3 Kemungkinan Alasan Pemilih Pemula Memberikan Suaranya - IndoPositive

Breaking

Sunday, November 18, 2018

3 Kemungkinan Alasan Pemilih Pemula Memberikan Suaranya



INDOPOSITIVE.org Menatap pemilihan presiden 17 April 2019 genderang awal telah dimulai dua bulan yang lalu. Ditandai dengan deklarasi dua pasangan calon. Kampanye telah serentak dilakukan dari kedua tim sukses menarik suara, mulai dari Emak-emak hingga kaum millenials. Millenials menjadi sasaran penting lantaran dapat menjadi lumbung suara. Sebagain besar dari mereka pun terbilang sebagai pemilih pemula. 

Pemilih pemula merupakan mereka yang berusia 17-21 tahun dan sudah terdaftar di DPT untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam pemilu. Keberadaan pemilih pemula saat ini dianggap penting untuk memenangkan pemilu 2019. Bagaimana perilaku memilih (voting behavior) pemilih pemula? Penting untuk diketahui dari tinjauan psikologis perilaku pemilih (voting behavior) pemilih pemula karena merupakan pengalaman pertama dalam memilih.

Pendekatan voting behavior The Michigan Model yang dikenal sebagai pendekatan psikologis untuk mengetahui perilaku memilih individu yang diuraikan secara lengkap oleh Campbell, Miller, Converse dan Stokes di dalam The American Voters (1960). Ada tiga hal penting yang menjadi fokus para pemilih pemula dalam memilih calon presiden atau calon legislatif pada pemilu mendatang, yaitu keberpihakan (partisanship), pendapat terhadap isu yang berkembang dan citra kandidat calon presiden.

Pertama: Keberpihakan
Partisanship adalah konsep kedekatan psikologis yang berkelanjutan dengan partai politik. Walaupun tidak termasuk di dalamnya dan menganggap bahwa apa yang dilakukan sesuai dengan aturan partai politik. Hamdi Muluk di tahun 2012 dalam studinya menyebutnya dengan istilah ikatan emosional terhadap partai politik di dalamnya terdapat reaksi psikologis dengan memiliki ideologi atau visi misi yang sama sehingga akan mendukung untuk pemenangan calon kandidat presiden usungan partai.

Kedua: Pendapat terhadap isu
Pendapat terhadap isu atau orientasi isu, berbeda dengan kedekatan tetapi lebih kepada keselarasan tujuan yang ideal apa yang menjadi tawaran-tawaran solusi atau program kerja kedepannya dari calon kandidat. Seiring berjalannya masa kampanye yang menimbulkan perang gagasan, adu program, bahkan perang metafora kata di media sosial. Menurut Newman dan Sheth yang mengembangkan teori voting behavior  di tahun 1985, mengemukakan bahwa isu-isu dan kebijakan dalam program yang diperjuangkan dan dijanjikan kandidat menjadi faktor penting untuk menjadi penilaian dalam memilih.

Ketiga: Citra kandidat
Citra kandidat tak kalah pentingnya menjadi  orientasi pemilih untuk memilih figur calon presiden yang didasarkan atas kepribadian, kepopuleran, rekam jejak dan kepemimpinan selama kiprah kandidat calon presiden. Dengan adanya penilaian kinerja pemerintahan menjadi penunjang pengetahuan politik pemilih. Menurut Roth pada studi pemilu empirisnya (2008) mengemukakan bahwa pilihan politik rasional choice berorientasi pada capaian dan keberhasilan partai atau kandidat baik hasil dipersepsikan maupun diantisipasi. 

Pemilih pemula rentan dalam memilih hanya mengikuti kemauan keluarga ataupun kerabat. Untuk menjadi pemilih yang menguntungkan bagi diri sendiri dan kebijakan pemerintahan yang akan datang pemilih pemula perlu memiliki tiga hal diatas dalam menentukan pilihan politiknya. Dalam perilaku memilih (voting behavior), konsep The Michigan Model dengan pendekatan psikologis, dapat membantu dalam menemukan pilihan politik ke arah lebih baik.


Post a Comment
loading...