Bagaimana Psikologi dalam Penghargaan Nobel? - IndoPositive | Pusat Informasi Psikologi Positif

Breaking

Wednesday, February 6, 2019

Bagaimana Psikologi dalam Penghargaan Nobel?



INDOPOSITIVE.orgPenghargaan nobel menjadi sebuah pencapaian penting bagi seorang ilmuwan, penulis serta tokoh perdamaian. Hadiah nobel telah diberikan sejak 1901 di bidang Fisika, Kimia, Fisiologi atau Kedokteran, Sastra, dan Perdamaian. Baru pada tahun 1969, bidang Ekonomi pun mendapat ruang di penghargaan nobel. Sayangnya, belum ada bidang psikologi pada penghargaan nobel sampai saat ini. Tapi ada beberapa tokoh psikologi dan psikolog yang berhasil menerima penghargaan tersebut.

Rubén Ardila, dalam sebuah makalah yang berjudul “Psychology and the Nobel Prize” pun membagi tiga kategori pemenang nobel dan psikologi. Pertama, seseorang yang memiliki gelar sarjana dalam psikologi. Kedua, seseorang yang menerima gelar doctor dalam psikologi. Ketiga, seseorang yang bekerja pada bidang psikologi dan memberikan kontribusi signifikan pada perkembangan psikologi.

Kategori pertama ada beberapa penerima nobel seperti Roger W. Sperry (Amerika Serikat, Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran 1981), Daniel Kahneman (Israel-Amerika Serikat, Hadiah Nobel dalam Ilmu Ekonomi, 2002), dan Tomas Tranströmer (Swedia, Hadiah Nobel Sastra, 2011).

Pada kategori kedua, Kahneman pun termasuk di dalam kelompok ini, John O´Keefe (USA), Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran, 2014, dan rekan-rekannya May BrittMoser (Swedia) dan Edvard I. Moser (Norwegia).

Pada kategori ketiga, yang bukan lulusan psikologi tapi memberi kontribusi besar diantaranya adalah, Ivan P. Pavlov (Nobel di bidang Fisiologi atau Kedokteran, 1904), Santiago Ramón y Cajal (Nobel di bidang Fisiologi atau Kedokteran, 1906), Bertrand Russell (Sastra, 1950), Konrad Lorenz (Fisiologi atau Kedokteran, 1973), Herbert Simon (Ilmu Ekonomi, 1978), dan Georg von Békésy (Fisiologi atau Kedokteran, 1961).

Di tahun 2017, Richard H. Thaler meraih penghargaan nobel dengan menggagas topik psikologi ekonomi. Dengan temuannya tentang “Nudge Theory” mereka meraih penghargaan nobel di bidang ekonomi. Pada tahun 2008 bersama dengan Cass Sunstein, Richard menulis sebuah buku tentang temuannya itu. Buku yang berjudul  “Nudge: Improving Decisions About Health, Wealth and Happiness”  diterbitkan oleh Yale University Press. Buku ini menjelaskan tentang bagaimana masyarakat dan organisasi (termasuk pemerintah) dapat membantu orang agar dapat membuat keputusan yang lebih baik dalam keseharian.

Secara sederhana Nudge Theory, menjelaskan proses kerja seseorang atau kelompok dalam membuat sebuah pilihan (bisa juga peraturan atau anjuran) yang seharusnya berdasarkan pada bagaimana seseorang berpikir dan mengambil keputusan. Keputusan yang dipengaruhi oleh insting dan seringkali tidak rasional atau mungkin boleh dibilang emosional. Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari dari Nudge kira-kira seperti ini, semisal jika sedang diet akan lebih baik untuk menggunakan piring yang lebih kecil dibandingkan dengan menghitung berapa kalori yang sedang kita makan. Piring kecil menjadi bagian dari Nudge yang memberi pengaruh pada proses kita mengambil keputusan.

Di lingkungan umum, misalnya dibanding menempelkan banyak tanda larangan membuang sampah sembarangan, akan lebih baik bila kita tidak menaruh banyak tempat sampah di lokasi yang mudah terlihat. Ada strategi yang mendorong pola perikalu yang digerakkan dari proses Nudge tersebut.

Sekiranya, psikologi memiliki peluang besar dalam memberikan ruang yang lebih baik. Dengan alasan itu pula, meski belum ada penghargaan nobel di bidang psikologi, peluang para peneliti psikologi masih terbuka lebar untuk mendapatkan penghargaan bergengsi itu. Barangkali saja kamu – bisa mendapatkannya!

No comments:

Post a Comment

loading...