Apakah Anda Lebih Pandai Menilai Diri Sendiri atau Orang Lain? - IndoPositive

Breaking

Thursday, December 22, 2016

Apakah Anda Lebih Pandai Menilai Diri Sendiri atau Orang Lain?

INDOPOSITIVE.org — Kebanyakan orang cenderung berikir positif tentang diri mereka. Hal itu tentu saja baik, namun dari sisi lain, ketika kita melihatnya dengan penilaian yang lebih kompleks hal tersebut tidak selamanya berbuah manis. Beberapa penelitian membuktikan bahwa banyak orang yang berpikir diri mereka lebih pintar dari hasil tes kinerja intelektualnya, berpikir mereka berperilaku lebih sopan dari tingkah laku sebenarnya, bahkan merasa lebih sehat, lebih cerdas dan berpengalaman dibanding teman mereka sendiri.



Melihat fenomena ini, dua orang peniliti pada tahun 2013, Emily Balcetis dan David Dunning melakukan penelitian eksperimen. Mereka ingin melihat bagaimana seseorang menilai diri mereka ketika dihadapkan pada perilaku menolong. Apakah mereka juga melihat diri mereka sebagai individu yang lebih baik dibanding dengan orang lain dalam hal menolong?, dan apakah penilaian diri mereka tepat seperti apa yang mereka perkirakan? Seperti pada penelitian sebelumnya yang dilakukan Epley dan Dunning pada tahun 2006, sebanyak 83% responden yang ingin membeli bunga dalam penggalangan dana untuk penderita kanker, hanya 43% yang benar-benar membeli bunga.  

Penelitian ini melibatkan sebanyak 271 partisipan. Balcetis dan Dunning membuat dua eksperimen untuk melihat bagaimana seseorang menilai perilaku menolong terhadap diri mereka dan orang lain dalam empat situasi berbeda, yakni ketika sendiri dan dalam grup juga ketika dalam suasana hati yang buruk dan ketika senang.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa seseorang cenderung kurang tepat dalam memprediksi perlaku menolong mereka sendiri. Mereka diberi pertanyaan, “jika anda sendiri dalam sebuah ruangan dan seseorang meminta anda untuk menolongnya membersihkan ruangan, apakah anda akan menolong?”  Sebanyak 92% partisipan yang mengaku akan membantu orang lain membersihkan ruangan, pertanyaan selanjutnya adalah mereka diminta untuk memperkirakan, jika orang lain berada di ruangan seperti itu apakah akan melakukan hal yang sama? mereka memprediksi bahwa hanya 72% kemungkinan orang lain akan menolong. Kenyataannya, dalam eksperimen tersebut hanya 50% yang benar-benar menolong. Prediksi mereka terhadap orang lain cenderung mendekati kenyataan sebenarnya.

Hal ini tentu saja menarik. Sebab salah satu bentuk kekecawaan dan kekeliruan yang sering kita alami adalah karena kita salah memprediksikan diri kita sendiri, terutama saat dihadapkan pada perubahan situasi, seperti penjelasan sebelumnya yakni ketika sendiri dan dikeramaian. Eksperimen ini juga melibatkan hal penting terkait dengan perubahan situasi lain, Misalnya saat perubahan mood terjadi, apakah kita bisa mengantisipasi hal tersebut?

Ternyata ketika mereka diminta untuk memprediksi perilaku menolong mereka dalam kondisi senang dan sedih mereka menilai bahwa mereka tetap akan menolong, berbeda ketika menilai orang lain yang akan berubah ketika suasana hati mereka berubah. Penilaian terhadap orang lain bahwa ketika suasana hati sedih akan mengurangi intensitas menolong dan akan meningkat ketika sedang senang terbukti mendekati keadaan sebenarnya.


Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa, ketika dihadapkan pada penialaian terhadap diri sendiri atau secara “self-psychologist” banyak orang yang cenderung salah memprediksikan perilaku mereka, sementara ketika mereka diminta untuk menilai perilaku orang lain atau “social-psychologist” mereka lebih mendekati pada kondisi sebenarnya. Bagaimana dengan pengalaman anda, apakah pernah memperhatikan kejadian serupa?

Post a Comment
loading...