Mimpi Yang Nyata - IndoPositive

Breaking

Wednesday, December 11, 2013

Mimpi Yang Nyata


Aku ingin berbagi, tapi sesungguhnya yang aku bagikan adalah hal-hal yang menyenangkan. O, tentu saja hal ini adalah momen yang memberiku kesan bahagia. Mungkin beberapa dari kita enggan membacanya karena ini adalah pengalaman pribadi seseorang. Tapi, aku yakin akan ada beberapa yang suka membaca sebuah momen tentang mimpi yang begitu nyata.

Aku, ya, manusiawi, suka dengan seseorang. Tahu kan rasanya kalau sedang suka dengan seseorang? Ya, tentu saja lawan jenis. Pasti menyenangkan. Kau tahu, bagiku dia bagaikan apa ya? Entahlah, pokoknya dia itu menyenangkan. Tapi berjumpa dengannya hanya terjadi beberapa saat. Sialnya aku terjebak oleh tatapan matanya.

Pertemuan itu hanya beberapa kali, hingga aku tak berani meyakinkan perasaanku. Entah mengapa, di pertemuan pertama itu aku seperti biasa saja –rileks; tepat saat meminta nomor handphonenya. Aku mengenalnya lebih banyak melalui teman-temannya, bukan dari dia sendiri. Ya, meskipun kadang aku berbicara dengannya tapi rasanya itu tak cukup. Dia terlihat jaim.

Jadi kebahagiaan itu rasanya seperti permen karet yang awalnya manis, lama kelamaan rasanya memudar tapi wujudnya tetap ada. Nah, di kehidupan sehari-hariku, perasaan suka kepada dia semakin memudar. Tapi dia tetap ada di kehidupan ini. Parahnya, aku adalah laki-laki. Ya, kau tahu, perempuan sangat pandai menyembunyikan sesuatu ketimbang laki-laki. Itulah yang menyebabkan aku mulai mengurungkan niat mengenal dia lebih banyak. Toh, dia tak mau terbuka kepadaku.

Tapi, aku merasa diteliti oleh dia ketika aku mendapatkan pesan singkat seperti ini:
“Blog kamu itu seperti menyembunyikan sesuatu.”, tegurnya di pesan pertama
Aku penasaran dan balik bertanya,”maksudnya?”
“Ya, kamu sepertinya suka dengan seseorang tapi entahlah.”, balasnya
“O, dalam tulisanku, aku kadang-kadang menjelma menjadi orang lain.”, jawabku –sambil berpura-pura menjadi wanita.
Menjadi wanita, itu sulit. Rasanya memang melanggar hukum. Ya, yang kumaksud disini adalah “mencoba menyembunyikan sesuatu” –bukan memakai daster berwarna ungu di malam hari. Kau tahu, rasanya aneh saja, tiba-tiba mendapat pesan dari seseorang yang kita sukai. Tapi dia mencoba mencari tahu tentang kita lewat tulisan yang telah kita ukir. Aku merasa tidak pantas ketika berhenti berharap sampai disini. Mengapa dia mencoba mencari tahu aku lewat tulisan-tulisan itu? Ya, itu pertanyaan besar bagiku. Padahal sesungguhnya itu adalah blog pribadi milikku.
Nah, dari beberapa peristiwa yang membuatku merasa diteliti oleh perempuan itu, aku mulai bermimpi. Tiga hari yang lalu, setelah berbicara dengan dia di telepon, aku bermimpi dia sedang tampil dengan tarian khas daerah. Nah, tadi malam, aku bermimpi dia datang ke kampusku. Dia mencariku, dan kau tahu, dia benar-benar nyata dalam mimpiku. Rasanya aku tak ingin bangun. Ya, mungkin mimpi tak seringkas itu. Tapi paling tidak, seperti itulah mimpi yang mewarnai tidurku.
Setelah tersadar, ternyata aku mendapat pesan dari dia,”sudah bangun?”
Ya aku balas saja,”aku telat bangun, karena mimpinya seru. hehehe”
Mungkin tulisan ini terlihat labil, tapi begitulah adanya. Perasaan bahagia yang aku alami memang seperti ini. Tapi, kebahagiaan yang aku rasakan belum berhenti sampai di sms tentang blogku. Dia, ternyata benar-benar suka dengan tulisan-tulisanku. Dia pecinta tulisan, ya, apa salahnya aku menulis untuk dia? Walaupun sesungguhnya tulisan adalah bahasa untuk diri sendiri. Dan kau mulai mencoba menulis tentang dia lebih banyak. Dia juga ternyata bermimpi tentang aku. Dia enggan menceritakan semuanya sebelum aku yang memulai. O, iya, dia juga memang seseorang yang gemar menari.
Semua yang ada di mimpiku adalah nyata. Agaknya, aku salah ketika harus melawan takdir sebagai laki-laki. Apapun yang terjadi, aku harus menjadi seperti ini –tidak sok menyembunyikan sesuatu lagi jika itu benar-benar membahagiakan. Ya, kebahagiaan ini harus aku bagi.
Ya, sekali lagi, semua benar-benar nyata di mimpi itu. Aku merasa mimpi adalah jembatan yang dapat menghubungkanku dengan dia lebih dekat. Juga membuatku kenal dengan dia lebih banyak. O, iya, kelihatannya dia terkesan dengan pertemuan kala itu. Jujur saja, aku memang terkesan, dan aku tak tahu apa penyebabnya.

Entah apa yang menarik dari diriku ini? Aku belum tahu, tapi mungkin dia memiliki cukup informasi untuk menyimpulkan bahwa aku ini “sesuatu”. Mungkin semua ini hanya khayalanku saja. Tapi kita semua lebih baik yakin, bahwa diri kita jauh lebih menarik dari apa yang kita bayangkan. Kebahagiaan, keberhasilan, ketenangan, rasa menarik, dan yang lainnya, itu seperti hantu, dia benar-benar terasa nyata jika kita memikirkannya. Be Positive.


_____
*A.Fahrul Syarif, Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar