumlah masalah kesehatan mental. Alasannya adalah kompetisi besar dalam sistem ini yang menyeret setiap orang di dalamnya tanpa sadar dan tanpa permisi.   

Kompetisi besar yang hanya mengijinkan sedikit saja sebagai pemenang. Orang-orang kalah akan tersingkir. 

Para pemenang itu, kemudian harus bertahan dalam kemenangan yang penuh tuntutan. Sementara yang kalah akan jadi pesakitan saat menyerah, atau meneruskan pertarungan dengan sumber daya terbatas melawan raksasa modal dengan sumber daya besar. 

Di tengah kompetisi itu, orang-orang mengorbankan satu hal penting atas nama kemenangan. Dukungan sosial. Mekanisme purba yang menjauhkan manusia dari kesepian. Menjaga kewarasan indvidu, agar tetap hidup meski di saat paling terpuruk.

Ketika semakin banyak manusia tersingkir dari kompetisi yang berlangsung cukup lama. Orang-orang mulai kesepian dan kembali mencari dukungan sosial, yang mereka tanggalkan untuk memenangkan kompetisi.

Saat itu tak bisa lagi didapatkan dari sesama manusia, naluri itu teralih ke entitas lain, hewan piaraan. 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar