Kembali Melihat Kebosanan Dari Sudut Pandang Baru - IndoPositive

Breaking

Thursday, August 11, 2016

Kembali Melihat Kebosanan Dari Sudut Pandang Baru

INDOPOSITIVE.org — Anak-anak dan kebosanan adalah dua hal yang kadang kita temui. Peneliti Karen Gasper dan Brianna Middlewood, dari Pennsylvania State University, menemukan bahwa individu dengan rasa bosan cenderung mencari dan terlibat dalam berbagai kegiatan- hingga ia merasa akan lebih bahagia. Namun penelitian lainnya menjelaskan bahwa kebosanan mengembangkan kemampuan bawaan mereka untuk menjadi kreatif. Dr Teresa Belton, mengunjungi rekan di University of East Anglia, berfokus pada hubungan antara kebosanan dan imajinasi. Dia mengatakan kepada BBC bahwa kebosanan sangat penting untuk mengembangkan "stimulus internal," yang kemudian memungkinkan kreativitas sejati.



Keyakinan populer bahwa kebosanan itu adalah hal buruk dan berpotensi merugikan merupakan hasil dari studi masa lalu. Ada banyak yang mengira bahwa orang-orang dengan "rawan kebosanan "  memiliki kegembiraan yang kurang dan mudah frustrasi. Tapi penelitian terbaru menemukan bahwa ketika kita sedang bosan akan ada asosiasi dengan pikiran kreatif dan mendorong seseorang untuk menemukan makna dan kepuasan yang lebih dalam.

Ini juga penting untuk diingat bahwa ada perbedaan besar antara otak yang mati rasa secara negatif dan rasa bosan yang konstruktif. Kebosanan konstruktif merangsang kreativitas. Anak-anak dengan bosan konstruktif akhirnya beralih ke membaca buku, atau membangun sebuah benteng, atau melakukan hal yang lain. Namun sebenarnya, bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun demikian. Salah satu penelitian yang mendukung hal tersebut adalah penelitian dari Sandi Mann yang berjudul "Does Being Bored Make Us More Creative?" Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa ketika bosan ada kemungkinan seseorang mampu berpikir divergen dan berbeda.  


Bahkan Para peneliti di Irlandia pada tahun 2001 percaya bahwa kebosanan dapat menyebabkan kita untuk melakukan hal-hal altruistik. Dalam studi mereka mereka menemukan bahwa ketika kita bosan, kita kurang merasa bermakna dalam kegiatan dan keadaan kita saat itu. Hal tersebut memicu kita untuk mencari tempat lain untuk membangun kembali makna diri kita. Para peneliti menemukan bahwa kebosanan membuat orang lebih mungkin untuk terlibat dalam perilaku prososial seperti menyumbangkan untuk amal dan mendaftar untuk donor darah untuk membantu kembali membangun-perasaan diri makna.