Apa yang Terjadi Jika Pilihan Kita Dikendalikan Orang Lain? - IndoPositive

Breaking

Wednesday, December 5, 2018

Apa yang Terjadi Jika Pilihan Kita Dikendalikan Orang Lain?



INDOPOSITIVE.orgHidup akan dihadapkan dengan beberapa pilihan. Apa yang akan kita alami dikemudian hari  menjadi konsekuensi atas pilihan kita hari ini. Di tengah banyaknya pilihan, seringkali kita mendapat masalah dalam memutuskan sesuatu yang benar-benar kita inginkan. 

Kemampuan manusia untuk membuat keputusan dari sejumlah pilihan yang ada tidak sepenuhnya terjadi atas kehendak pribadi (faktor internal), melainkan juga dipengaruhi oleh lingkungan (faktor eksternal).  

Di beberapa negara dan budaya, pilihan seseorang tak sepenuhnya ditentukan diri sendiri. Misalnya saja, pilihan seseorang terkadang masih dipengaruhi oleh lingkungan seperti teman, kerabat dan orang tua. Sering kali dapat kita jumpai, peran orang tua masih mempunyai pengaruh yang kuat dalam pemilihan keputusan anak. Orang tua senang sekali memilih atau mengurusi pilihan anak, seperti memilih jurusan kuliah, memilih teman bahkan ada orang tua yang juga ingin mengambil kuasa untuk pemilihan pasangan hidup anaknya. Padahal, kemampuan kita dalam memilih keputusan secara mandiri menjadi kunci agar kondisi jauh lebih baik. 

Hal itu juga bertujuan agar kita tidak menyesali apa saja yang akan terjadi dan akan berdampak baik, serta membuat kita bahagia. Dalam isitilah psikologi, fenomena diatas dikenal dengan istilah locus of control. Locus of control secara sederhana dapat difenisikan sebagai  harapan umum yang mendasari terjadinya suatu peristiwa kehidupan seseorang yang dipengaruhi oleh tindakan atau kendali pribadi maupun unsur lain. Locus of control pertama kali diajukan oleh Rotter berdasarkan teori belajar sosialnya. Menurut Rotter, pada dasarnya konsep dari locus of control memperlihatkan keyakinan serta harapan seseorang mengenai sumber penyebab dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Kejadian-kejadian yang terjadi pada dirinya dikendalikan oleh kekuatan dari dalam dirinya atau dari luar dirinya. 

Terkait hal ini, kita bisa belajar dari salah satu penelitian dari Yale University. Eksperimen yang di lakukan oleh Langer bersama Rodin yang merupakan Profesor dari Yale University dengan judul penelitian The effects of choice and enhanced personal responsibility for the aged: a field experiment in an institutional setting. Mereka melakukan studi di panti jompo dengan memberikan beberapa pilihan terkontrol pada subjek atas keputusan kecil dalam hidup mereka. Para peneliti membagi subjek menjadi dua kelompok: kelompok yang diinduksi oleh tanggung jawab (RI) dan kelompok kontrol. Pada kelompok RI diberitahu bahwa mereka memiliki kehendak untuk beberapa pilihan pengaturan seperti, perabotan, jam berkunjung, hiburan dan diberi tanaman kecil untuk dirawat. 

Sedangkan pada Kelompok kontrol diberi tahu bahwa perawat akan mengurus setiap kebutuhan mereka, hiburan apa yang diinginkan, jam kunjungan yang ditentukan, bagaimana tata ruang diatur dan tanaman yang diberikan akan dirawat oleh perawat. hasil eksperimen menunjukan bahwa kelompok RI memiliki suasana hati yang lebih baik, tingkat kewaspadaan yang tinggi, dan lebih aktif. Dan setelah beberapa lama kemudian mereka menemukan bahwa subjek yang berada di grup RI tingkat kematiannya lebih rendah sebesar 50% dibandingkan kelompok kontrol. 

Bahagia itu ditangan kita sendiri, sebisa mungkin kita berusaha menjadi apa yang kita harapkan. Lingkungan sekiranya tak membatasi ruang gerak kita. Seperti halnya yang Carl Gustav Jung selalu katakan, “I am not what happened to me,  I am what I choose to become.”
Post a Comment
loading...