ABCDE Model: 5 Langkah Untuk Lebih Optimis dari Seligman - IndoPositive

Breaking

Monday, November 26, 2018

ABCDE Model: 5 Langkah Untuk Lebih Optimis dari Seligman



INDOPOSITIVE.orgBeberapa penelitian telah membuktikan bahwa optimis menjadi salah satu hal penting bagi seseorang. Dalam berbagai penelitian tentang optimis, kita tentu akan membaca berbagai pandangan tentang lawan dari kata optimis itu sendiri, pesimis. Bukan berarti bahwa pesimis adalah hal buruk, namun sejauh ini, optimis masih mendapatkan hasil yang lebih baik. Bahkan kita kadang mendengar bahwa ada orang yang telah terlahir optimis dan pesimis. Tapi, benarkah demikian adanya? Akan tetapi, berdasarkan dari temuan Martin Seligman, optimis menjadi sesuatu yang dapat dipelajari dan dikembangkan. 

Dalam bukunya, Learned Optimism: How to Change Your Mind and Your Life, Seligman menceritakan tentang optimisme dan usaha yang dapat dilakukan dalam mengembangkan potensi tersebut. Mulai dari anak-anak, kita bisa menanamkan nilai kritis serta mengajarkan sejumlah nilai hingga saat dewasa nanti, tak akan mudah saat menghadapi masalah dan terhindar dari depresi berat.  

The ABCDE Model
Seligman percaya bahwa setiap orang dapat belajar untuk optimis. Dengan hal tersebut, kesehatan mental seseorang dapat terjaga lebih baik. Pendekatan Seligman dalam mempelajari hal tersebut berdasarkan pengembangan cognitive-behavioral techniques yang dikembangkan oleh Aaron Beck dan  rational emotive behavioral therapy yang diciptakan oleh Albert Ellis. Kedua konsep tersebut dikembangkan guna menumbuhkan dan menemukan perilaku yang diinginkan. Pendekatan yang kemudian disusun Seligman dikenal dengan model ABCDE, yang terdiri dari:
Adversity (Kesulitan)
Coba pikirkan kesulitan terbesar atau kesulitan terakhir yang anda alami. Mungkin berhubungan dengan kesehatan, ekonomi atau keluarga. Tantangan apapun yang anda alami.

Belief (Keyakinan)
Catatlah pikiran yang muncul saat anda mengalami kesulitan tersebut. Tulislah perasaan anda sejujur mungkin. Semisal anda mengatakan, “Saya bodoh” atau “Semua ini salah saya” dan sejumlah pikiran lain yang terlintas.

Consequence (Konsekuensi)
Selanjutnya, pertimbangkan konsekuensi dari pikiran yang telah dicatatkan pada langkah sebelumnya. Pertimbangkanlah dengan matang, apakah pikiran itu membawa pada kondisi yang lebih baik atau semakin memperburuk keadaan.

Disputation (Pertentangan)
Setelah mengetahui konsekuensi yang terjadi, hal selanjutnya adalah, buatlah bantahan terhadap pikiran anda sendiri. Berusahalah untuk melawan pikiran yang muncul pada langkah kedua tahap ini. Buatlah jawaban yang sebisa mungkin mampu membantah pernyataan anda sebelumnya pada langkah kedua.

Energization (Energi)
Terakhir, kumpulkan sejumlah langkah yang telah dilewati, buatlah pertimbangan yang membawa anda pada usaha untuk menentukan langkah terakhir. Mengumpulkan inspirasi atau tenaga untuk menghadapi kesulitan yang telah ada. Dengan itu, anda akan tetap berusaha untuk berjuang mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya.

Kiranya, konsep yang ditawarkan Seligman, ABCDE Model menjadi salah satu kemungkinan untuk dipelajari dan dikembangkan. Hanya saja, butuh waktu untuk mengembangkan konsep optimis itu sendiri. Selain itu, penting diketahui bahwa seringkali kita tak mampu memahami optimis dengan baik. Hingga hal tersebut membuat kita secara tidak realistis bertindak dan melakukan apa saja. Optimsim bias menjadi salah satu konsep yang membahas hal tersebut. Saat optimis tak mampu terlihat jernih dan semakin bias, itu dapat mengarahkan kita pada narsistik.
Post a Comment
loading...