Semua Orang Butuh Didengar - IndoPositive
Latest Update

Sunday, March 17, 2019

Semua Orang Butuh Didengar


INDOPOSITIVE.org— Apa yang kamu rasakan saat bertanya pada orang lain, dan ia mengabaikanmu atau tidak menanggapi dengan serius? Kamu mungkin kesal. Tapi itu mungkin tak berlangsung lama karena ia tidak penting dalam hidupmu.

Bagaimana jika orang itu adalah yang kamu harapkan perhatiannya? Teman, sahabat, kekasih, keluarga… . Kamu menceritakan masalahmu pada mereka. Tapi mereka mengabaikanmu. Atau menyalahkanmu. Atau memberi nasihat yang, mungkin, tidak kamu butuhkan saat itu.

Sekarang, bayangkan skenario lain: kamu menceritakan masalahmu, dan pada titik tertentu, mereka memotong ceritamu dengan cerita serupa yang pernah mereka alami: iya, saya juga dulu begitu, dan… .” Cerita itu berlanjut memaksamu duduk di posisi pendengar—saat kamu justru butuh didengar. Bagaimana perasaanmu?

Cerita di atas bukan rekaan. Setiap orang, mungkin, pernah mengalaminya. Dan, muara dari pengalaman itu, kita tahu, adalah perasaan tertolak dan sakit hati. Apa arti dari perasaan itu?

Ada situasi dalam hidup ketika sesuatu perlu disuarakan, ketika pendapat dan perasaan kita butuh pengakuan—dan satu-satunya suaka adalah telinga yang peka.

Semua orang butuh didengar, tapi—huh!—tidak semua orang mau mendengarkan. Seseorang bisa saja diam selama kamu menceritakan masalahmu. Tapi apakah itu bisa disebut mendengarkan?

Mendengarkan adalah proses yang aktif, kata Michael Nichols, seorang profesor psikologi. Ia bilang—dalam bukunya, The Lost Art of Listening—mendengar berarti memperhatikan, peduli, berminat, turut merasakan, membenarkan, menanggapi, tersentuh… menghargai. Untuk mampu mendengarkan, kita perlu melepaskan agenda pribadi, melupakan apa yang akan dikatakan selanjutnya, dan fokus menyerap perkataan orang lain.

Didengar membuat kita merasa utuh. Hal serupa dirasakan Kuroyanagi—aktris dan penulis Jepang—saat ia berusia tujuh tahun dan memulai hari pertama sebagai siswi sekolah dasar Tomoe Gakuen. Sosaku Kobayashi, kepala sekolahnya, mendengar Totto-chan (nama kecil Kuroyanagi) berbicara selama empat jam!

Dia terus bicara tanpa henti. Kepala sekolah mendengarkan, tertawa, mengangguk dan berkata, “lalu?”Dan Totto-chan merasa senang sekali.

Belum pernah ada orang yang mau mendengarkan dia sampai berjam-jam seperti kepala sekolah. Lebih dari itu, kepala sekolah sama sekali tidak menguap dan tampak bosan. Dia selalu tampak tertarik pada apa yang diceritakan Totto-chan, sama seperti Totto-chan sendiri.

Kuroyanagi menulis itu dalam autobiografi, Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela, yang terbit pertama kali pada tahun 1981. Buku itu membuat sejarah dalam industri penerbitan Jepang setelah terjual lebih dari lima juta eksemplar sebelum akhir tahun 1982.

Didengar membuat kita merasa dipahami dan diterima seperti kita memahami dan menerima diri sendiri. Sebaliknya, kata Michael Nichols, tidak didengar membuat kita merasa tertolak, kecewa, dan rendah diri.

“Bagaimanapun,” tulis Kuroyanagi, “kepala sekolah membuatnya merasa aman, hangat, dan senang. Ia ingin bersama kepala sekolah selama-lamanya.”

26 tahun setelah Kuroyanagi menerbitkan buku itu, di Indonesia, seorang selebtwit membikin pro-kontra di Twitter karena mengunggah twit tentang jasa curhat miliknya. Komentar kontra: ia bukan psikolog, bukan tenaga profesional. Sementara beberapa orang mengapresiasi kemampuan si selebtwit melihat peluang bisnis.

Selebtwit itu membuka layanan curhat bagi mereka yang ingin kembali pada mantan pacar. Untuk satu balasan pesan lewat Line, ia mematok harga sepuluh ribu rupiah. Proses curhat, hahaha, tidak mungkin selesai dengan dua-tiga-empat-lima balasan pesan saja. Jadi, berapa harga yang mesti dibayar klien sampai masalah seperti itu selesai?

Dua hari setelah twit itu muncul, si selebtwit mengunggah twit berisi foto percakapannya dengan seorang klien yang minta curhat melalui telepon. Klien itu, waw, menyatakan sanggup membayar hingga dua juta rupiah.

Mengapa orang mau membayar setinggi itu untuk layanan curhat milik selebtwit? Mampukah si selebtwit membawa kliennya pada satu pintu keluar—seperti yang dilakukan psikolog dalam konseling? Atau, bisakah ia merasakan kondisi klien seperti seorang teman baik merasakan kondisi temannya, seperti seorang sahabat baik merasakan kondisi sahabatnya?

Suatu waktu, seseorang mungkin datang padamu untuk menceritakan masalahnya. Bukan karena  gratis, tapi karena ia percaya. Dengarlah. Mungkin saja, telingamu yang penuh empatilah, satu-satunya harapan yang, perlahan, bisa menyelamatkan hidupnya.


EmoticonEmoticon