Expressive Writing: Sebuah Cara Mengenal Diri dan Pasangan Kita - IndoPositive

Breaking

Sunday, November 25, 2018

Expressive Writing: Sebuah Cara Mengenal Diri dan Pasangan Kita



INDOPOSITIVE.org Tak ada hubungan yang benar-benar sempurna. Sudah menjadi hal yang pasti bila kita akan dihadapkan pada berbagai masa yang menyenangkan atau sebaliknya. Semua itu menjadi langkah tersendiri untuk menjalani sebuah hubungan dengan seseorang. Dari pasangan kita, seringkali kita menemukan kebahagiaan yang meluap-luap, tapi bukan jaminan bahwa kita tak akan menemukan kesedihan. Lalu, pada saat kita dirundung kesedihan seperti itu, kita butuh sebuah cara yang mampu menjaga hubungan kita tetap berjalan baik, bahkan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Beruntugnya, langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah itu terbilang sederhana. Langkah itu adalah dengan melakukan  expressive writing. Sederhananya, langkah itu mengajak kita untuk mencoba mengugkapkan perasaan kita dengan menulis secara bebas. 

Dalam lingkup penelitian psikologi, expressive writing menjadi salah satu alat yang digunakan dalam merumuskan atau menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan masalah pribadi dan hubungan. James Pennebaker, salah seorang peneliti yang berfokus pada topik ini telah melakukan serangkain penelitian yang menemukan hasil menarik. 

Salah satunya, saat Pennebaker berkolaborasi bersama Richard B. Slatcher, mereka melakukan penelitian yang mencoba melihat efek dari expressive writing terhadap sebuah hubungan. Dalam menulis, para peneliti menemukan sejumlah manfaat mendasar, salah satunya adalah usaha untuk memahami diri sendiri. Bagi orang-orang yang menuliskan pengalaman serta perasaannya, mereka cenderung melakukan refleksi serta membuat prediksi atas hubungan dan mampu mengendalikan diri dengan lebih baik. 

Penelitian James Pennebaker dan Richard B. Slatcher diterbitkan dengan judul How do I love thee? Let me count the words: The social effects of expressive writing. Penelitian itu memperlihatkan bahwa kelompok yang diminta untuk menulis perasaannya terhadap hubungan dengan bebas. Dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya diminta untuk menuliskan kegiatan sehari-hari. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa salah satu hal menarik dalam kegiatan mengungkapkan perasaan lewat tulisan membuat hubungan pasangan tersebut berjalan lebih baik dibandingkan kelompok sebelumnya. Temuan itu didapatkan setelah tiga bulan pengambilan data, peneliti dengan sengaja menghubungi kembali dua kelompok tersebut.



Menulis juga menjadi cara mengatasi trauma atau pengalaman buruk yang pernah kita lalui. Penelitian lain dari James Pennebaker bersama Janel D. Seagal kembali menggunakan konsep yang serupa. Judul penelitian itu, Forming a Story: The Health Benefits of Narrative. Tapi kali ini berfokus pada trauma masa lalu atau pengalaman buruk seseorang. Sebagian besar dari partisipan tersebut mengalami kondisi kesehatan mental yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Pengalaman buruk pun dapat disalurkan melalui narasi cerita yang dituliskan. Jika anda ingin mencobanya, anda bisa melakukannya sendiri. Penelitian serupa seringkali meminta partisipan untuk menulis cukup 15 menit saja. 

Terkhusus untuk masalah hubungan, kita bisa mengekspresikan perasaan kita pada pasangan lewat tulisan. Kita bisa menuliskan kenangan bersama atau pengalaman menyenangkan seperti saat liburan, pertemuan paling berkesan, harapan bersama dan masih banyak lainnya. Peneliti membiarkan partisipan melakukan itu 4 hingga 6 kali. Anda pun boleh mencobanya, menulis setiap hari atau mungkin di akhir pekan. Hanya saja, bila hubungan anda bermasalah, menulis sedikit demi sedikit membuat beban itu berkurang dan tidak sertamerta menghilang begitu saja. Tapi, cara ini setidaknya bisa menjadi obat untuk menajaga kesehatan hubungan dengan pasangan berumur lebih panjang. Bukan cuma tubuh yang butuh obat, hubungan pun demikian. 

Hanya saja, tidak semua pasangan merasakan jika tulisan ekspresi tersebut begitu penting. Andaikan pasangan anda tak peduli atau kurang memberi apresiasi, tulisan itu setidaknya membantu anda sendiri untuk sembuh. Barulah jika pasangan mulai mengerti atau hendak membaca, tak ada salahnya kita membiarkan dia membaca atau mengomentari. Bahkan, mungkin anda bisa memintanya membalasnya dengan ekspresi lewat tulisan. Menulis sekiranya menjadi jembatan untuk kembali pada pikiran-pikiran yang kadang penting namun kita abaikan, lantaran berpikir memang kadang tak semudah yang kita bayangkan. Ini hanyalah salah satu cara di antara banyak cara untuk menjaga hubungan.

Salah seorang teman SMA saya yang bernama Faizal pernah berbagi, jika salah satu cara yang dia lakukan untuk menjaga hubungannya adalah tetap mengenang masa-masa awal dia bertemu dengan kekasih – yang kini menjadi istrinya. Mungkin sembari melakukan itu, Faizal tak ingin istrinya menyanyikan lagu Adele yang berjudul, Don't You Remember. Dan seperti Faizal, setiap orang punya caranya masing-masing.

Post a Comment
loading...