Catatan Selepas Positive Youth Project 2016 - IndoPositive

Breaking

Tuesday, May 3, 2016

Catatan Selepas Positive Youth Project 2016

INDOPOSITIVE.org ─ Tiga hari bersama 25 orang adik-adik SMA se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Melalui kegiatan yang telah kami gagas beberapa bulan sebelumnya, pada akhirnya tanggal 29 April hingga 1 Mei pun kegiatan kami pun berjalan, Positive Youth Project 2016. Saya menulis catatan ini beberapa saat setelah tiba di rumah. Kami meninggalkan lokasi ATKP pada pukul lima sore setelah tiga orang peserta asal Pinrang dijemput oleh mobil yang mereka sewa. Mereka bertiga telah menunggu beberapa jam, panitia menghabiskan waktu dengan bermain game dan membicarakan beberapa hal sederhana dalam kehidupan sehari - hari.

Peserta bersama Kak Ridwan selepas berbagi inspirasi.

Saya yang lahir di Pinrang, selalu merasa senang ketika mendengar dialek yang sudah lama tak saya dengarkan. Saya hanya sekadar lahir di sana dan kemudian pindah ke Soppeng. Mungkin, tidak lama lagi saya akan kembali menjenguk tiga kawan saya itu dengan program sosial yang mereka rancang dan jalankan. Entah mengapa, saya yang tak mudah percaya pada hal - hal seperti itu, tapi kemudian saya perlahan berubah. Peserta sebanyak 25 orang itu mungkin merasa bahwa kegiatan ini menjadi tempat mereka belajar dari berbagai materi yang disediakan. Akan tetapi, kami pun sebenarnya belajar akan semangat mereka.
*
Dua paragraf di atas terhenti saat saya tak lagi mampu menahan kantuk. Sepulang kegiatan, saya makan dan kemudian membaca beberapa halaman saja. Menulis dua paragraf saja, kemudian tertidur hingga saya terbangun pada pukul empat subuh. Saya yakin kondisi tubuh ini mulai kelelahan. Namun secara psikis, saya merasakan hal yang berbeda. Saya merasa lebih bersemangat, kurang peduli dengan kondisi tubuh (meski pun saya merasa berdosa karena kurang memberikan hak pada tubuh saya beberapa hari belakangan ini). Tapi, dengan apa yang saya temukan pada 25 orang peserta itu, saya belajar untuk jauh lebih kuat.

Bukan hanya dari peserta, tapi juga dari tim kegiatan ini yang totalnya berjumlah 15 orang. “Totalitas mengalahkan kuantitas” kata salah seorang dari mereka. Saya tentu saja setuju, sebab mereka benar-benar membuktikan pernyataan itu. Sehari setelah kegiatan berlangsung (hari ketika saya melanjutkan tulisan ini), melalui grup facebook dan line, satu demi satu mulai memperlihatkan langkah yang mereka pilih. Mereka merancang dan menjalankan program yang diceritakan pada saat kegiatan tiga hari kemarin. Mengirimkan foto, cerita, dan tetap berbagi semangat.

Persiapan sebelum outbound di hari terakhir.


Terlalu dini untuk mengatakan jika kegiatan ini berhasil. Namun, saya tetap saja optimis. Mereka yang akan menentukan keberhasilan ini secara utuh. Jika selama ini saya mengutuk perilaku anak SMA yang mulai hancur karena pengaruh kondisi kekinian, saya pun dipertemukan 25 orang itu. Mereka membawa kekuatannya masing-masing, yang perlahan membuat saya paham, jika kita masih selalu punya kesempatan untuk lebih baik.  Mereka menolak keras keyakinan saya akan citra pelajar yang tak lagi peduli dengan sesama.
*
Acara hanya berlangsung tiga hari, namun sebenarnya tiga hari itu adalah awal. Mereka punya tekad, dan saya anggap mereka akan menjadi titik demi titik dalam menciptakan garis perubahan baru di lingkungannya. Di hari kedua, saya berterima kasih kepada kak Ridwan. Beliau telah memberikan pengaruh dan gambaran semangat tulus dalam mengabdi dan bentuk peduli yang luar biasa. Seorang peserta bahkan mengatakan, “Kak Ridwan seperti malaikat!”

Kami juga mengundang Pak Nurdin sebagai sosok pemimpin yang telah memberikan pengaruh di Sulawesi Selatan, namun sayangnya beliau harus menunaikan salah satu kewajibannya di luar kota. Semoga di kegiatan selanjutnya, akan ada banyak sosok yang mampu memberi penguatan terhadap semangat untuk peduli. Ada Kak Aslan Abidin yang telah membuka paradigma mereka untuk mulai rajin membaca.

Salah seorang peserta dari daerah, sebelum pulang memutuskan untuk mampir di salah satu toko buku yang ada di dalam pusat perbelanjaan. Ia kemudian membeli beberapa buku, ia mulai menentukan target baca dan usaha untuk menjadi lebih baik. Kak Aslan juga mengenalkan Borges kepada mereka. Ia atau mereka, tidak akan masuk dalam pernyataan Jorge Luis Borges, “Kebodohan itu Massal”. Mereka siap untuk belajar dan berbuat lebih baik.

*
Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Program ini masih berlanjut, dan akan selalu ada. Demi mereka yang tetap percaya, bahwa kebaikan akan selalu punya tempat hingga pada akhirnya memilih untuk menjadi bagian dari kami. Kegiatan ini punya banyak kekurangan, namun ini layak untuk tetap diperjuangkan. Kami sendiri pun berharap kegiatan ini akan menjadi agenda tahunan.






Saya mendengarkan lagu “Tanah Airku” dan mengingatkan saya pada hari terakhir kami di lokasi kegiatan. Saat itu, saya tak mampu menahan air mata lalu memilih meneteskannya. Beberapa peserta melakukan hal yang sama. Semua itu bukan karena kami sedih, tapi kami sedang merasakan keresahan bercampur kerinduan untuk melihat ibu pertiwi kembali jaya dan selalu ada di dalam hati kita masing - masing. Dan kita bukanlah sebatas perkataan, melainkan juga perbuatan. Selamat berbuat dan bermanfaat!  

*Wawan Kurniawan, Kordinator Tim Positive Youth Project.