3 Hal Ini Jadi Penanda Bila Kamu Optimis atau Pesimis? - IndoPositive

Breaking

Friday, January 4, 2019

3 Hal Ini Jadi Penanda Bila Kamu Optimis atau Pesimis?



INDOPOSITIVE.orgBagaimana awal tahun anda? Mungkin setelah menulis resolusi tahun baru, ada beberapa hal yang penting dilakukan. Tapi, selain mempersiapkan rencana, penting juga untuk membangun mental yang kuat untuk menjalani hari-hari di tahun 2019 ini. Seberapa sering anda merasa gagal? Dan bagaimana anda bangkit melawan kegagalan itu? Mungkin kita bisa belajar untuk mempelajari cara berpikir dan bertindak yang satu ini, optimis. Topik ini dalam dunia psikologi, terkenal saat Martin P.Seligman membawa optimis pada titik mula kelahiran psikologi positif. Setelahnya, beberapa peneliti mulai mengkaji hal tersebut. Salah satunya Gerhard Andersson, yang merupakan ahli psikologi klinis.

Gerhard Andersson, peneliti asal Uppsala University pernah melakukan metanalisis tentang optimis yang berjudul The Benefits of Optimism: a Meta-Analitic Review of  the Life Orientation Test. Salah satu temuan dari meta-analisis tersebut adalah optimisme dalam bidang kesehatan memiliki pengaruh yang besar atau pengaruh yang positif dalam proses penyembuhan. Individu yang sedang memiliki beban atau keluhan somatik dalam menghadapi suatu penyakit, optimisme yang dimiliki dipercaya akan berperan positif dalam proses penyembuhan.

Seligman dalam beberapa artikel penelitiannya menjelaskan bahwa  bagaimana cara individu memandang  suatu peristiwa di dalam kehidupannya, berhubungan erat dengan gaya individu  dalam menjelaskan suatu peristiwa  (explanatory style). Dengan gaya penjelasan, seseorang yang optimis akan dapat menghentikan rasa ketidakberdayaannya. 

Ditinjau dari perspektifnya, orang yang optimis menjelaskan suatu kejadian atau negatif diakibatkan oleh faktor-faktor eksternal, bersifat sementara,  atau faktor-faktor khusus. Sementara  itu, orang pesimis menjelaskan bahwa  negatif dikarenakan oleh faktor internal, bersifat stabil, dan diakibatkan  oleh faktor-faktor global. Seligman pun mengemukakan ada tiga macam gaya penjelasan  (explanatory style),  yaitu  permanence, pervasiveness dan  personalization. 

Pertama, Permanence (hal yang menetap) 
Gaya ini menggambarkan bagaimana individu melihat peristiwa yang bersifat  sementaran  (temporary) atau menetap  (permanence). Orang-orang yang pesimis  melihat peristiwa yang buruk sebagai sesuatu yang menetap dan mereka  cenderung menggunakan kata-kata ”selalu” dan ”tidak pernah.

Kedua,  Pervasiveness (hal yang mudah menyebar) 
Gaya penjelasan peristiwa ini berkaitan dengan ruang lingkup dari peristiwa  tersebut, yang meliputi universal (menyeluruh) dan spesifik (khusus). Orang yang  optimis bila dihadapkan pada kejadian yang buruk akan membuat penjelasan yang spesifik dari kejadian itu, bahwa hal buruk terjadi diakibatkan oleh sebab-sebab  khusus dan tidak akan meluas kepada hal-hal yang lain.

Ketiga, Personalization (hal yang yang berhubungan dengan pribadi) 
Personalisasi merupakan gaya penjelasan masalah yang berkaitan dengan  sumber dari penyebab kejadian tersebut, meliputi internal dan eksternal.  Ketika mengalami hal yang buruk, orang yang pesimis akan menganggap bahwa  hal itu terjadi karena faktor dari dalam dirinya.

Ketiga hal tersebut menjadi sesuatu yang penting dalam memberikan pengaruh pada cara melihat seseorang. Bagaimana pun, optimis terdengar mengesankan dan penting. Akan tetapi, optimis sendiri punya efek buruk terhadap keseharian kita. Salah satunya mudah menyalahkan hal di luar diri dan menghilangkan kemampuan kita dalam mengantisipasi berbagai hal buruk yang kemungkinan terjadi. Beberapa peneliti pesimis pun menjelaskan hal baik tentang itu, pesimis tak selamanya buruk.  

Post a Comment
loading...