Apakah Makanan Memberi Pengaruh Terhadap Kesehatan Mental?

By Nurul Fitroh - 7:00:00 AM


Lezat. Cepat. Dan banyak. Mungkin menjadi pilihan menu makanan yang selalu diinginkan oleh beberapa orang. Tidak selamanya, namun rasanya seringkali pengalaman makanan seperti itu dapat diperoleh dari makanan instan atau siap saji. Meskipun, juga telah menjadi pengetahuan umum bahwa konsumsi makanan rumahan yang beragam dan diolah segar, seperti sayuran, ikan, bahkan buah-buahan lebih bergizi dibanding makanan instan dan cepat saji. Kesadaran akan nutrisi dan nilai gizi yang terkandung dalam makanan sering dikaitkan dengan cita-cita hidup sehat, terhindar dari beberapa penyakit dan merawat kesehatan tubuh. Tapi, lebih dari itu, mengonsumsi makanan sehat turut memberikan kontribusi yang penting dalam kondisi psikologis manusia, lebih spesifiknya kebahagiaan seseorang.

Makanan yang kita konsumsi akan terpecah menjadi substansi-substansi kecil yang mengisi tubuh kita dan diolah menjadi unsur kimiawi dalam otak. Sistem saraf dan fungsi keseluruhan otak manusia dapat dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsi. Pada tahun 2015, Conner beserta rekannya, melakukan sebuah penelitian korelatif antara makanan dan kebahagiaan. Mereka mencoba mencari tahu hubungan antara konsumsi buah dan sayur terhadap kebahagiaan dan kepuasan hidup seseorang. Melalui metode buku harian, sejumlah 405 dewasa awal menuliskan laporan konsumsi buah, sayur, makanan manis, dan keripik mereka, sekaligus mengisi beberapa skala yakni, kondisi kesejahteraan eudaemonik, rasa ingin tahu, kreativitas, afek positif dan afek negatif. 

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara kelompok, mereka yang memiliki tingkat konsumsi buah dan sayur yang lebih tinggi akan memiliki angka rata-rata yang cukup tinggi dalam kesejahtraan eudaemonik, rasa ingin tahu yang lebih intens dan kreativitas yang lebih baik. Secara perorangan, hari dimana seseorang mengonsumsi buah dan sayur dalam jumlah yang lebih banyak, maka kesejahteraan eudaemonik, rasa ingin tahu, dan kreativitas  mereka juga lebih tinggi dibanding ketika mereka mengonsumsi buah dan sayur dalam jumlah yang lebih sedikit.  Penelitian mereka terbit dalam sebuah artikel jurnal berjudul On carrots and curiosity: eating fruit and vegetables is associated with greater flourishing in daily life

Konsumsi sayuran, nyatanya tidak selalu menjadi pengalaman makan yang buruk. Selain manfaat kesehatan fisik dan mental, sensasi konsumsi sayur justru nyaris berbanding setara dengan konsumsi makanan yang manis-manis seperti kue dan permen, bahkan konsumsi sayur dapat menjadi pengalaman makan yang paling menyenangkan. Setidaknya begitulah hasil penelitian Wahl beserta koleganya, dalam artikel jurnal mereka yang berjudul, Healthy food choices are happy food choices: evidence from a real life sample using smartphone based assessments. Melalui 14 kategori jenis makanan yang pada umumnya dikonsumsi dalam 5 jenis kesempatan mengonsumsi makanan tersebut, sarapan, makan siang, minum teh di sore hari, makan malam, dan ngemil. Sejumlah 38 partisipan melaporkan pengalaman makan yang menyenangkan melalui skala yang mengukur seberapa enak makanan yang dikonsumsi, seberapa baik mereka menikmati makanan tersebut dan seberapa senang mereka begitu telah mengonsumsi makanan tersebut. Mereka mengisi skala ini setiap kali mengonsumsi sesuatu, dalam jangka waktu 8 hari berturut-turut. 

Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi sayur menjadi penyumbang paling besar dalam skala pengalaman makan yang menyenangkan, lalu makanan manis-manis dan terakhir bahwa makan malam memiliki tingkat kesenangan yang sama dengan mengemil. Perbedaan persepsi mengenai makanan yang enak dan menyenangkan mungkin dapat beragam pada latar belakang pengalaman yang berbeda. Namun setidaknya, kemungkinan menghadirkan makanan sehat yang lezat tetap dapat diwujudkan. Selamat moncoba.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar