Bila Terlalu Fans, Awas Celebrity Worship Syndrome. Ini 2 Akibat Parahnya!

By Muhammad Ahyar Hamka - 9:00:00 AM


INDOPOSITIVE.orgMengidolakan seseorang adalah hal yang wajar saja. Tentu kita semua punya idola masing-masing untuk jadi panutan dan role model. Meniru gaya hidup dari cara berpakaian, berdandan, shoping bahkan sampai cara makannya sekalipun. Namun ketika terlalu obsesif terhadap kehidupan seorang idola akan berdampak buruk terhadap kehidupan kita. Berhati-hatilah bila masih ketika bangun tidur, anda langsung memikirkan Lee Min Ho, Zayn Malik, Black Pink, Taylor Swift dan  Soo Joong-Ki serta selebriti lainnya. Jika dalam kondisi yang tak biasa atau dengan frekuensi yang tak wajar, anda patut curiga. Jangan sampai kita sudah terpapar virus Celebrity Worship Syndrome.

John Maltby, seorang peneliti di bidang tersebut secara sederhana menjelaskan bahwa Celebrity Worship merupakan rasa senang dengan selebriti atau idola tertentu yang mempengaruhi kehidupan fans dan dapat digambarkan sebagai obsesif terhadap sesuatu. Sementara itu dalam hubungan sosial disebut dengan istilah parasosial, yaitu hubungan di mana orang lain tahu seorang idolanya tapi sebaliknya seorang idola tidak mengetahui penggemarnya.

Di era digital ini dengan melalui media sosial sang idola dapat dijangkau di mana pun berada untuk mengintip apa saja yang dilakukannya. Menyisihkan sebagian waktu hanya untuk mengikuti kesehariannya. Bahkan ada yang menyisihkan waktu dan materinya untuk menghadiri penampilan panggung hingga ke luar negeri. Tak kenal jarak dan berapa rupiah yang harus dihabiskan demi memenuhi hasrat kesenangannya.

Kesenangan itu hanya sementara saja dan tidak menunjang kesejahteraan psikologis. Pendapat ini didukung oleh Maltby dan rekannya, dalam penelitian yang berjudul The self-reported psychological well-being of celebrity worshippers, yang dipublikasikan di tahun 2001  mengemukakan bahwa seorang sebagai celebrity worship itu akan berdampak dengan kesejahteraan psikologis yang buruk. Selain mempunyai ambisi atau keinginan tinggi mereka akan memberi jarak dengan lingkungan sosialnya. Di Amerika, celebrity worship sudah dikategorikan sebagai penyakit patologis.

Dengan adanya smartphone yang dilengkapi fitur canggih akan mempermudah untuk berkomunikasi dengan sang idola sehingga jarak dan ruang lingkungannya seringkali diabaikan. Menenggelamkan diri ke dalam kehidupan seorang yang di idolakan akan memburamkan pengetahuan terhadap lingkungan sendiri bahkan mengabaikan diri yang sebenarnya. Telah diungkap dalam penelitian McCutcheon dan rekannya pada tahun 2003 yang berjudul Conceptualization and measurement of celebrity worship dijelaskan bahwa seseorang yang sangat lekat dengan kehidupan idolanya mempunyai  kreativitas , pengetahuan umum dan pemikiran kritis yang cenderung rendah. Selalu mencari tahu di mana dan apa yang dilakukan seorang idola tapi seorang yang di idolakan tak akan pernah mengetahui siapa dan dimana penggemarnya. Ada yang sampai mengedit foto dengan seorang idola hanya untuk memposting di media sosial, demi menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya bersama seorang yang selama ini diidolakan.

Kehidupan rumit serta berbagai tantangan yang memiliki sisi misterius semakin menjadikan orang yang masyhur menarik untuk diikuti. Menjadi inspirasi tersendiri untuk menghadapi berbagai permasalahan sehari-hari. Menikmati suaranya dengan menyanyikan lagu yang menenangkan jiwa tak ada masalah. Selain menjadi inspirasi, seseorang bisa bergabung dalam komunitas fans serta saling mempererat hubungan emosional dengan para fans yang lain dengan berbagai aktivitas bersama.

Membatasi intensitas mengikuti kehidupan dan ketertarikan kepada seorang idola penting untuk dilakukan agar tidak mengganggu kegiatan kita sehari-hari. Menerima secara bijaksana saran dari teman yang masih peduli dengan mengesampingkan egosentrisme diri. Teman yang memberikan komentar atau saran itu bukan berarti memprotes atau menolak tapi sebagai sinyal bahwa lingkungan sekitar masih peduli terhadap kehidupan sosial yang nyata.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar