Kamu Adalah Apa Yang Kamu Makan: Makanan Cepat Saji dan Psikologis Kita - IndoPositive

Breaking

Thursday, November 8, 2018

Kamu Adalah Apa Yang Kamu Makan: Makanan Cepat Saji dan Psikologis Kita



INDOPOSITIVE.org Kapan terakhir kali anda memesan atau menikmati makanan cepat saji? Di dunia yang cepat dan mungkin terus berlari ini, makanan cepat saji menjadi sebuah pilihan penting. Beberapa penelitian bahkan menjelaskan jika makanan cepat saji di satu sisi mengancam kesehatan kita. Celakanya, kita tak benar-benar peduli dengan hasil penelitian tersebut. Di tulisan kali ini, kami tidak akan mengajak anda untuk berhenti mengkonsumsi makanan cepat saji, itu tergantung pilihan anda. Hanya saja, kami mencoba kembali memberikan gambaran tentang makanan cepat saji dalam sudut pandang psikologi. 

Penelitian eksperimen ini membagi partisipan yang merupakan mahasiswa dalam tiga percobaan. Pertama, peneliti membagi dua kelompok partisipan. Pada kelompok pertama, peneliti sekilas memperlihatkan  (secara tidak sadar) sejumlah logo makanan cepat saji yang terkenal seperti McDonald's, KFC, Subway, Taco Bell, Burger King, dan Wendy's di layar komputer sembari peserta tersebut diberikan tugas lain. Kelompok kedua diberikan tugas yang sama tanpa diperlihatkan logo makanan cepat saji seperti kelompok sebelumnya. Kemudian seluruh peserta diminta membaca sebuah pesan atau kutipan singkat. Para peserta tidak diberikan waktu untuk membaca, namun peserta yang melihat logo makanan cepat saji memperlihatkan proses membaca lebih cepat. 

Selanjutnya, dalam percobaan kedua para partisipan diminta untuk mengingat kapan terakhir mereka makan makanan cepat saji atau terakhir kali mereka pergi berbelanja, kemudian semua menyelesaikan survei pemasaran yang seolah-olah tidak berhubungan. Kelompok yang terpapar logo makanan cepat saji membuat pilihan untuk memutuskan produk yang menghemat waktu. Mereka akan lebih memilih produk yang terbilang menghemat waktu. Seperti 2 in 1 shampo dibandingkan shampoo biasa. Empat bagian pemanggang roti dibanding dengan alat pemanggang roti yang hanya memiliki satu bagian dan lain-lain. 

Dan di percobaan terakhir, partisipan diminta untuk menilai daya tarik estetika logo perusahaan yang berbeda, beberapa logo makanan cepat saji dan beberapa logo lainnya yang bukan makanan cepat saji. Selanjutnya mereka diberikan penawaran terkait jumlah pembayaran yang bertujuan untuk melihat  kemampuan melakukan delay gratification, kelompok yang terpapar logo makanan cepat saji cenderung tak mampu melakukan delay gratification dibandingkan kelompok lainnya. 

Peneliti menemukan bahwa meskipun makanan cepat saji membantu kita menghemat waktu, namun ironisnya kita menjadi tak mampu bersabar dan menunggu dalam beberapa kondisi lainnya. Kita menghemat waktu tapi gagal memaknai apa yang telah kita lewati dalam waktu itu sendiri. Jadi, kapan terakhir kali anda memesan atau menikmati makanan cepat saji?
 
Referensi: