Apa yang Mesti Kita Lakukan Saat Bersedih?

By Muhammad Ahyar Hamka - 3:59:00 PM



INDOPOSITIVE.orgEngku Zainuddin diserang demam hebat hingga menggigil tak berdaya dalam meratapi kesedihannya, di atas pembaringan kamarnya lantaran dipatahkan pengharapannya oleh Hayati yang telah berjanji untuk menunggunya datang kembali dari perantauan.

Masuklah Bang Muluk sahabat Zainuddin yang tak pernah berkhianat untuk menceramahinya.

“Hei, berhentilah bersedih begini, Engku. Terjadi sudahlah terjadi.Engku, engku dah banyak menuntut ilmu di Siqo. Budi pekerti dan kesopanan dengan pemikiran yang luas pun sudah Engku raih.”

“Jangan lah lebih lemah dari pada para-para kami yang tidak kenal bace bismilah. Tidak baik hidup yang mulia ini, terkurung semata-mata karena memikirkan perempuan. Perempuan yang Engku junjung tinggi itu telah berkhianat dan mengingkari janjinya.”

“Di sini Engku bersakit-sakit, sedangkan dia? Dia sedang menikmati masa pengantin baru dengan suaminya.”

“Engku ni orang pintar, kenapa harus hancur oleh perempuan. Dimana letak pertahanan kehormatan yang terletak pada seorang laki-laki, ha.”

“Jangan mau hidup Engku dirusak, binasakan oleh perempuan itu. Engku mesti tegak kembali. Coba lagi Engku lihat dunia lebih luas dan masuk ke dalamnya.”

“Di sana banyak kebahagiaan dan ketentraman yang tersimpan. Engku pasti bisa ,melakukannya. Dan mengecap bagaimana nikmat kebahagiaan dan keberuntungan itu.”

“Cinta bukan mengajarkan kita untuk menjadi lemah, tetapi membangkitkan kekuatan.”

“Cinta bukan melemahkan semangat tapi membangkitkan semangat. Tunjukkan pada perempuan itu, bahwa Engku tidak akan mati, lantaran dibunuhnya.”

Adegan di atas  adalah penggalan dari percakapan antara Zainuddin dan Muluk dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Seorang Muluk menumbuhkan kembali gairah hidup sahabatnya yang telah larut dalam kesedihan lantaran dikhianati cintanya. Sehinga membuat Zainuddin untuk berdamai dengan kesedihannya dari kegilaan cintanya. Lalu bangkit menjadi seorang penulis besar di Batavia.

Menyaksikan film karya Buya Hamka, kita dapat memahami arti kesedihan. Manusia dan kesedihan menjadi satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, menjadi kebutuhan untuk mengatur jalan kehidupan masa depan. Ini didukung oleh hasil penelitian Sullivan pada tahun 2008 Assosiation between sadness and anger regulation coping, emotional expression, and physical and relational aggression among urban adolescent bahwa kesedihan berfungsi untuk mengatur dan mengkomunikasikan dalam diri dengan baik akan kebutuhan dukungan sosial.

Kesedihan akan menjadi bencana ketika kita tidak dapat mengatur atau berkomunikasi dengan diri kita sendiri dalam menentukan sikap apa yang akan dilakukan.

Di sekitar kita banyak objek yang akan menjadi suatu tempat untuk mengarsipkan sebuah kesedihan yang kita alami. Zainuddin mengabadikan kesedihannya dalam halaman-halaman kertas dengan tulisan. Lalu memberikan jarak antara kesedihan dan dirinya dengan membagikan kepada peminat kesedihannya.

Bukan hanya dalam bentuk tulisan dalam meluapkan sebuah kesedihan tapi bisa juga dengan memposting di sosial media, melempar kaca jendela, membanting benda-benda yang ada di sekitar kita bahkan ada yang mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Dalam tradisi yang ada di nusantara yang memiliki berbagai suku dan adat berbeda-beda, semua itu sejak lama mengajarkan kita untuk memahami kesedihan. Antara laki-laki dan perempuan bahkan setiap individu telah diajarkan untuk memahami kesedihannya sendiri. Hampir setiap suku dari sabang sampai merauke memandang kesedihan adalah hal yang tak sewajarnya kita larut di dalamnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Putri bersama rekannya pada tahun 2012, Sadness as perceived by Indonesian male and female adolescents dengan jumlah responden 273 perempuan, 188 laki-laki dengan menggunakan kuisioner terbuka. Setelah itu data yang telah terkumpul dikategorisasikan menggunakan pendekatan psychology indigenous menunjukkan hasil bahwa laki-laki dan perempuan memandang kesedihan sebagai pelajaran hidup dan refleksi diri dan sebagai motivasi. Mempunyai jiwa kesatria yang harus bangkit dari keterpurukan adalah hal yang harus dilakukan.

Kesedihan bukanlah menjadi suatu hambatan untuk menjadi lebih baik lagi dari kesalahan atau pengharapan yang belum terwujud kemarin. Menjadikan kesedihan sebagai pelajaran untuk kehidupan esok hari. Waktu tak akan pernah membalikkan arah untuk berputar.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar