Karakter Orang-Orang yang Rela Berbagi: Apakah Kamu Salah Satunya?

By Wawan Kurniawan - 9:00:00 AM



INDOPOSITIVE.orgKira-kira kapan terakhir kali anda melakukan sebuah donasi? Mungkin baru-baru ini anda baru saja berdonasi setelah berbagai bencana yang melanda beberapa daerah di Indonesia. Mungkin juga orang terdekat atau di sekitar anda baru saja menerima donasi anda? Tentu menyenangkan bila kita mampu melakukan atau memberi donasi pada sesame. Namun seringkali kita temui beberapa orang yang enggan melakukan donasi. Beberapa lagi, terlihat gemar melakukan atau rela berbagi dan memutuskan untuk berdonasi.

Mengeluarkan uang untuk orang lain terbukti mampu memberikan kebahagiaan tersendiri. Barangkali saja anda pernah merasakan ketika berbagi dengan sesama, secara tidak langsung ada yang terasa berbeda dalam diri kita. Berkembangnya media sosial membuat kita dengan mudah menemukan ruang donasi. Bahkan beberapa platform didirikan untuk menjadi tempat khusus mengumpulkan donasi. Selain uang, donasi sendiri juga dapat berupa waktu. Uang dan waktu menjadi sesuatu yang penting untuk dibagi. Sekarang ini, donasi selain waktu dan uang bisa berupa benda atau makanan. Namun dalam hal ini, hanya akan difokuskan pada dua hal tersebut yaitu uang dan waktu.

Tapi pertanyaannya, mengapa ada orang-orang yang sulit berdonasi?

Salah satu penelitian yang berjudul Who Gives What to Charity? Characteristics Affecting Donation Behaviour mencoba melihat karakter dari orang-orang yang bersedia berbagi waktu sebagai relawan dan orang yang bersedia menyumbangkan uangnnya. Penelitian ini dilakukan di Taiwan oleh Yu-Kang Lee dan Chun Tuan Chang. Keduanya berasal dari National Sun Yat Sen University. Hasil dari penelitian mereka sekaligus memberikan rujukan tentang perilaku donasi dari sudut pandang perilaku orang Asia. Setelah berbagai rujukan sebelumnya berasal dari sejumlah penelitian di Eropa. Salah satu yang berbeda dalam perilaku donasi adalah masalah usia.

Mereka yang rela berdonasi waktu
Di Eropa, kegiatan relawan tidak dipengaruhi oleh usia. Dari berbagai kalangan usia muda hingga dewasa, bersedia meluangkan tenaga dan waktunya untuk bekerja sebagai relawan. Namun di Taiwan, atau di Asia sendiri – usia menjadi faktor penentu dalam perilaku relawan. Hal tersebut diduga kehadiran organisasi non-profit yang masih terbilang baru dan belum cukup berkembang. Berbeda dengan di Eropa atau beberapa negara maju, hal tersebut dengan mudah diakses dan ditemui dalam berbagai kesempatan.

Orang-orang muda yang melihat informasi terbaru serta kegiatan amal tentu memiliki peluang besar untuk sadar dan berbagi waktu menjadi seorang relawan. Berbeda dengan generasi yang lebih tua. Mungkin saja hal ini juga berlaku di Indonesia. Secara mendasar, perilaku menjadi relawan dipengaruhi oleh faktor psikologis dan pengetahuan seseorang. Misalnya saja, empati, rasa tanggung jawab sosial, kesadaran diri serta mengenal keberadaan organisasi non-profit.

Mereka yang rela berdonasi uang
Sedangkan untuk mereka yang berdonasi dengan uang memiliki karakter yang berbeda. Hal ini cenderung dipengaruhi demografis dan masalah sosial ekonomi. Misalnya saja, usia, jenis kelamin, beban keluarga, dan status pernikahan. Secara sederhana, pengaruh donasi dengan uang lebih banyak dipengaruhi dari hal-hal di luar diri seseorang. Berbeda dengan menjadi relawan yang berhubungan kuat dengan psikologis atau faktor internal seseorang.

Dalam hal usia, orang yang lebih tua cenderung berdonasi uang dibandingkan mereka yang masih muda. Pada jenis kelamin, perempuan cenderung berdonasi uang dibanding laki-laki. Pada masalah beban keluarga, ditemukan jika keluarga yang memiliki satu anak atau lebih sedikit, cenderung mendonasikan uangnya dibanding mereka yang memiliki beban keluarga lebih banyak. Sedangkan status pernikahan juga memberi pengaruh, mereka yang telah menikah lebih besar kemungkinannya untuk berderma dibandingkan yang masih lajang. 

Nah, kira-kira anda ada di kelompok apa? Semoga saja di kelompok yang lebih baik, mereka yang rela berbagi uang dan waktu untuk sesama.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar