Agama dan Cara Kita Memandang Hidup


INDOPOSITIVE.org — Semakin banyak hal yang menuntut ingin dipercaya dan ada banyak orang yang begitu saja mudah percaya pada sesuatu. Berbicara tentang kepercayaan, ada banyak yang menjadi pertanyaan misalnya, mengapa kita percaya pada sesuatu? Belakangan kita melihat ada banyak pemberitaan di berbagai media tentang hal-hal yang sulit diterima nalar. Ada yang mampu menjanjikan ini dan itu, menggandakan uang, emas, dan beribu orang pun menjadi pengikut. Seorang peneliti bernama Clay Routledge memiliki ulasan menarik tentang sebuah kepercayaan dalam beragama. 

Penelitiannya berjudul An existential function of evil: The effects of religiosity and compromised meaning on belief in magical evil forces. Namun, penelitian ini tidak sepenuhnya dapat membahas fenomena kepercayaan terkait dengan sejumlah hal yang disebutkan sebelumnya. Hasil dari penelitian Clay Routledge hanya memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana perilaku dalam beragama.



Berdasarkan penelitian laboratoriumnya, agama memberikan kontobusi signifikan terhadap seseorang dalam memandang makna dalam menjalani hidupnya. Mereka tidak akan membantah jikalau orang-orang memilih agama sebagai alasan untuk menemukan dan mengatur tujuan hidupnya lebih baik. Secara umum, orang-orang yang beragama dalam hal ini menjalankan agama dengan baik, senantiasa memandang hidupnya begitu bermakna. Agama membantu mereka dalam mencapai tujuan dan percaya bahwa Tuhan telah memberikan jalan kepada hambaNya dan mereka sedang diawasi oleh Tuhan dan malaikat. Maka tidak heran, ketika orang-orang beragama mendapatkan kasus yang serba tidak pasti, mereka tetap dapat menjalani hidup dengan baik. Hal itu karena adanya kepercayaan bahwa Tuhan selalu ada. 

Namun selain hal tersebut, tercipta kepercayaan supranatural seperti adanya roh jahat, jin, makhluk halus. Mengapa ada beberapa orang yang percaya dengan sihir, roh jahat dan hal semacam itu? Penelitian Clay Routledge kemudian kembali berlanjut untuk menjawab pertanyaan tersebut. 

Dalam penelitiannya, tim peneliti memberikan kuesioner untuk menilai religiusitas dan persepsi dalam memaknai hidup. Selanjutnya, para subjek penelitian diberikan sebuah bacaan tentang seorang lelaki yang membunuh saudara perempuannya. Para subjek diminta untuk memberikan pendapat terkait dengan kasus itu. Pertanyaan tersebut dijadikan sebagai alat untuk melihat bagaimana peserta melihat kemungkinan alasan dari pembunuhan. Antara alasan “karena ayahnya kasar dan sering melihat hal kekerasan” atau “lelaki yang membunuh itu dirasuki roh jahat.”

Hasilnya bahwa orang-orang yang memiliki nilai religiusitas yang tinggi percaya bahwa kejadian itu dipengaruhi oleh roh jahat. Mereka tidak memberikan penjelasan terkait dengan kemungkinan yang lain seperti di lingkungan keluarga yang kasar, atau sering mengalami kekerasan di masa lalu. 

Dilanjutkan dengan studi kedua, kelompok eksperimen diberikan manipulasi yang mengajak subjek untuk membaca esai filsafat bahwa manusia adalah kosmik secara signifikan dan tujuan hidup secara objektif akan bermakna. Esai ini menantang gagasan bahwa kehidupan manusia adalah tujuan.  Sedang peserta dalam kondisi kontrol membaca esai filosofis yang tidak terkait dengan makna. Selanjutnya, peserta menyelesaikan kuesioner untuk menilai kepercayaan pada kekuatan gaib yang jahat.  Alat ukur ini memuat pertanyaan seperti "Orang-orang harus mengambil sejumlah hal seperti sihir atau ilmu hitam dengan serius" dan "Orang-orang harus menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan roh-roh jahat (misalnya, papan Ouija)".

Kami mengamati pola yang sama dari hasil sebelumnya. Bara para peserta yang membaca esai filosofis yang menantang keyakinan bahwa hidup adalah bermakna meningkat kepercayaannya kekuatan gaib yang jahat. Tapi ini hanya terjadi di antara peserta yang sangat religius. Dengan kata lain, orang-orang yang sangat religius yang memiliki persepsi tentang ancaman akan adanya keberadaan kekuatan gaib yang jahat. 

Salah satu yang menjadi alasan sederhana adalah, keyakinan adanya yang baik, secara langsung menghasilkan persepsi jika ada yang jahat. Kekuatan jahat itu kadangkala membuat para penganut agama percaya dan merasa cemas secara berlebih. Pada ruang inilah, sekiranya kepercayaan yang hari ini menjamur dan meruntuhkan nalar kadang berkembang. Ketidakmampuan beragama secara baik membuat orang kemudian percaya tanpa ada usaha menguji kebenaran dari orang-orang yang menuntut dipercaya. Sayangnya, dalam penelitian dan tulisan ini belum dijelaskan bagaimana sebaiknya cara terbaik untuk terhindar dari kepercayaan yang keliru, mungkin di beberapa postingan selanjutnya. 

Lahir di Pinrang, 4 Maret 1992. Senang membaca, menulis, meneliti. Penulis dapat dikunjungi di www.wawankurn.com

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :

Post a Comment