Wednesday, September 21, 2016

Paradox of Choice: Why More is Less?

INDOPOSITIVE.org Pernahkah anda terjebak dalam situasi sulit untuk memilih lantaran di hadapan anda, ada banyak pilihan? Lalu, pernahkah anda merasa menyesal dengan apa yang telah anda pilih? Percayalah, jika dua pertanyaan tadi membuat anda harus mengatakan “pernah” ada banyak orang seperti anda di muka bumi ini. Kesulitan memilih lalu menyesali pilihan adalah peristiwa yang lumrah terjadi hari ini. Bagaimana tidak, ada banyak pilihan yang tersedia saat ini. 



Sebagai contoh, jika di siang terik anda tiba-tiba kehausan dan memutuskan untuk masuk ke toko lalu membeli sebuah minuman dingin. Ada kalanya anda harus merelakan waktu beberapa menit untuk menentukan pilihan apa yang akan melepas dahaga anda. Ada banyak jenis minuman dingin dengan berbagai rasa dan khasiat. Dan semua itu membuat anda sedikit kesulitan dalam memilih. Melimpahnya pilihan di sekitar menjadi salah satu pertanda kehidupan modern. Namun pertanyaan pentingnya, apakah keberlimpahan itu baik atau tidak?

Berhubungan dengan memilih, dua belas tahun yang lalu, seorang peneliti asal Amerika bernama Barry Schwartz menulis sebuah buku yang berkaitan dengan bagaimana kita memilih dalam kehidupan sehari-hari. Buku itu berjudul, “The Paradox of Choice.”  Dalam buku yang ditulis Barry, ia mengatakan bahwa kelimpahan itu berdampak buruk dari segi psikologis dan kebahagiaan. Terkait dengan kelimpahan, bukan hanya jenis minuman seperti yang sebelumnya kita bahas. Perhatikan stasiun tv yang kemudian begitu banyak, jumlah film yang terus bertambah, pilihan bentuk rumah, handphone, dan berbagai hal lainnya.

Pilihan yang melimpah akan baik dan menggembirakan, anggapan itu sering hadir di kepala kita. Namun bagi Barry Schwartz, semua itu adalah kekeliruan. Waktu yang singkat untuk fokus pada pilihan ditambah dengan banyaknya pilihan akan membuat kita jauh dari perasaan bahagia. Sehingga kemampuan menentukan pilihan dapat menjadi sebuah cara untuk mendapatkan rasa senang sekaligus sebaliknya. Kegagalan memilih akan meninggalkan penyesalan. Ada beberapa langkah yang dijelaskan Barry untuk memandu dan membantu anda dalam memilih.

Pertama, mengetahui tujuanmu atau target sasaran. Kedua, mengevaluasi pentingnya setiap tujuan. Ketiga, menyusun berbagai pilihan. Keempat, mengevaluasi seberapa besar kemungkinan masing-masing pilihan untuk memenuhi tujuan Anda. Kelima, memilih winning options. Dan terakhir, memodifikasi tujuan. Memodifikasi bermakna dalam hal menyesuaikan tujuan dengan sejumlah pilihan dari hasil yang telah kita putuskan sebelumnya.




Terkait dengan bagaimana kita memilih, salah satu buku yang menarik adalah Thinking Fast and Slow yang ditulis oleh Daniel Kahneman bersama rekannya, Amos Tversky. Jika Anda seringkali merasa atau bahkan agak terbebani dengan masalah memilih, buku ini layak untuk dibaca. Beberapa orang menemukan bahwa sebagian besar ketidakbahagiaannya berasal dari stres atas pilihannya dan menyesali pilihan tersebut.

No comments:

Post a Comment

Know us

Our Team

Contact us

Name

Email *

Message *